Budaya Peduli Lingkungan Sukses Berkembang Lewat Program Banyuwangi Hijau

Berita3 Dilihat

DermayuMagz.com – Program Layanan Banyuwangi Hijau (BWH) telah menunjukkan keberhasilan signifikan dalam mengubah pola hidup masyarakat Banyuwangi, terutama dalam hal kepedulian terhadap kebersihan lingkungan.

Lebih dari sekadar menciptakan sistem pengelolaan sampah yang terorganisir, program inovatif yang digagas oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Banyuwangi di bawah kepemimpinan Bupati Ipuk Fiestiandani Azwar Anas ini juga berhasil menanamkan budaya baru di kalangan masyarakat yang lebih peduli terhadap kelestarian lingkungan.

Perubahan nyata ini sangat terlihat di area bantaran Sungai Binaung, yang terletak di Dusun Krajan, Desa Songgon, Kecamatan Songgon, Banyuwangi, Jawa Timur. Dulu, kawasan ini dikenal sebagai tempat pembuangan sampah warga. Namun, sejak layanan Banyuwangi Hijau TPS3R Balak Songgon beroperasi pada tahun 2023, wajah lingkungan di sana berubah total menjadi bersih dan tertata.

Rini Setyawati, seorang warga yang rumahnya berada persis di depan bantaran Sungai Binaung, menceritakan bahwa penumpukan sampah di lokasi tersebut sudah berlangsung selama puluhan tahun. Bahkan, saat musim hujan, sampah-sampah tersebut sering kali terbawa arus sungai dan menimbulkan bau yang tidak sedap.

“Sejak saya lahir di sini menjadi tempat sampah. Tempatnya jelek dan bau. Sekarang alhamdulillah bagus, sudah tidak ada lagi sampah,” ungkap Rini pada Kamis, 7 Mei 2026.

Agus Purnomo, Ketua RT 001/RW 003, turut membenarkan kondisi tersebut. Ia menyebutkan bahwa sebelumnya bantaran sungai sangat kumuh dan dipenuhi sampah, bahkan jalan aspal yang baru diperbaiki pun seringkali rusak kembali akibat kelembaban dari tumpukan sampah.

“Dulu di sini bau dan kotor. Bahkan jalan aspal sering rusak. Habis diaspal rusak lagi karena kelembaban tumpukan sampah,” jelas Agus.

Baca juga: Ajang Pencarian Talenta Perfilman Indonesia Kembali Digelar

Kepala Desa Songgon, Moh. Qoderi, menjelaskan bahwa sebelum adanya layanan Banyuwangi Hijau, pengelolaan sampah di desanya masih dilakukan secara mandiri oleh masyarakat dengan metode yang kurang ramah lingkungan.

“Sebelum ada Banyuwangi Hijau, sampah di desa kami kebanyakan dibakar atau dibuang ke sungai. Tidak ada sistem pengangkutan rutin sehingga sering menumpuk dan menimbulkan bau,” tutur Qoderi.

Menurutnya, manfaat terbesar dari program Banyuwangi Hijau layanan TPS3R Balak tidak hanya terbatas pada kebersihan lingkungan semata, tetapi juga pada perubahan perilaku masyarakat yang kini semakin aktif dalam pengelolaan sampah.

“Keterlibatan RT, RW, dan kader lingkungan semakin kuat dalam mengawal pemisahan sampah di tingkat rumah tangga,” tegasnya.

Kondisi ini sejalan dengan semangat Gerakan ASRI (Aman, Sehat, Resik, dan Indah) yang digaungkan oleh Presiden Prabowo Subianto, yang bertujuan untuk menciptakan lingkungan yang sehat dan berkelanjutan.

Sejak diluncurkan pada tahun 2023 hingga kuartal pertama 2026, Program Banyuwangi Hijau telah berhasil menjangkau sekitar 500 ribu target populasi. Hingga tanggal 30 April 2026, sebanyak 73 desa di berbagai wilayah Banyuwangi telah mendapatkan layanan pengelolaan sampah terpadu ini.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Banyuwangi, Dwi Handajani, menyatakan bahwa pencapaian ini merupakan hasil dari penguatan layanan pengelolaan sampah yang berbasis partisipasi masyarakat dan terus diperluas jangkauannya.

“Banyuwangi Hijau bukan hanya soal pengangkutan sampah, tetapi membangun sistem pengelolaan dari hulu ke hilir. Dengan bertambahnya desa terlayani, kami melihat peningkatan kesadaran masyarakat dalam memisah dan mengelola sampah secara mandiri,” ujar Yani.

Dalam operasionalnya, Program Banyuwangi Hijau TPS3R Balak mencatat telah berhasil mengumpulkan sebanyak 15.304 ton sampah dari seluruh wilayah layanan hingga akhir April 2026. Dari jumlah tersebut, sekitar 8.548 ton merupakan sampah organik yang telah diolah melalui metode komposting dan pengolahan berbasis TPS.

Sementara itu, sebanyak 3.623 ton sampah anorganik berhasil dikelola melalui proses pemilahan, daur ulang, serta kemitraan dengan sektor pengelola material daur ulang.

Perwakilan Project STOP Banyuwangi Hijau, Prasetyo Ibnu Toat, menjelaskan bahwa keberhasilan program ini tidak terlepas dari upaya edukasi yang berkelanjutan kepada masyarakat serta penerapan sistem pengelolaan yang berbasis data dan teknologi digital.

“Kami mendorong pemilahan sampah langsung dari rumah tangga, didukung edukasi berkelanjutan serta pemanfaatan teknologi digital untuk pencatatan dan pemantauan layanan. Partisipasi warga menjadi kunci utama keberhasilan Banyuwangi Hijau,” ungkap Prasetyo.

Program Banyuwangi Hijau merupakan hasil kolaborasi antara Pemkab Banyuwangi dengan Borealis Austria, Clean Rivers, dan Uni Emirat Arab. Kolaborasi ini bertujuan untuk mengendalikan sampah, khususnya sampah plastik, melalui sistem pemilahan dan pengolahan yang terintegrasi.

Pemkab Banyuwangi optimis bahwa Program Banyuwangi Hijau akan terus berkembang menjadi sebuah model pengelolaan sampah kolaboratif yang mampu menciptakan lingkungan yang bersih, sehat, dan berkelanjutan.