Ancaman Inflasi Meningkat, Jaga Stabilitas Rupiah

Bisnis3 Dilihat

DermayuMagz.com – Lembaga kajian kebijakan, Prasasti Center for Policy Studies, menyarankan agar pemerintah memperkuat langkah-langkah dalam menjaga pasokan pangan dan stabilitas nilai tukar rupiah. Hal ini penting untuk mengantisipasi risiko membengkaknya inflasi, terutama setelah laju kenaikan harga tercatat melampaui angka 3 persen pada Mei 2026.

Menurut Halim Alamsyah, Anggota Dewan Pakar Prasasti sekaligus mantan Deputi Gubernur Bank Indonesia, kenaikan inflasi yang terjadi saat ini memerlukan penanganan yang cepat dan tepat. Kondisi ini diperparah dengan adanya pelemahan nilai tukar rupiah dan meningkatnya ketidakpastian di kancah ekonomi global.

“Kecenderungan naiknya tekanan inflasi serta menipisnya surplus dagang adalah sinyal yang perlu dicermati dan ditangani secara cepat dan tepat,” ujar Halim seperti dikutip dari Antara pada Sabtu, 6 Juni 2026.

Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa inflasi tahunan (year on year/yoy) pada Mei 2026 mencapai 3,08 persen. Angka ini mengalami peningkatan dibandingkan dengan bulan sebelumnya, April 2026, yang tercatat sebesar 2,42 persen.

Halim menjelaskan bahwa tekanan inflasi yang terjadi saat ini tidak hanya disebabkan oleh faktor pasokan pangan. Depresiasi nilai tukar rupiah juga turut berkontribusi, yang berpotensi menaikkan harga barang-barang impor serta biaya produksi.

Oleh karena itu, Halim menekankan pentingnya koordinasi yang lebih erat antara otoritas moneter, fiskal, dan sektor keuangan dalam upaya pengendalian inflasi dan menjaga stabilitas nilai tukar.

“Strategi pemerintah untuk terus mendorong kegiatan ekonomi akan diuji oleh pasar melalui kemampuan pemerintah dan Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas rupiah dan inflasi,” tegasnya.

Ia menambahkan bahwa langkah-langkah untuk meningkatkan pasokan devisa dari dalam negeri serta menjaga kredibilitas kebijakan merupakan faktor krusial untuk meredam ketidakpastian ekonomi yang ada.

Kondisi Inflasi Saat Ini

Sementara itu, Piter Abdullah, Policy and Program Director Prasasti, mengemukakan bahwa inflasi saat ini masih sangat dipengaruhi oleh komponen harga barang bergejolak atau volatile food. Komoditas seperti cabai merah, tomat, dan bawang merah menjadi penyumbang utama, yang harganya sangat bergantung pada faktor cuaca dan ketersediaan pasokan.

“Inflasi inti kita sendiri tetap rendah. Jadi tekanan harga yang sekarang muncul sifatnya sementara, bukan struktural,” jelas Piter.

Berdasarkan data BPS, cabai merah tercatat sebagai penyumbang inflasi terbesar dengan kenaikan harga mencapai 25,64 persen. Diikuti oleh tomat dengan kenaikan harga 9,82 persen, dan bawang merah sebesar 6,65 persen.

Prasasti berharap pemerintah dapat bertindak cepat dalam mengantisipasi berlanjutnya tekanan inflasi. Hal ini penting agar tidak mempersempit ruang gerak pemerintah dalam mendorong pertumbuhan ekonomi, terutama di tengah kondisi pelemahan rupiah dan ketidakpastian global yang masih tinggi.

Stabilisasi Harga Pangan

Oleh karena itu, stabilisasi harga pangan, penguatan pasokan dari dalam negeri, serta upaya menjaga kepercayaan terhadap rupiah dinilai sebagai langkah-langkah fundamental. Hal ini bertujuan agar tekanan inflasi tidak berkembang menjadi risiko yang lebih besar bagi perekonomian nasional.

Di sisi lain, Prasasti memberikan apresiasi terhadap kinerja ekspor Indonesia yang menunjukkan hasil yang cukup menggembirakan. Data BPS mencatat bahwa total ekspor Indonesia pada periode Januari hingga April 2026 mencapai US$ 92,15 miliar. Angka ini menunjukkan pertumbuhan sebesar 5,48 persen secara tahunan (year-on-year), dengan lonjakan signifikan sebesar 21,98 persen tercatat pada bulan April.

Kenaikan kinerja ekspor ini didukung oleh produk-produk dari industri pengolahan, serta produk hilirisasi seperti nikel olahan yang diekspor ke Tiongkok dan minyak sawit mentah (CPO).