DermayuMagz.com – Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO) mengeluarkan seruan mendesak kepada pemerintah dan masyarakat sipil global untuk meningkatkan dukungan terhadap jurnalisme independen.
Langkah ini krusial demi menjamin tersalurnya informasi yang bebas dan akurat di tengah tren penurunan kebebasan pers di berbagai negara.
Direktur Jenderal UNESCO, Khaled El-Enany, menekankan betapa pentingnya informasi yang akurat bagi publik, terutama dalam menjaga stabilitas global.
“Saya menyerukan kepada negara anggota dan seluruh mitra kami untuk berinvestasi dalam jurnalisme sebagai pilar perdamaian. Informasi yang bebas dan akurat merupakan hal penting bagi publik,” ujar Khaled El-Enany dalam siaran pers Kantor Regional UNESCO Jakarta, Minggu (3/5/2026).
UNESCO menegaskan bahwa kebijakan yang berkaitan dengan perdamaian, pemulihan, dan keamanan harus secara eksplisit mencakup perlindungan terhadap integritas informasi serta kebebasan media.
Hal ini dipandang setara pentingnya dengan aspek krusial lainnya seperti aspek kemanusiaan, kelembagaan, dan ekonomi.
Selain itu, UNESCO juga menyoroti pentingnya pembiayaan berkelanjutan bagi perusahaan media agar mereka dapat terus bertahan di tengah krisis finansial yang melanda.
“Ruang redaksi di seluruh dunia sedang berjuang untuk bertahan secara finansial, dan menghadapi ancaman eksistensial. Di tengah penyebaran disinformasi melalui media sosial dan kecerdasan artifisial dengan kecepatan dan skala yang belum pernah terjadi sebelumnya, jurnalisme menjadi garis pertahanan terakhir bagi masyarakat terhadap manipulasi dan perpecahan,” lanjut Khaled.
Tren Penurunan Kebebasan Ekspresi
Baca juga: Meneguhkan Keberadaan Cagar Budaya Bandung: Peran Assyifa Shandi
Laporan terbaru yang dirilis oleh UNESCO menyajikan data yang mengkhawatirkan mengenai kondisi kebebasan berekspresi.
Sejak tahun 2012, kebebasan berekspresi di tingkat global dilaporkan mengalami penurunan sebesar 10 persen.
Penurunan signifikan ini disamakan dengan periode krisis besar dunia, termasuk masa menjelang Perang Dunia II dan akhir periode Perang Dingin pada penghujung 1970-an.
Berdasarkan analisis data dari Varieties of Democracy (V-Dem), praktik sensor diri (self-censorship) di kalangan jurnalis menunjukkan lonjakan drastis hingga 69 persen dalam rentang waktu dari 2012 hingga akhir 2025.
Tren ini diperparah oleh meningkatnya tekanan hukum yang dihadapi jurnalis, mulai dari gugatan pencemaran nama baik hingga regulasi yang secara sengaja membatasi ruang gerak jurnalistik.
Ancaman di Ruang Digital
Selain tekanan regulasi, kekerasan yang terjadi di ruang digital juga menjadi ancaman serius, terutama bagi jurnalis perempuan.
Sebuah riset yang dilakukan oleh International Center for Journalists (ICFJ) dan UN Women bersama UNESCO menunjukkan bahwa 75 persen jurnalis perempuan pernah mengalami kekerasan daring (online).
Lebih mengkhawatirkan lagi, sebanyak 42 persen dari korban tersebut melaporkan bahwa serangan di dunia maya berlanjut menjadi ancaman atau bahkan kekerasan fisik di dunia nyata.
Angka ini menunjukkan peningkatan dua kali lipat dibandingkan data tahun 2020, yang saat itu hanya berada di kisaran 20 persen.
Optimisme di Tengah Tantangan
Meskipun menghadapi berbagai tantangan yang berat, UNESCO mencatat adanya beberapa perkembangan positif di sektor-sektor tertentu.
Dari 194 negara yang disurvei pada tahun 2025, hampir separuhnya telah memiliki kerangka hukum yang secara resmi mengakui keberadaan media komunitas.
Pengakuan ini seringkali dibarengi dengan dukungan finansial yang ditujukan untuk memperkuat pluralisme media.
Hingga saat ini, sebanyak 139 negara anggota PBB juga telah mengadopsi jaminan hukum yang melindungi hak publik dalam mengakses informasi.
Di sisi teknologi, kehadiran alat digital dan kecerdasan buatan (AI) justru memicu gelombang kolaborasi internasional dan mendorong perkembangan jurnalisme investigasi lintas batas.
Sebagai bentuk apresiasi terhadap keberanian insan pers dalam menghadapi berbagai tantangan, UNESCO menganugerahkan Penghargaan Kebebasan Pers UNESCO/Guillermo Cano kepada Sudanese Journalists Syndicate.
Penghargaan ini diberikan sebagai pengakuan atas dedikasi para jurnalis Sudan yang tetap menjalankan tugas profesinya dengan gigih, meskipun berada di tengah situasi konflik dan risiko tinggi.






