Aktivitas di Selat Hormuz Naik, Harga Minyak Terus Melorot

Bisnis3 Dilihat

DermayuMagz.com – Harga minyak dunia mengalami penurunan pada penutupan perdagangan Selasa (Rabu waktu Jakarta). Penurunan ini dipicu oleh pernyataan Menteri Energi Amerika Serikat, Chris Wright, yang menyebutkan adanya peningkatan signifikan dalam lalu lintas kapal melalui Selat Hormuz.

Peningkatan aktivitas di jalur pelayaran strategis tersebut memberikan harapan kepada pasar bahwa potensi gangguan pasokan minyak global mungkin akan segera mereda.

Kontrak minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat tercatat melemah 3,4% dan berakhir di level US$ 88,20 per barel. Sementara itu, minyak mentah Brent, yang menjadi tolok ukur harga minyak internasional, juga mengalami koreksi sebesar 2,97% dan ditutup pada angka US$ 91,45 per barel.

Informasi mengenai peningkatan lalu lintas di Selat Hormuz ini disampaikan oleh Wright dalam sebuah wawancara dengan CNBC di sela-sela Atlantic Council Global Energy Forum. Ia mengungkapkan bahwa arus ekspor minyak melalui selat tersebut menunjukkan peningkatan yang cukup berarti dan diperkirakan akan terus bertambah.

Meskipun demikian, Wright tidak memberikan rincian spesifik mengenai angka pasti peningkatan volume minyak yang melintasi Selat Hormuz.

Penurunan harga minyak ini terjadi meskipun sebelumnya Presiden Amerika Serikat Donald Trump sempat melontarkan tuduhan bahwa Iran telah menembak jatuh helikopter Apache milik AS. Helikopter tersebut diketahui sedang dalam misi patroli di kawasan sekitar Selat Hormuz.

Trump mengonfirmasi bahwa kedua pilot helikopter tersebut berhasil selamat dan tidak mengalami cedera. Namun, ia menekankan bahwa Amerika Serikat perlu memberikan respons yang tegas atas insiden tersebut.

Arus Minyak Hormuz Mulai Pulih

Analisis dari JPMorgan, yang dirilis dalam catatan riset tertanggal 4 Juni, mengindikasikan bahwa volume minyak yang mengalir melalui Selat Hormuz kemungkinan lebih besar daripada yang terlihat di publik.

Bank investasi tersebut melaporkan bahwa Angkatan Laut Amerika Serikat telah secara diam-diam melakukan koordinasi dengan sejumlah kapal tanker yang berupaya meninggalkan kawasan Teluk Persia.

Berdasarkan estimasi JPMorgan, diperkirakan sekitar 2 juta barel minyak per hari berhasil keluar melalui kapal tanker yang memilih untuk menonaktifkan transponder atau sistem pelacak mereka.

Dalam laporannya, analis JPMorgan menyatakan, “Terlepas dari blokade laut yang masih berlangsung dan penurunan tajam lalu lintas komersial, volume minyak mentah dan produk petroleum yang melintasi Selat Hormuz ternyata masih cukup besar.”

Temuan ini memberikan sinyal positif bahwa pasokan minyak global belum sepenuhnya terhenti, meskipun kawasan tersebut masih diliputi oleh ketegangan geopolitik.

Harapan Kesepakatan dengan Iran

Di sisi lain, Presiden Donald Trump terus berupaya meyakinkan pasar bahwa sebuah kesepakatan dengan Teheran untuk membuka kembali akses pelayaran di Selat Hormuz dapat segera tercapai.

Pada hari Senin, Trump sempat menyatakan bahwa kesepakatan tersebut mungkin hanya berjarak “dua atau tiga hari lagi”. Namun, hingga berita ini diturunkan, kesepakatan resmi belum terwujud.

Pemerintah Amerika Serikat secara konsisten menyatakan bahwa pembicaraan dengan Iran terus berjalan, meskipun situasi keamanan di kawasan tersebut masih sangat rentan.

Gencatan senjata yang telah diberlakukan sejak bulan April lalu nyaris runtuh pada pekan ini. Hal ini terjadi setelah Iran melancarkan serangan rudal ke Israel sebagai balasan atas serangan Israel di Lebanon.

Israel kemudian membalas dengan melancarkan serangan terhadap sejumlah target di Iran. Dilaporkan bahwa Trump turut memberikan tekanan kepada Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu untuk tidak melakukan eskalasi serangan lebih lanjut.

Meskipun sempat memicu lonjakan harga minyak pada awal pekan, aksi saling serang antara kedua negara tersebut sejauh ini belum berkembang menjadi konflik yang lebih besar. Baik Iran maupun Israel sama-sama mengindikasikan telah menghentikan serangan.

Pasokan Global Masih Ditopang Cadangan Minyak

Harga minyak dunia diketahui telah mengalami lonjakan sekitar 30% sejak Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada tanggal 28 Februari lalu.

Sebagai tindakan balasan, Iran menyerang kapal tanker yang melintasi Selat Hormuz dan juga memasang ranjau di jalur pelayaran tersebut. Peristiwa ini menyebabkan lalu lintas kapal di Hormuz anjlok secara drastis dan memicu gangguan pasokan minyak terbesar dalam sejarah modern.

Pemerintahan Trump juga terus meningkatkan tekanan terhadap Teheran melalui blokade laut yang menargetkan pelabuhan dan kapal-kapal Iran, dengan tujuan memaksa tercapainya sebuah kesepakatan.

Namun demikian, sejumlah pelaku industri energi dan analis berpendapat bahwa harga minyak belum melonjak setinggi yang diperkirakan. Hal ini disebabkan oleh masih tersedianya cadangan minyak global yang cukup besar untuk menopang pasar.

Meskipun demikian, mereka mengingatkan bahwa risiko kenaikan harga minyak masih terbuka lebar, terutama pada paruh kedua tahun ini. Seiring dengan berkurangnya cadangan minyak dunia dan meningkatnya permintaan selama musim panas di belahan bumi utara, tekanan terhadap pasokan minyak diperkirakan akan semakin besar.

Kondisi tersebut berpotensi kembali mendorong harga minyak dunia untuk naik apabila situasi geopolitik di Timur Tengah belum sepenuhnya stabil.