Kelangkaan BBM di Palangka Raya sebabkan antrean panjang SPBU dan penurunan pendapatan driver ojol.

Berita7 Dilihat

DermayuMagz.com – Kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) di Palangka Raya, Kalimantan Tengah, kini menjadi keluhan utama para pengemudi ojek daring (ojol). Pemberlakuan pembatasan pembelian BBM oleh Pemerintah Kota Palangka Raya melalui Surat Edaran (SE) Wali Kota telah menimbulkan dampak signifikan, menyebabkan antrean panjang di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) dan penurunan pendapatan yang drastis bagi para driver.

Salah seorang driver ojol yang enggan disebutkan namanya, Eko, mengungkapkan kesulitan yang dihadapinya dalam menjaga rutinitas kerjanya akibat kelangkaan BBM. Baginya, setiap detik yang terbuang di antrean SPBU berarti hilangnya potensi pendapatan.

“Pendapatan saya terus terang menurun. Sekarang kami harus mengantre lama di SPBU karena sulit sekali mencari BBM. Bahkan, penjual eceran di pinggir jalan pun banyak yang sudah kehabisan stok,” keluh Eko kepada TIMES Indonesia pada Rabu, 6 Mei 2026.

Eko, yang biasanya mampu menyelesaikan rata-rata 20 pesanan dalam sehari, kini harus bekerja lebih keras. Ia terpaksa lebih memilih mengambil pesanan antar penumpang (Ride) daripada pesanan makanan (Food). Pilihan ini diambil karena jarak penjemputan penumpang dianggap lebih efisien dan masuk akal dalam kondisi pasokan BBM yang tidak menentu.

Baca juga: Danantara Borong Saham GoTo, Prioritaskan Kesejahteraan Driver Ojek Online

“Jika mengambil pesanan makanan, seringkali jarak menuju restoran sangat jauh. Dalam kondisi sulit BBM seperti ini, lebih realistis untuk fokus pada layanan Ride. Konsekuensinya, perawatan kendaraan harus lebih sering dilakukan karena mesin bekerja lebih berat, tapi itu lebih baik daripada tidak mendapatkan penghasilan sama sekali,” jelasnya.

Situasi ini berbanding terbalik dengan tujuan Surat Edaran Wali Kota Palangka Raya Nomor 500.2.1/198/DPKUKMP-bid.1/V/2026, yang seharusnya bertujuan untuk meratakan distribusi BBM.

Bagi para driver ojol yang menggantungkan hidupnya pada aktivitas di jalan raya, pembatasan pengisian BBM, seperti maksimal Rp50.000 untuk jenis Pertalite bagi kendaraan roda dua dan Rp100.000 untuk Pertamax, memaksa mereka untuk lebih sering bolak-balik ke SPBU.

Para pencari nafkah di jalanan ini sangat berharap pemerintah tidak hanya fokus pada kebijakan pembatasan. Mereka juga menuntut adanya kepastian ketersediaan stok BBM di semua tingkatan, baik di SPBU maupun di kalangan pedagang eceran. Stok yang memadai di tingkat eceran dianggap sebagai alternatif penting saat situasi mendesak.

“Kami hanya ingin kondisi kembali normal seperti semula. Jangan sampai untuk sekadar mencari nafkah, kami harus mempertaruhkan nyawa dan waktu hanya untuk mendapatkan satu liter bensin,” tutup Eko dengan nada prihatin.