Agar Semua Selamat dari Bencana

News5 Dilihat

DermayuMagz.com – Lalu Ahmad Fatoni dan Sri Sukarni memiliki impian besar agar sesama penyandang disabilitas tidak tertinggal dalam kesiapsiagaan bencana. Mereka bertekad agar penyandang disabilitas tidak hanya menjadi penerima bantuan, tetapi juga mampu berkontribusi aktif dalam penanggulangan bencana.

Impian ini mulai terwujud melalui Unit Layanan Disabilitas (ULD) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). Fatoni dan Sri Sukarni kini terlibat langsung dalam setiap tahapan, mulai dari perencanaan hingga pelaksanaan upaya penanggulangan bencana yang lebih inklusif di NTB.

Pembentukan ULD BPBD NTB merupakan hasil kolaborasi dengan berbagai organisasi disabilitas di NTB, serta mendapat dukungan dari SIAP SIAGA, sebuah program kemitraan antara Australia dan Indonesia dalam manajemen risiko bencana.

“Dari proses awal ini kami dilibatkan, yang sebelumnya kami belum pernah dilibatkan sama sekali. Nah, kalau kami sudah dilibatkan dari proses awal, sampai perencanaan, sampai dengan eksekusi, tentu akan jauh lebih baik dibanding tidak dilibatkan sama sekali,” ujar Fatoni, yang kini menjabat sebagai Koordinator Bidang Data dan Informasi ULD BPBD NTB, pada Rabu (10/6/2026).

Fatoni menekankan bahwa keterlibatan penyandang disabilitas dalam program kesiapsiagaan bencana bukan sekadar formalitas. Ia menilai banyak kebijakan dan fasilitas publik yang dibuat dengan niat baik, namun belum sepenuhnya menjawab kebutuhan spesifik penyandang disabilitas.

Contohnya adalah guiding block atau ubin pemandu untuk tunanetra yang seringkali hanya terpasang di area taman. Selain itu, ramp kursi roda yang dibuat terlalu curam juga menyulitkan penggunaannya.

“Jadi, kami penting untuk dilibatkan dalam proses eksekusinya untuk mengawasi hal tersebut. Dan ini masih dalam proses kami untuk terus mengadvokasi pemerintah, terutama dalam hal tersebut,” jelasnya.

Dalam konteks kebencanaan, Fatoni menambahkan bahwa kebutuhan setiap ragam disabilitas sangat bervariasi. Ia memberi contoh penyandang disabilitas tunarungu yang tidak akan bisa menerima peringatan bencana jika hanya mengandalkan sirene atau pengeras suara.

“Kalau pakai sirene, apa yang bisa membuat teman-teman tuli aware? Itu kan harus dipikirkan sampai ke sana,” tegasnya.

Disabilitas Punya Jaringan

Sementara itu, Sekretaris ULD BPBD NTB sekaligus Ketua Himpunan Wanita Disabilitas Indonesia (HWDI) NTB, Sri Sukarni, mengungkapkan bahwa kelompok disabilitas sebenarnya telah memiliki jaringan yang kuat hingga ke tingkat desa. Jaringan ini seringkali menjadi sumber informasi pertama ketika bencana terjadi, bahkan sebelum laporan resmi diterima oleh pemerintah.

“Jadi ketika terjadi bencana, misalnya seperti yang ditanyakan tadi, ketika terjadi bencana banjir atau apa di desa, kita sudah komunikasi. Belum sampai ke BPBD, sudah sampai ke kami duluan,” ungkap Sri.

Sebagai pengguna kursi roda, Sri menyoroti bahwa tantangan bagi penyandang disabilitas saat bencana tidak hanya berhenti pada proses evakuasi. Ia seringkali menyaksikan bahwa yang diselamatkan hanyalah orangnya, sementara alat bantu seperti kursi roda atau tongkat tertinggal.

“Kadang kan ketika bencana itu, yang dibantu adalah orangnya saja, tetapi kursi roda dan alat bantu itu tertinggal. Jadi ketika di pengungsian, kami tidak bisa mengakses (beraktivitas),” keluh Sri.

Ia juga menyoroti kebutuhan khusus perempuan penyandang disabilitas yang kerap terabaikan saat masa tanggap darurat. Menurut Sri, perempuan disabilitas menghadapi kerentanan berlapis saat bencana, sehingga kebutuhan mereka perlu diidentifikasi secara cermat sejak sebelum bencana terjadi.

Meskipun ULD baru beroperasi sekitar satu tahun, Sri tetap optimistis bahwa organisasi yang menghimpun sepuluh organisasi disabilitas ini akan terus berkembang. Ia mengakui bahwa perjalanan membangun sistem kebencanaan yang inklusif memang panjang, namun langkah awal yang signifikan telah dimulai.

“Ini adalah SDM kami yang akan membuat ULD ini nanti berkembang, yang akan membuat ULD ini insyaallah akan maju ke depan dalam tahun-tahun yang akan datang. Gitu, seperti bayi yang baru belajar merangkak, lalu berlari, dan dewasa,” pungkas Sri.