DermayuMagz.com – Met Gala 2026, acara fashion paling bergengsi di Amerika Serikat, tahun ini menjadi sorotan bukan hanya karena kemewahan busana para pesohor, melainkan juga karena aksi protes yang cukup unik. Para pemrotes memilih cara yang tidak biasa untuk menyuarakan ketidaksetujuan mereka terhadap keterlibatan pendiri Amazon, Jeff Bezos, dan istrinya, Lauren Sánchez Bezos, dalam perhelatan akbar tersebut.
Alih-alih menggunakan spanduk atau poster, sekelompok aktivis dari kelompok Everyone Hates Elon meninggalkan ratusan botol berisi cairan urine palsu di sekitar Metropolitan Museum of Art. Aksi ini merupakan bagian dari serangkaian protes yang mereka lakukan di New York City untuk menyoroti peran Bezos dalam Met Gala tahun ini.
Menurut laporan dari The New York Times, kelompok tersebut menyerukan “boikot Met Gala milik Bezos”. Mereka meninggalkan sekitar 300 botol urine palsu sebagai simbol protes mereka. Met Gala, yang selalu diselenggarakan pada Senin pertama bulan Mei, dikenal sebagai ajang berkumpulnya para selebriti papan atas dunia untuk memamerkan busana terbaik mereka.
Namun, sejak Met Gala pertama pascapandemi COVID-19 pada tahun 2021, acara ini dikritik karena dianggap mulai kehilangan esensinya. Variety melaporkan bahwa banyaknya influencer yang hadir membuat Met Gala dianggap lebih sekadar “konten TikTok” daripada ajang apresiasi seni dan fashion.
Popularitas Met Gala semakin tergerus tahun ini dengan masuknya korporasi besar dan miliarder ke dalam perhelatan tersebut. Pada Februari 2026, Jeff Bezos dan Lauren Sánchez Bezos diumumkan sebagai ketua kehormatan untuk malam pembukaan Met Gala. Laporan dari Page Six menyebutkan bahwa pasangan tersebut menghabiskan setidaknya US$10 juta untuk mensponsori acara demi mendapatkan posisi prestisius tersebut.
Situs web Met Gala sendiri secara gamblang menyoroti peran pasangan Bezos dalam penyelenggaraan acara tahun ini, menyatakan bahwa pameran dan gala “telah terlaksana berkat” kontribusi mereka. Hal ini memicu kecaman dari para kritikus.
Kritik tersebut menyoroti fakta bahwa Amazon, perusahaan yang didirikan Bezos, merupakan salah satu pemain utama dalam industri fast fashion. Industri ini seringkali dikritik karena menurunkan kualitas pakaian dan mendorong konsumen untuk memprioritaskan harga murah di atas kualitas dan keberlanjutan.
Selain itu, pengguna media sosial juga mengaitkan aksi protes ini dengan pengakuan beberapa karyawan Amazon yang mengaku terpaksa menggunakan botol air untuk buang air kecil saat bekerja karena tidak diizinkan ke toilet. Gambar-gambar dispenser “botol pipis” yang dipasang di luar Metropolitan Museum of Art beredar luas, menyindir praktik perusahaan Bezos.
Menjelang Met Gala, koalisi serikat pekerja juga mengadakan acara alternatif bertajuk “Ball Without Billionaires” (Pesta Tanpa Miliarder). Acara ini menampilkan para karyawan dari perusahaan milik Bezos, termasuk Amazon dan The Washington Post, serta perusahaan lain. Fokus acara ini adalah pada fashion yang lebih etis dan berkelanjutan.
Salah satu karyawan Amazon, April Watson, yang berpartisipasi dalam acara tersebut, menyatakan harapannya untuk perubahan sistemik yang akan membuat tempat kerja menjadi lebih aman. Ia berharap agar aksi ini dapat mendorong perbaikan kondisi kerja bagi para karyawan.
Met Gala sendiri sejatinya merupakan ajang penggalangan dana utama untuk Costume Institute di Metropolitan Museum of Art, yang menyimpan koleksi busana bersejarah. Namun, perpaduan antara kemewahan, ketenaran, dan upaya filantropi juga menjadikannya sasaran empuk kritik.
Harga tiket Met Gala tahun ini mencapai US$100.000, atau sekitar Rp1,74 miliar. Bahkan, seorang senator New York yang progresif, Alexandria Ocasio-Cortez, pernah menghadiri Met Gala pada tahun 2021 dengan mengenakan gaun bertuliskan “pajaki orang kaya” sebagai bentuk aspirasi politiknya.
Menariknya, tahun ini Wali Kota New York, Zohran Mamdani, dan istrinya, Rama Duwaji, tidak akan menghadiri Met Gala. Mamdani tercatat sebagai wali kota NYC pertama yang tidak hadir dalam perhelatan akbar ini.
Tema Met Gala 2026 adalah “Fashion is Art”. Para tamu diundang untuk mengekspresikan pandangan mereka tentang fashion sebagai bentuk seni, merayakan keragaman cara berpakaian sepanjang sejarah seni. Beberapa penampilan yang mencuri perhatian di red carpet tahun ini antara lain Bad Bunny dengan riasan unik, Madonna dalam busana Saint Laurent, dan Beyoncé yang mengenakan rancangan Olivier Rousteing.
Baca juga: Penataan Ulang dan Penertiban Parkir Liar di Trotoar Suhat Malang
Meskipun diwarnai berbagai kontroversi, Met Gala 2026 berhasil memecahkan rekor penggalangan dana. Costume Institute mengumpulkan dana sebesar $42 juta, naik $11 juta dari tahun sebelumnya. Sebagian besar peningkatan ini dikaitkan dengan kontribusi besar dari pasangan Jeff Bezos dan Lauren Sánchez Bezos.
Dana yang terkumpul dari Met Gala ini sangat penting bagi operasional Costume Institute, yang bertanggung jawab atas pelestarian dan pameran koleksi busana bersejarah. Namun, kontroversi yang muncul menunjukkan adanya perdebatan yang terus berlangsung mengenai peran industri fashion, kekayaan ekstrem, dan etika dalam acara yang sarat kemewahan ini.
Tindakan protes dengan meninggalkan botol urine palsu ini menjadi pengingat bahwa di balik gemerlapnya Met Gala, isu-isu sosial dan etika terkait industri fashion serta peran para miliarder masih menjadi perhatian publik.
Aksi protes ini juga menyoroti adanya ketidakpuasan terhadap komersialisasi seni dan fashion, serta bagaimana acara seperti Met Gala dapat dikritik karena dianggap lebih mengutamakan citra dan keuntungan daripada nilai seni itu sendiri.
Pertanyaan tentang siapa yang seharusnya memiliki pengaruh dalam dunia seni dan fashion, serta bagaimana kekayaan digunakan untuk mendukung atau justru mengkomersialkan seni, terus menjadi topik diskusi hangat di kalangan pengamat dan publik.
Meskipun demikian, Met Gala tetap menjadi magnet bagi para insan fashion dan selebriti, serta terus menjadi platform penting untuk penggalangan dana bagi museum seni.
Tahun ini, para tamu yang hadir seolah ditantang untuk merefleksikan makna fashion dalam konteks seni yang lebih luas, sekaligus menjadi saksi bisu dari berbagai komentar sosial yang terselip di tengah kemegahan acara.
Kontribusi finansial yang besar dari Bezos dan Sánchez Bezos memang membantu Met Gala mencapai rekor penggalangan dana. Namun, aksi protes tersebut menunjukkan bahwa narasi seputar Met Gala tidak hanya tentang busana dan glamor, tetapi juga tentang nilai-nilai yang diwakili oleh para pesertanya dan dampaknya terhadap masyarakat luas.
Ke depan, perdebatan mengenai peran miliarder dalam dunia seni dan fashion, serta bagaimana acara seperti Met Gala dapat menyeimbangkan aspek komersial dengan nilai-nilai artistik dan sosial, kemungkinan besar akan terus berlanjut.
Aksi protes yang unik ini menjadi salah satu cerita paling menarik dari Met Gala 2026, membuktikan bahwa Met Gala bukan hanya ajang pamer busana, tetapi juga panggung bagi berbagai ekspresi dan kritik sosial.
Peran Jeff Bezos sebagai ketua kehormatan memang memberikan sorotan lebih, namun juga membuka ruang bagi suara-suara yang merasa tidak puas dengan arah yang diambil oleh acara tersebut.
Pada akhirnya, Met Gala 2026 akan dikenang tidak hanya karena busana-busana spektakulernya, tetapi juga karena protes “botol pipis” yang menjadi simbol kritik terhadap pengaruh besar korporasi dan individu kaya dalam dunia seni dan fashion.






