Kenaikan Biaya Logistik Akibat Perubahan Harga Pertamax

Bisnis4 Dilihat

DermayuMagz.com – Penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertamax menimbulkan kekhawatiran di kalangan pelaku usaha, terutama terkait potensi peningkatan biaya operasional di sektor logistik.

Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menyatakan bahwa kenaikan harga BBM non-subsidi ini dapat memberikan beban ganda bagi dunia usaha dan masyarakat. Dampak paling terasa diperkirakan akan terjadi pada biaya operasional.

Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Otonomi Daerah, Sarman Simanjorang, mengungkapkan bahwa kenaikan harga BBM non-subsidi akan membebani semua tingkatan usaha, mulai dari perusahaan besar hingga Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).

“Bagi dunia usaha akan semakin menambah beban operasional dan semua sektor usaha mulai dari kelas besar sampai UMKM Mikro akan merasakan dampak kenaikan BBM Non Subsidi ini,” kata Sarman saat dihubungi Liputan6.com, Rabu (10/6/2026).

Pertamax, yang sebelumnya dijual Rp 12.300 per liter, kini mengalami kenaikan menjadi Rp 16.250 per liter. Kenaikan hampir Rp 4.000 per liter ini dinilai Sarman akan langsung berimbas pada biaya operasional, khususnya pada sektor logistik dan distribusi.

Sektor usaha jasa angkutan dan UMKM diprediksi akan menjadi pihak yang paling merasakan dampak dari penyesuaian harga Pertamax ini. Peningkatan biaya operasional tersebut dikhawatirkan akan semakin menekan margin keuntungan pengusaha, yang pada akhirnya dapat mendorong mereka untuk menaikkan harga produk mereka.

“Kenaikan biaya logistik, dan biaya operasional akan mempengaruhi harga ditingkat konsumen. Karena pelaku usaha dalam memenuhi kebutuhan BBM nya banyak mempergunakan non subsidi,” tutur Sarman.

Harga Pertamax Naik

Sebelumnya, Pertamina Patra Niaga telah mengumumkan kenaikan harga jual BBM non-subsidi, termasuk Pertamax dan Pertamax Green, yang berlaku mulai 10 Juni 2026. Harga Pertamax (RON 92) naik dari Rp 12.300 per liter menjadi Rp 16.250 per liter.

Sementara itu, Pertamax Green 95 (RON 95) mengalami penyesuaian dari Rp 12.900 per liter menjadi Rp 17.000 per liter. Penyesuaian harga ini dilakukan setelah melalui evaluasi berkala yang memperhitungkan perkembangan harga minyak dunia dan kondisi pasar.

Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth MV Dumatubun, menjelaskan bahwa penyesuaian harga BBM non-subsidi ini sesuai dengan regulasi yang berlaku. Tindakan ini merupakan bagian dari upaya pengelolaan energi yang bertujuan untuk menyeimbangkan keberlangsungan bisnis, kualitas layanan, dan ketersediaan pasokan energi bagi masyarakat.

“Penyesuaian harga Pertamax dan Pertamax Green dilakukan setelah melalui proses evaluasi sesuai formula harga yang ditetapkan pemerintah. Harga jual tersebut diputuskan dengan tetap dikoordinasikan dengan pemerintah sebagai regulator, dan menjadi bagian dari upaya menjaga keberlanjutan penyediaan energi dan distribusi BBM berkualitas bagi masyarakat terus berjalan optimal,” ujar Roberth di Jakarta, Selasa (9/6/2026).

Pastikan Stok BBM Tersedia

Pertamina Patra Niaga menegaskan komitmennya untuk menjaga ketersediaan dan kualitas produk BBM di seluruh wilayah Indonesia. Mereka juga memastikan pelayanan kepada masyarakat tetap berjalan optimal.

“Kami memastikan pasokan Pertamax dan Pertamax Green tetap aman serta tersedia di jaringan SPBU Pertamina. Masyarakat dapat memperoleh informasi harga BBM terbaru melalui kanal resmi Pertamina, Pertamina Patra Niaga, maupun aplikasi MyPertamina,” jelasnya.

BBM Subsidi Tidak Naik

Perlu dicatat bahwa harga BBM bersubsidi, yaitu Pertalite dan Biosolar, tidak mengalami perubahan. Pertamina tetap menjual Pertalite seharga Rp 10.000 per liter dan Biosolar Rp 6.800 per liter.

Berikut adalah daftar harga BBM retail non-subsidi di SPBU per 10 Juni 2026:

  • Pertamax Series
    • Pertamax (RON 92): dari Rp 12.300/liter menjadi Rp 16.250/liter
    • Pertamax Green 95 (RON 95): dari Rp 12.900/liter menjadi Rp 17.000/liter
    • Pertamax Turbo (RON 98): Rp 20.750/liter (tetap)
  • Dex Series
    • Dexlite (CN 51): Rp 23.000/liter (tetap)
    • Pertamina Dex (CN 53): Rp 24.800/liter (tetap)