Menuju Hardiknas 2026, Kapolda Sumbar Ingatkan Pentingnya Filosofi ABS&SBK dan Bahaya Krisis Moral

Berita5 Dilihat

DermayuMagz.com – Dalam rangka memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026, Kapolda Sumatera Barat, Gatot Tri Suryanta, tidak hanya menghadiri acara seremonial, namun juga menyampaikan pandangan kritisnya mengenai arah pendidikan tinggi di wilayahnya.

Beliau menyoroti potensi hilangnya arah pendidikan jika hanya berfokus pada pencapaian akademis semata, tanpa dibarengi penguatan fondasi moral.

Pernyataan ini disampaikan Kapolda saat memberikan kuliah umum di UIN Imam Bonjol Kampus III Sungai Bangek pada Selasa, 5 Mei 2026. Acara tersebut dihadiri oleh ratusan mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu.

Kehadiran Kapolda, didampingi oleh Wakapolda Solihin, lebih terasa seperti sebuah peringatan dini daripada sekadar sebuah acara formalitas.

Dalam paparannya, Gatot Tri Suryanta menekankan pentingnya pendidikan modern untuk tetap terhubung dengan akar budaya lokal.

Ia secara tegas mendorong agar ilmu pengetahuan dapat diintegrasikan dengan filosofi Minangkabau, yaitu Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah (ABS-SBK).

Filosofi ini diharapkan dapat menjadi benteng yang kokoh dalam pembentukan karakter generasi muda.

Kapolda menyatakan bahwa ilmu yang berdiri sendiri tanpa landasan nilai moral justru dapat menimbulkan krisis, bukan kemajuan.

Ia bahkan secara terbuka mengkritik adanya gejala lunturnya nilai kejujuran di kalangan generasi muda saat ini.

Menurutnya, kejujuran dan tanggung jawab merupakan fondasi utama dalam kehidupan.

Tanpa kedua nilai tersebut, sekecil apapun Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) yang diraih, hasilnya hanyalah mencetak generasi yang rapuh.

Mengutip ajaran Ki Hajar Dewantara, Kapolda mengingatkan kembali tentang konsep pendidikan yang mencakup Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madyo Mangun Karso, dan Tut Wuri Handayani.

Namun, ia prihatin bahwa nilai-nilai luhur tersebut kini kerap hanya berhenti sebagai slogan tanpa diimplementasikan dalam praktik nyata.

Lebih lanjut, Kapolda mengajak institusi pendidikan tinggi di Sumatera Barat untuk kembali menjadi pusat yang tidak hanya unggul dalam ilmu pengetahuan, tetapi juga dalam pelestarian kebudayaan.

Baca juga: Polda Sumbar Gencar Berantas "Silent Killer" di Internal demi Personel Lebih Sehat

Ia berharap kampus dapat menjadi magnet yang menarik orang untuk datang, tidak hanya untuk mempelajari teori, tetapi juga untuk menyerap nilai-nilai luhur dan jati diri masyarakat Minangkabau.

Sebagai langkah konkret, Kapolda memperkenalkan beberapa personel Polda Sumbar yang sedang menempuh pendidikan doktoral.

Hal ini menunjukkan bahwa institusi kepolisian pun dituntut untuk melakukan transformasi menjadi lebih intelektual dan berkarakter.

Kegiatan kuliah umum tidak berhenti pada diskusi di dalam ruangan, melainkan dilanjutkan dengan aksi nyata berupa penanaman pohon di lingkungan kampus.

Aksi ini menjadi simbol bahwa pendidikan seharusnya tidak terlepas dari tanggung jawab terhadap lingkungan, sejalan dengan nilai-nilai adat Minangkabau yang menganggap alam sebagai bagian integral dari identitas.

Kapolda menekankan bahwa menjaga kelestarian alam sama dengan menjaga diri sendiri, karena hilangnya akar budaya akan berdampak pada hilangnya identitas.

Dalam konteks demokrasi di lingkungan kampus, Kapolda memberikan ruang bagi mahasiswa untuk bersikap kritis, namun dengan penekanan kuat bahwa kebebasan berpendapat harus selalu dibarengi dengan etika.

Ia berpendapat bahwa kritik yang disampaikan haruslah jujur, beradab, dan bertanggung jawab.

Demokrasi yang tanpa etika hanya akan menghasilkan kegaduhan yang tidak produktif.

Kuliah umum tersebut ditutup dengan sesi diskusi terbuka yang berlangsung secara dinamis.

Antusiasme mahasiswa yang hadir menjadi penanda penting bahwa di tengah derasnya arus modernisasi, kampus tetap menjadi ruang krusial untuk pertarungan gagasan.

Pertarungan gagasan ini melibatkan aspek ilmu pengetahuan, nilai-nilai luhur, dan visi masa depan bangsa.