Tsunami Terdeteksi di Siau, Melonguane, dan Maluku Utara

News6 Dilihat

DermayuMagz.com – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan bahwa gelombang tsunami dengan ketinggian minor mulai terdeteksi di tiga lokasi berbeda pascagempa tektonik M 7,7 yang terjadi di Laut Sulawesi.

Tiga wilayah pesisir yang telah mencatat kedatangan gelombang tsunami tersebut adalah Ulu Siau dan Melonguane, keduanya berada di Sulawesi Utara, serta satu titik pantau di Maluku Utara.

Ketinggian gelombang yang terdeteksi ini berkisar antara 9 hingga 18 centimeter. Meskipun ketinggiannya masih tergolong minor, BMKG mengimbau masyarakat di wilayah terdampak untuk tetap waspada.

Deputi Bidang Geofisika BMKG, Nelly Florida Riama, menjelaskan bahwa peringatan dini tsunami telah dikeluarkan kurang dari 10 menit setelah gempa terjadi.

Gempa tektonik berkekuatan Magnitudo 7,7 ini berpusat di Laut Sulawesi pada Senin pagi, 8 Juni 2026, pukul 06.37 WIB.

Pusat gempa tercatat berada pada kedalaman 47 kilometer di sebelah barat laut Pulau Karatung, Sulawesi Utara, yang merupakan bagian dari sektor Mindanao, Filipina.

BMKG mengingatkan bahwa potensi puncak ketinggian gelombang tsunami di beberapa wilayah pesisir diprediksi masih dapat meningkat.

Estimasi pemodelan tsunami menunjukkan bahwa beberapa area berpotensi mengalami ketinggian gelombang yang masuk dalam status Siaga hingga Awas.

Oleh karena itu, masyarakat diimbau untuk tidak mengabaikan peringatan ini dan tetap mematuhi arahan evakuasi yang telah ditetapkan oleh pihak berwenang.

Nelly Florida Riama menekankan pentingnya kewaspadaan dan meminta masyarakat serta pemerintah daerah untuk terus memantau informasi terbaru dari BMKG.

“Kami meminta seluruh masyarakat untuk terus memantau atau mengikuti informasi yang diberikan oleh BMKG karena menurut pemodelan, ada beberapa wilayah yang dari sisi pemodelan akan siaga, tinggi tsunaminya berkisar antara Siaga dan juga Awas,” ujar Nelly.

BMKG bersama instansi terkait terus melakukan pemantauan secara ketat dan waktu nyata (real-time).

Pemantauan ini meliputi data pasang surut (tide gauge) dan sensor pemantau tsunami lainnya untuk memastikan keamanan wilayah pesisir di bagian utara dan timur Indonesia.

Langkah ini penting untuk memberikan informasi terkini dan akurat kepada masyarakat terkait perkembangan situasi pascagempa.

Masyarakat diimbau untuk selalu mengacu pada sumber informasi resmi dari BMKG dan tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi.