Dampak Pelemahan Rupiah Terhadap Program 3 Juta Rumah

Bisnis6 Dilihat

DermayuMagz.com – Asosiasi pengembang properti dan perumahan, Real Estate Indonesia (REI), menyuarakan keprihatinan mengenai potensi hambatan terhadap penyerapan rumah bersubsidi, termasuk program sejuta rumah yang digagas pemerintah. Hal ini disebabkan oleh pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.

Ketua Umum DPP REI, Joko Suranto, menjelaskan bahwa pelemahan rupiah memberikan tekanan signifikan bagi perusahaan manufaktur, terutama yang bergerak di sektor padat karya. Perusahaan-perusahaan ini seringkali memiliki pinjaman dalam mata uang dolar atau bergantung pada pasokan bahan baku dari luar negeri.

Menurut Joko, jika pelemahan rupiah berlanjut dalam jangka waktu tertentu, misalnya tiga hingga enam bulan, situasi ini dapat menjadi sangat mengkhawatirkan.

Lebih lanjut, Joko menyoroti dampak pelemahan rupiah terhadap sektor logistik yang berpotensi meningkatkan biaya operasional. Ia juga mengkhawatirkan penurunan daya beli masyarakat, yang secara langsung akan menghambat penyerapan rumah.

“Jika dolar semakin tinggi atau rupiah semakin lemah, ini juga mengancam daya beli masyarakat. Selain itu, kenaikan biaya juga akan terjadi. Keduanya sama-sama tidak menguntungkan bagi program sejuta rumah, khususnya dalam hal penyerapan Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP),” ungkapnya.

Di sisi lain, Joko memperkirakan bahwa penjualan rumah komersial untuk segmen menengah ke atas cenderung lebih stabil karena kelompok ini memiliki daya dukung finansial yang lebih kuat. Namun, ia tetap waspada terhadap potensi penurunan penyerapan rumah subsidi bagi kelompok masyarakat berpenghasilan rendah.

Baca juga : Inspirasi Desain Teras Rumah Tipe 45 yang Sederhana namun Menawan

Fenomena pergeseran kelas menengah juga menjadi perhatian. Data menunjukkan penurunan populasi kelas menengah di Indonesia dari 57,3 juta pada tahun 2019 menjadi 47,2 juta pada tahun 2024.

“Sekarang pun ada kecenderungan kelas menengah menggunakan tabungan untuk kebutuhan sehari-hari, yang ini bisa berbahaya,” tegasnya.

Meskipun demikian, Joko menyatakan bahwa banyak pengembang properti telah mengantisipasi situasi ini dengan menimbun stok material untuk beberapa bulan ke depan. Oleh karena itu, dampak pelemahan rupiah saat ini belum terasa signifikan bagi sektor properti.

“Untuk sementara ini dampaknya belum signifikan karena persediaan bahan baku kami sudah cukup banyak. Kami sudah melakukan stok,” ujarnya.

Namun, ia memperkirakan dampak tersebut baru akan terasa dalam dua hingga tiga bulan mendatang. Kenaikan harga bahan baku dari pabrik akan berimbas pada harga pasar secara keseluruhan.