Harga Perak Antam Hari Ini Mengalami Kenaikan

Bisnis7 Dilihat

DermayuMagz.com – Harga perak PT Aneka Tambang Tbk (Antam) mengalami kenaikan pada Kamis, 21 Mei 2026. Kenaikan ini terjadi meskipun harga perak dunia justru menunjukkan tren pelemahan.

Berdasarkan informasi dari laman logammulia.com, harga perak Antam tercatat naik sebesar Rp 1.150. Dengan kenaikan tersebut, harga perak kini berada di angka Rp 49.800 per gram. Angka ini lebih tinggi dibandingkan harga pada hari sebelumnya yang berada di Rp 48.650 per gram.

Meskipun harga perak Antam mengalami kenaikan, angka tersebut masih berada di bawah batas Rp 50.000 per gram.

Antam sendiri menawarkan berbagai produk perak, termasuk perak batangan dengan berat 250 gram dan 500 gram, serta perak butiran murni dengan kadar 99,95%. Untuk perak batangan 250 gram, harganya dipatok sebesar Rp 12.975.000. Sementara itu, perak batangan 500 gram dijual dengan harga Rp 25.025.000.

Kenaikan harga perak Antam ini terjadi bersamaan dengan tren harga emas Antam yang juga dilaporkan mengalami kenaikan. Namun, pergerakan harga logam mulia ini berbeda dengan kondisi pasar global.

Baca juga : Aston Villa Juara Liga Europa Berkat Tangan Dingin Unai Emery

Mengutip data dari tradingeconomics.com, harga perak di pasar internasional justru mengalami pelemahan. Tercatat penurunan sebesar 0,44%, membuat harga perak dunia berada di angka USD 75,49 per ounce. Sebelumnya, harga perak sempat menembus level USD 76 per ounce pada hari Kamis, melanjutkan tren kenaikan dari sesi perdagangan sebelumnya.

Kenaikan harga perak dunia sebelumnya didorong oleh optimisme yang meningkat terkait potensi kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran. Harapan ini diperkirakan dapat meredakan tekanan inflasi dan mengurangi kekhawatiran mengenai kenaikan suku bunga.

Presiden Amerika Serikat saat itu, Donald Trump, sempat menyatakan bahwa negosiasi dengan Iran berada dalam tahap akhir. Pernyataan ini memicu harapan akan segera dibukanya kembali Selat Hormuz yang merupakan jalur pelayaran strategis. Prospek pemulihan arus pengiriman barang dinilai dapat menekan harga minyak dan meredakan kekhawatiran inflasi, sehingga menurunkan ekspektasi pengetatan kebijakan moneter oleh bank sentral.

Di sisi lain, risalah dari pertemuan kebijakan terbaru Federal Reserve (the Fed) menunjukkan bahwa mayoritas pejabat lembaga tersebut meyakini bahwa kenaikan suku bunga pada tahun itu masih dapat dibenarkan apabila inflasi terus berada di atas target 2% yang ditetapkan oleh The Fed. Hal ini membuat investor terbagi dalam pandangan mengenai apakah bank sentral akan menaikkan suku bunga pada bulan Desember atau mempertahankan suku bunga acuan tidak berubah hingga akhir tahun.

Sebelumnya, pada hari Rabu, 20 Mei 2026, harga emas dunia dilaporkan menguat sekitar 1%. Kenaikan ini juga dipengaruhi oleh harapan penyelesaian konflik Iran yang berdampak pada pasar minyak. Sentimen positif ini turut meredakan kekhawatiran inflasi dan menurunkan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat dari level tertinggi yang dicapai baru-baru ini.

Menurut laporan dari CNBC pada Kamis, 20 Mei 2026, harga emas di pasar spot tercatat naik 1% menjadi USD 4.532,72 per ounce. Angka ini merupakan pemulihan setelah harga emas sempat menyentuh titik terendah dalam lebih dari tujuh minggu. Sementara itu, harga kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Juni mengalami kenaikan 0,5% menjadi USD 4.535,30.

Seorang analis dari High Ridge Futures menyatakan bahwa jeda dari kenaikan imbal hasil yang berkelanjutan telah memberikan dampak positif bagi penguatan harga emas dari titik terendahnya baru-baru ini. Di sisi lain, imbal hasil obligasi pemerintah AS dengan tenor 10 tahun menunjukkan sedikit penurunan setelah sebelumnya menyentuh level tertinggi sejak Januari 2025.

Imbal hasil obligasi pemerintah yang lebih tinggi secara umum meningkatkan biaya peluang bagi investor yang memegang emas batangan, yang merupakan aset tanpa imbal hasil. Pernyataan analis tersebut menekankan bahwa penyelesaian konflik dan pembukaan jalur pelayaran akan menjadi katalis positif bagi pasar emas, karena ekspektasi penurunan suku bunga akan menguntungkan aset tersebut.

Pergerakan harga minyak juga menjadi salah satu faktor yang memengaruhi sentimen pasar. Harga minyak Brent dilaporkan turun setelah Presiden AS Donald Trump kembali menyatakan bahwa konflik dengan Iran akan segera berakhir. Namun, investor tetap bersikap hati-hati terhadap hasil pembicaraan damai tersebut, mengingat potensi gangguan pasokan dari Timur Tengah masih terus berlanjut.

Kenaikan biaya bahan bakar diketahui dapat memicu inflasi, yang pada gilirannya memaksa bank sentral untuk mempertahankan suku bunga yang lebih tinggi. Meskipun emas sering dianggap sebagai lindung nilai terhadap inflasi, dalam lingkungan suku bunga tinggi, kinerja emas yang tidak menghasilkan imbal hasil cenderung kurang optimal.

Saat ini, investor memperkirakan peluang sebesar 48,6% bahwa Federal Reserve akan menaikkan suku bunga pada bulan Desember. Sementara itu, peluang sebesar 89,6% bahwa suku bunga akan dipertahankan pada level saat ini dalam pertemuan berikutnya pada bulan Juni, berdasarkan data dari alat FedWatch CME.