Pemerintah Berupaya Stabilkan Nilai Tukar Rupiah

Bisnis3 Dilihat

DermayuMagz.com – Pemerintah secara tegas menyatakan komitmennya dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing, terutama dolar Amerika Serikat. Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi memastikan bahwa upaya mitigasi terhadap pelemahan rupiah terus dilakukan secara intensif dan bukan sekadar reaktif terhadap kondisi pasar.

Prasetyo Hadi menjelaskan bahwa pemerintah, melalui otoritas ekonomi terkait, secara rutin menggelar pertemuan untuk membahas berbagai strategi. Diskusi ini dilakukan secara berkelanjutan, tidak hanya ketika rupiah menunjukkan pelemahan yang signifikan.

“Lho, kita rapatnya intens. Pertemuan antara pelaku-pelaku otoritas ekonomi itu intens,” ujar Prasetyo di Kompleks DPR RI, Sabtu (06/06/2026).

Menanggapi kekhawatiran publik mengenai penguatan dolar AS yang terus berlanjut dan potensi pelemahan rupiah yang lebih dalam, Prasetyo menekankan bahwa koordinasi yang dilakukan merupakan bagian dari upaya menjaga fundamental ekonomi nasional.

Ia menambahkan bahwa komunikasi yang intens antara para pemangku kepentingan ekonomi menunjukkan keseriusan pemerintah dalam menangani isu ini. Meskipun hasil yang diharapkan belum sepenuhnya tercapai, upaya tersebut tidak pernah berhenti.

“Ya kan ya bukan berarti kalau kemudian komunikasi intens terus belum menghasilkan seperti yang kita harapkan, kemudian kita tidak ada komunikasi kan enggak begitu juga,” jelasnya.

Prasetyo juga menggarisbawahi bahwa pergerakan nilai tukar mata uang dipengaruhi oleh berbagai faktor yang kompleks. Hal ini mencakup dinamika ekonomi domestik maupun global, sehingga penanganannya memerlukan pendekatan yang holistik dan terintegrasi.

“Ini kan semua bagian dari upaya. Naiknya nilai tukar Rupiah itu kan tidak hanya dipengaruhi oleh satu faktor, faktor variabelnya juga banyak gitu,” terangnya.

Dalam konteks menjaga kekuatan mata uang rupiah, pemerintah juga menyoroti pentingnya kemandirian ekonomi. Ketergantungan yang tinggi pada barang impor dinilai masih menjadi salah satu tantangan yang perlu diatasi untuk memperkuat fondasi ekonomi negara.

“Termasuk yang tadi saya sampaikan tadi, itu juga bagian dari yang mempengaruhi juga. Kemandirian kita secara ekonomi itu juga mempengaruhi kekuatan mata uang kita gitu. Ada beberapa yang masih ketergantungan impor itu juga akan mempengaruhi. Makanya ini tidak bisa berdiri sendiri begitu loh,” papar Prasetyo.

Oleh karena itu, penguatan sinergi antara otoritas fiskal dan moneter dianggap sebagai langkah krusial dalam menghadapi tekanan terhadap rupiah. Kerja sama yang erat antarlembaga ekonomi diharapkan dapat menghasilkan respons kebijakan yang lebih efektif dan terukur.

“Nah sehingga yang dibutuhkan sekarang tentu kerja sama apalagi otoritas yang berkaitan dengan masalah ekonomi baik moneter maupun fiskal. Begitu,” tutupnya.