Indonesia Pertama Terapkan Teknologi Adepidyn untuk Padi

Bisnis5 Dilihat

DermayuMagz.com – Syngenta Indonesia telah memperkenalkan fungisida terbarunya untuk tanaman padi, yang menggunakan teknologi Adepidyn. Inisiatif ini merupakan bagian dari upaya perusahaan untuk mendukung program swasembada pangan, khususnya dalam produksi beras di Indonesia.

Presiden Direktur Syngenta Indonesia, Eryanto, menjelaskan bahwa fungisida bernama Miravis Duo ini dirancang khusus untuk memenuhi kebutuhan para petani. Fungisida ini menawarkan solusi pengendalian penyakit yang efektif dan dapat diandalkan.

Selain itu, produk ini diklaim mampu memberikan perlindungan yang kuat dan konsisten terhadap tanaman padi. Hal ini berkontribusi pada menjaga kesehatan tanaman, membuatnya lebih hijau, bersih, dan pada akhirnya mendukung potensi hasil panen yang lebih optimal.

Teknologi Adepidyn sendiri dikenal memiliki keunggulan dalam ketahanan terhadap hujan. Perlindungan yang diberikan diklaim dapat bertahan hingga 14 hari setelah aplikasi, menjadikannya solusi yang praktis bagi petani.

Peluncuran produk fungisida inovatif ini dilakukan di Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah. Menurut Eryanto, momen ini menjadi pencapaian penting karena Indonesia menjadi negara pertama yang mengaplikasikan teknologi Adepidyn secara spesifik untuk budidaya padi.

Eryanto menambahkan bahwa peluncuran ini mencerminkan komitmen Syngenta Indonesia. Perusahaan berupaya membantu petani dalam meningkatkan hasil panen mereka untuk mendapatkan keuntungan yang maksimal.

Lebih lanjut, Syngenta Indonesia juga berkomitmen untuk terus mempercepat inovasi teknologi fungisida yang sesuai dengan kebutuhan aktual para petani. Kolaborasi yang kuat juga ditekankan agar teknologi pertanian dapat dimanfaatkan secara optimal sesuai rekomendasi.

Tujuannya adalah untuk mencapai hasil panen yang optimal dan berkelanjutan. Setelah peluncuran di Cilacap, produk fungisida padi ini rencananya akan segera diperkenalkan di berbagai wilayah sentra produksi beras lainnya di Indonesia.

Langkah ini diharapkan dapat semakin memperkuat ketahanan pangan nasional dan mendukung program swasembada beras.

Kepala Bidang Tanaman Pangan Dinas Pertanian Kabupaten Cilacap, Cicik Setyorini, menyambut baik pengenalan fungisida baru ini. Ia menyatakan bahwa inovasi ini sejalan dengan upaya pemerintah daerah untuk meningkatkan produktivitas dan memperkuat sektor budidaya padi.

Cicik Setyorini mengapresiasi solusi perlindungan tanaman yang ditawarkan. Ia menilai produk ini dapat membantu petani dalam mengelola risiko penyakit, terutama mengingat kondisi cuaca yang semakin sulit diprediksi belakangan ini.

Pihak Dinas Pertanian Cilacap berharap agar teknologi seperti fungisida berbasis Adepidyn ini dapat diadopsi dengan bijak. Penggunaan yang tepat sesuai rekomendasi diharapkan dapat terus meningkatkan produktivitas dan kualitas panen padi di wilayah mereka.

Kabupaten Cilacap sendiri dikenal sebagai salah satu daerah penghasil padi terbesar di Jawa dan bahkan di Indonesia. Data menunjukkan perkiraan produksi Gabah Kering Giling (GKG) mencapai 855.042 ton.

Pada tahun 2025, Cilacap berhasil mencatat surplus beras yang signifikan, melebihi 321 ribu ton. Angka ini menunjukkan peran penting wilayah tersebut dalam pasokan beras nasional.

Seorang petani padi dari Cilacap, Musodik, berbagi pengalamannya setelah mencoba teknologi fungisida baru ini. Ia mengamati bahwa tanaman padinya menunjukkan gabah yang sehat dan berkilau.

Selain itu, daun bendera pada tanaman padi miliknya terlihat lebih hijau dan bersih. Musodik juga melaporkan bahwa hasil panennya mengalami peningkatan dibandingkan dengan musim tanam sebelumnya.

Pengalaman positif dari petani seperti Musodik menjadi bukti nyata efektivitas teknologi Adepidyn dalam mendukung budidaya padi.

Penerapan teknologi inovatif ini diharapkan dapat terus berlanjut dan meluas ke seluruh wilayah pertanian padi di Indonesia.

Dengan demikian, Indonesia dapat semakin kokoh dalam mencapai ketahanan pangan dan swasembada beras yang berkelanjutan.