Perkuat Pompanisasi untuk Antisipasi Kemarau Ekstrem 2026

Berita6 Views

DermayuMagz.com – Pemerintah Kabupaten Lamongan mengambil langkah proaktif dalam mengantisipasi potensi kemarau ekstrem pada tahun 2026, demi menjaga keberlanjutan swasembada pangan daerah.

Fokus utama kegiatan ini adalah penguatan sistem pompanisasi dan irigasi. Upaya ini dipandang krusial untuk menghadapi tantangan perubahan iklim yang diprediksi akan memberikan dampak signifikan pada sektor pertanian.

Penegasan komitmen tersebut datang langsung dari Bupati Lamongan, Yuhronur Efendi. Ia secara langsung mendampingi kunjungan Direktur Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian, Tin Latifah, dalam sebuah tinjauan lapangan ke Embung Sumengko.

Lokasi peninjauan berada di Desa Tambakmenjangan, Kecamatan Sarirejo, pada hari Selasa, 28 April 2026. Kunjungan ini bertujuan untuk memastikan kesiapan infrastruktur dan sistem yang ada dalam menghadapi musim kemarau yang diperkirakan akan cukup menantang.

Bupati Yuhronur Efendi, yang akrab disapa Pak Yes, menekankan bahwa tahun 2026 menjadi periode penting. Seluruh pemangku kepentingan di Lamongan perlu bergerak cepat dan terintegrasi untuk menjaga produksi pangan daerah.

“Tahun ini penting bagi kita menghadapi kemarau yang ekstrem. Kita semua harus turun ke lapangan agar swasembada pangan tetap terselamatkan,” ujar Pak Yes dalam keterangannya.

Beliau menambahkan, peringatan dari pemerintah pusat mengenai perubahan cuaca harus menjadi perhatian serius. Koordinasi yang telah terjalin dengan Gubernur Jawa Timur dan Menteri Pertanian menjadi landasan penting dalam menyusun strategi.

Baca juga di sini: Kemenag Tinjau Aturan Ijazah PKPPS, Prioritaskan Integrasi Data dan Keamanan

Prediksi menunjukkan bahwa selain potensi hujan lebat yang sempat terjadi, wilayah Lamongan juga akan menghadapi periode panas ekstrem dalam durasi yang cukup panjang.

Kondisi anomali iklim ini menuntut kesiapsiagaan semua pihak. Tujuannya adalah agar sektor pertanian tetap dapat beroperasi secara produktif dan tidak mengalami kerugian yang signifikan.

Ancaman El Nino Moderat

Sementara itu, Direktur Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian, Tin Latifah, memberikan penjelasan lebih lanjut mengenai fenomena iklim yang diperkirakan akan terjadi. Ia menyebutkan bahwa fenomena tersebut masuk dalam kategori El Nino moderat.

Menurut Tin Latifah, kondisi El Nino moderat ini masih dapat diatasi melalui penerapan langkah-langkah strategis yang tepat sasaran.

“El Nino yang akan kita hadapi bersifat moderat, sehingga masih bisa diupayakan dengan berbagai langkah, termasuk pemanfaatan lahan kering dan dukungan sarana prasarana pertanian,” jelas Tin Latifah.

Ia juga menekankan bahwa optimalisasi sumber daya air merupakan kunci utama dalam menjaga kelangsungan produksi pertanian. Penggunaan waduk, embung, dan saluran irigasi akan terus dimaksimalkan fungsinya.

Solusi Pompanisasi dan Normalisasi Sungai

Dalam sesi peninjauan lapangan, tim teknis mengidentifikasi beberapa kendala yang dihadapi di lapangan. Salah satu masalah yang ditemukan adalah pertumbuhan eceng gondok yang cukup mengganggu aliran air menuju lahan pertanian warga.

Untuk mengatasi hambatan tersebut, pemerintah berencana untuk memperkuat implementasi teknologi pertanian modern. Sistem pompanisasi dan irigasi perpipaan akan menjadi solusi utama.

Penerapan sistem ini diharapkan dapat memastikan ketersediaan air yang memadai untuk kebutuhan lahan pertanian, terutama selama periode musim kemarau panjang.

Menanggapi aspirasi masyarakat terkait efektivitas aliran sungai yang belum optimal, Pemerintah Kabupaten Lamongan juga memberikan komitmennya. Rencana pengerukan atau normalisasi saluran air serta pelebaran sungai akan segera dilaksanakan.

Langkah-langkah ini diharapkan dapat meningkatkan kapasitas distribusi air ke area persawahan. Dengan demikian, para petani tetap dapat menjalankan masa tanam mereka secara optimal tanpa terkendala ketersediaan air.

Sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan partisipasi aktif masyarakat dinilai sebagai fondasi penting. Kolaborasi ini sangat krusial dalam menjaga ketahanan pangan di tengah tantangan perubahan iklim yang semakin nyata.

Melalui penguatan langkah-langkah antisipatif ini, Lamongan diharapkan mampu mempertahankan posisinya sebagai salah satu lumbung pangan unggulan di Provinsi Jawa Timur.