DermayuMagz.com – Dikta, musisi yang dikenal dengan karya-karyanya yang menyentuh, kembali menyapa penggemar dengan Extended Play (EP) terbarunya yang bertajuk Unapologetic. Rilisan ini menandai kembalinya Dikta ke dunia musik setelah absen selama empat tahun, dan membawa nuansa baru yang lebih personal dan reflektif.
Dalam sesi hearing session yang diadakan di Krapela, Bulungan, Jakarta Selatan, pada Rabu (13/5/2026), Dikta mengungkapkan bahwa inspirasi di balik lagu-lagu dalam EP terbarunya ini sangatlah personal. Ia mengaku banyak menuangkan pengalaman pribadi dan pengamatannya terhadap orang-orang di sekitarnya ke dalam lirik.
“Cerita yang relate sama gua, sama orang-orang sekeliling juga. Kalau gua lagi kesel tentang apa-apa, langsung kutulis. Ini bukan cerita gua aja,” ujar Dikta, menekankan bahwa karyanya kali ini lebih luas dari sekadar curahan hatinya sendiri.
Salah satu lagu yang menjadi sorotan dan focus track dalam EP Unapologetic adalah “Stop Bilang Iya”. Lagu ini dikemas dengan lirik yang tajam dan relevan, ditujukan sebagai sentilan bagi mereka yang kerap kesulitan berkata tidak demi menyenangkan orang lain, atau yang dikenal sebagai people pleaser.
Dikta mengakui bahwa fenomena people pleaser ini juga dialaminya dan banyak orang di sekitarnya. “Banyak banget, termasuk gua, yang merasa cape kalo harus nurutin orang terus,” jelasnya.
Meskipun terdengar simpel, Dikta merasa “Stop Bilang Iya” memiliki kedalaman makna yang kuat dan mampu mewakili pesan utama dari EP terbarunya. Lagu ini menjadi semacam pengingat bagi pendengar untuk lebih menghargai diri sendiri dan tidak selalu mengorbankan kebahagiaan demi persetujuan orang lain.
Berikut adalah lirik lengkap dari lagu “Stop Bilang Iya”:
Ternyata selama ini
Kamu tak menyadari
Apa yang kamu lakukan itu semua
Membunuhmu pelan-pelan
Kamu yang selalu bilang iya
Apa pun keadaanya
Kamu yang selalu saja
Merasa bisa terima semua
Ooh cukup ya sudah
Nanti kau gila
Katanya mau bahagia
Stop bilang iya
Ketika kau melawan hati mu gak karuan
Jadinya gak tegaan terus jadi pikiran
Hati ingin menolak tapi otak mendesak
Kamu juga ingin bahagia
Seperti layaknya manusia
Yang bebas lakukan apa saja
Ooh cukup ya sudah
Nanti kau gila
Katanya mau bahagia
Stop bilang iya
Ternyata selama ini
Kamu tak menyadari
Apa yang kamu lakukan itu semua
Membunuhmu pelan-pelan
Perubahan dalam musik Dikta juga terasa jelas dalam lagu “Stop Bilang Iya”. Dibandingkan karya-karya sebelumnya, lagu ini hadir dengan nuansa upbeat yang lebih kental, diperkaya dengan sentuhan synthesizer yang modern.
“Lagu ini bisa mewakili, bahwa musik saya sudah mulai berubah haluan,” ungkap Dikta mengenai arah musiknya yang baru. Ia menambahkan, “Gua suka sound synthesizer yang deep gitu. Karena setiap dengar sound seperti itu, saya berpikir oh ternyata musiknya bisa dibuat kayak begini.”
Lebih lanjut, Dikta menjelaskan bahwa EP Unapologetic merupakan hasil dari proses pencarian jati diri dalam bermusik. Sebagai mantan vokalis Yovie & Nuno, ia mengaku menyukai jenis musik yang dihadirkan dalam EP terbarunya ini.
“Gua enggak menjelekkan yang sebelumnya, cuma gua sekarang lebih suka yang seperti ini,” tuturnya. Menariknya, seluruh proses kreatif untuk enam lagu dalam EP ini diselesaikan dalam kurun waktu yang relatif singkat, yaitu sekitar dua bulan. “Dua bulan, enam lagu. Itu lumayan gila, sih,” pungkas Dikta.
Sementara itu, di belahan dunia lain, para penggemar grup idola K-pop ternama, BTS, tengah dilanda kekecewaan. Hal ini dipicu oleh lonjakan harga penginapan di Busan, Korea Selatan, menjelang konser besar yang akan diselenggarakan oleh grup tersebut.
BTS dijadwalkan akan menggelar konser di Busan pada tanggal 12 dan 13 Juni 2026. Konser ini merupakan bagian dari tur dunia mereka yang bertajuk ‘ARIRANG’. Tanggal konser bertepatan dengan peringatan hari debut BTS pada 13 Juni, yang diperkirakan akan menarik banyak penggemar dari dalam maupun luar negeri untuk datang ke Busan.
Para penggemar mengungkapkan rasa frustrasi mereka melalui berbagai forum daring. Mereka mengeluhkan bahwa tarif kamar hotel dan motel di Busan telah melonjak drastis, bahkan mencapai lima kali lipat dari harga normal. Fenomena ini menimbulkan tuduhan bahwa pihak penginapan sengaja memanfaatkan tingginya permintaan akibat konser untuk menaikkan harga secara tidak wajar.
Laporan dari Korea Times pada Sabtu (23/5/2026) menyebutkan bahwa sebuah kamar yang biasanya dapat disewa seharga sekitar 60.000 won per malam, kini ditawarkan dengan harga mencapai 760.000 won selama periode konser berlangsung. Kenaikan harga yang ekstrem ini sontak memicu kemarahan di kalangan para ARMY, sebutan untuk penggemar BTS.
Komisi Perdagangan Adil Korea bersama dengan Badan Konsumen Korea dilaporkan telah melakukan pemeriksaan terhadap 135 hotel dan motel di Busan. Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa rata-rata tarif kamar selama pekan konser mengalami kenaikan lebih dari dua kali lipat dibandingkan dengan akhir pekan sebelum dan sesudah acara tersebut.
Tarif kamar di motel bahkan dilaporkan mengalami kenaikan lebih dari tiga kali lipat dari harga normal. Sementara itu, tarif hotel juga meningkat hampir tiga kali lipat. Beberapa penginapan tercatat menetapkan harga lebih dari lima kali lipat dari harga semestinya. Sebagai contoh, kamar yang biasanya berharga 100.000 won kini dijual hingga 750.000 won, dan kamar seharga 300.000 won bisa mencapai 1,8 juta won.
Kekecewaan para penggemar semakin memuncak setelah munculnya laporan mengenai beberapa penginapan yang membatalkan reservasi yang sudah dilakukan jauh-jauh hari sebelum pengumuman konser. Penggemar menuduh bahwa pihak penginapan menggunakan alasan seperti overbooking atau renovasi untuk kemudian menjual kembali kamar-kamar tersebut dengan harga yang jauh lebih tinggi.
“Saya sudah memesan kamar beberapa bulan lalu, tetapi mereka membatalkannya dengan alasan overbooking atau renovasi, lalu menjualnya lagi dengan harga lebih mahal,” keluh salah seorang penggemar, mengungkapkan rasa kesalnya.
Menghadapi situasi yang memberatkan ini, sebagian penggemar mulai mempertimbangkan opsi lain. Ada yang berencana untuk melakukan perjalanan pulang-pergi ke Busan tanpa menginap, atau bahkan memutuskan untuk tidak mengeluarkan uang sepeser pun di Busan sebagai bentuk protes.
Komentar-komentar bernada kekecewaan dan protes ramai bermunculan di berbagai platform daring. Beberapa di antaranya menyatakan, “Saya tidak akan menghabiskan satu won pun di Busan,” atau “Saya bahkan akan membeli air minum di Seoul lalu membawanya,” hingga seruan, “Nol pengeluaran di Busan!”
Menanggapi keluhan yang terus berdatangan, pemerintah kota Busan dilaporkan telah mengambil langkah tegas. Mereka meluncurkan inspeksi gabungan yang berfokus pada kemungkinan pelanggaran terhadap Undang-Undang Pengendalian Sanitasi Publik, yang mengatur standar-standar akomodasi. Langkah ini bertujuan untuk menekan praktik kenaikan harga yang berlebihan oleh para pelaku usaha penginapan.
Baca juga : Jadwal dan Lokasi Samsat Keliling di Jadetabek 19 Mei 2026
Pejabat kota juga telah memberikan peringatan kepada para pengusaha penginapan agar tidak menaikkan tarif secara berlebihan. Rencananya, akan dilakukan inspeksi khusus terhadap penginapan-penginapan yang paling banyak menerima keluhan dari para pengunjung.






