DermayuMagz.com – Biaya logistik di Indonesia masih jauh di atas standar global, menunjukkan adanya potensi besar untuk efisiensi. PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI melihat penguatan angkutan logistik berbasis rel sebagai solusi krusial untuk mengatasi tantangan ini.
Saat ini, biaya logistik Indonesia tercatat sekitar 15%-20% dari Produk Domestik Bruto (PDB). Angka ini sangat kontras dengan standar global yang hanya berkisar 7%-8% dari PDB.
Perbedaan yang signifikan ini mengindikasikan bahwa sektor logistik nasional masih memiliki ruang yang luas untuk diperbaiki. Dengan biaya distribusi yang semakin efisien, industri di Indonesia diharapkan dapat meningkatkan daya saing produknya baik di pasar domestik maupun internasional.
Vice President Corporate Communication KAI, Anne Purba, menekankan bahwa efisiensi logistik memiliki dampak langsung pada biaya produksi industri. “Ketika distribusi barang menjadi lebih efektif, maka rantai pasok nasional juga akan bergerak lebih kompetitif,” ujarnya seperti dikutip dari Antara, Senin (18/5/2026).
Untuk mendukung efisiensi ini, KAI secara aktif memperkuat kapasitas angkutan barang. Salah satu langkah konkret adalah dengan meningkatkan kemampuan sarana kereta api dan mengembangkan pola distribusi yang berbasis rel.
Saat ini, KAI mengoperasikan gerbong dengan kapasitas rata-rata 50 ton per gerbong, dan terus berupaya meningkatkannya menjadi 70 ton. Dengan satu rangkaian yang terdiri dari hingga 60 gerbong, KAI mampu mengangkut hingga 4.200 ton barang dalam satu kali perjalanan.
Selain peningkatan kapasitas sarana, KAI juga fokus pada integrasi layanan logistik. Integrasi ini dilakukan dengan kawasan industri, pusat pergudangan, dan pelabuhan. Tujuannya adalah agar proses distribusi barang dapat berjalan lebih cepat dan efisien.
Baca juga : Tips Praktis Menanam Jeruk Nipis dalam Pot agar Cepat Panen
Pulau Jawa masih memegang peranan sentral dalam aktivitas logistik nasional, menyumbang sekitar 60% dari total kegiatan logistik di Indonesia. Nilai biaya logistik di pulau ini diperkirakan mencapai Rp2.400–Rp2.500 triliun per tahun.
Jika efisiensi sebesar 30% dapat dicapai, diperkirakan akan ada penghematan biaya yang sangat besar, mencapai sekitar Rp1.000 triliun.
Peluang Angkutan Barang Berbasis Rel
Anne Purba menilai bahwa angkutan barang berbasis rel memiliki potensi besar untuk mewujudkan efisiensi logistik yang diharapkan. Keunggulan kereta api terletak pada kemampuannya mengangkut barang dalam volume besar secara stabil.
Selain itu, angkutan kereta api juga minim hambatan yang sering terjadi pada jalur transportasi darat, seperti kemacetan lalu lintas.
“Dengan jaringan operasional yang luas dan kapasitas angkut yang besar, kereta api memiliki potensi besar untuk mendukung distribusi logistik nasional yang lebih efisien, aman, dan berkelanjutan,” jelas Anne.
KAI berkomitmen untuk terus memperkuat pengembangan layanan angkutan barang. Upaya ini dilakukan sebagai bentuk dukungan terhadap pertumbuhan industri dan peningkatan konektivitas logistik nasional.
Optimalisasi distribusi yang memanfaatkan jalur kereta api diharapkan dapat mendorong efisiensi ekonomi. Hal ini juga berkontribusi dalam memperkuat daya saing Indonesia di kancah global.
“Semakin besar porsi distribusi barang yang berpindah ke kereta api, semakin besar juga peluang efisiensi yang dapat dirasakan oleh dunia usaha dan masyarakat luas,” pungkas Anne.
Angkutan Barang
Data terbaru menunjukkan tren positif dalam angkutan barang yang dikelola oleh KAI. Volume angkutan retail KAI tercatat mencapai 82.129 ton pada periode Januari hingga April 2026.
Angka ini menunjukkan peningkatan sebesar 4,86% dibandingkan periode yang sama pada tahun 2025, yang hanya mencapai 78.323 ton. Jika dibandingkan dengan periode Januari–April 2024 yang sebesar 66.654 ton, volume angkutan retail KAI tumbuh sebesar 23,22%.
Secara khusus pada bulan April 2026, KAI berhasil melayani angkutan retail sebanyak 21.844 ton. Angka ini merupakan peningkatan signifikan sebesar 22,87% dibandingkan dengan April 2025 yang tercatat 17.778 ton.
Anne Purba menyatakan bahwa pertumbuhan ini mencerminkan peningkatan kebutuhan dari para pelaku usaha. Mereka semakin mengandalkan layanan distribusi barang yang tidak hanya efisien, tetapi juga terukur dan mampu menjangkau berbagai wilayah secara optimal.
“Kereta api semakin dipilih sebagai moda distribusi barang karena memiliki kapasitas besar, waktu tempuh yang lebih terukur, serta mendukung efisiensi biaya logistik dalam rantai pasok nasional,” ujar Anne.






