DermayuMagz.com – Noni Suci Aristyani, seorang sarjana pendidikan, pernah bertekad untuk tidak akan pernah bekerja di sawah setelah menikah. Cita-citanya adalah menjadi guru atau dosen yang dianggap lebih bergengsi. Namun, takdir membawanya pada jalan yang berbeda ketika suaminya mengajaknya bertani.
Kini, Noni justru menikmati kesuksesan di dunia pertanian. Ia berhasil memanen kemangi hingga 20 kilogram setiap hari. Bahkan saat musim hujan, ia mampu menjual kemangi segar dengan harga tinggi, mencapai Rp25.000 per kilogram, tanpa khawatir harganya jatuh di tangan pengepul.
Kisah Noni bukanlah satu-satunya bukti bahwa sektor pertanian masih sangat menjanjikan. Ada pula lulusan arsitektur dan seorang insinyur yang memilih banting stir menjadi petani. Para pemuda dari Sleman, Yogyakarta ini membuktikan bahwa bertani bukan lagi pekerjaan yang dipandang sebelah mata atau hanya menjadi pilihan terakhir.
Bagi mereka, dunia pertanian adalah ladang bisnis yang sangat menguntungkan, asalkan dikelola dengan perencanaan yang matang dan didukung inovasi. Mereka tidak hanya bertani secara tradisional, tetapi juga melek teknologi untuk meningkatkan hasil panen dan membangun pasar sendiri.
Mereka adalah Ahmad Asrori dan Noni Suci dari ASR Farm, Muji Purwanto dari Kandang Gadri, serta Dimas Christy Kusumaputra dari Rejo Farm. Keempatnya menunjukkan bahwa generasi muda memiliki potensi besar untuk menjadi penggerak utama di sektor pangan nasional.
Dengan latar belakang pendidikan yang beragam, mulai dari otomotif, arsitektur, hingga teknik, mereka bersatu dalam visi yang sama. Mereka menerapkan sistem pertanian dan peternakan yang terintegrasi dan ramah lingkungan. Pendekatan ini tidak hanya menghemat biaya operasional, tetapi juga berkontribusi pada kelestarian alam.
Bukan Kisah Petani Tradisional
Kisah para petani muda ini berbeda dari gambaran petani tradisional. Mereka menguasai teknologi, mampu membangun pasar sendiri, dan tidak bergantung pada tengkulak. Ahmad Asrori, misalnya, menghabiskan sepuluh tahun bekerja di pabrik sebelum memutuskan untuk bertani.
Bersama istrinya, Noni, ia mendirikan ASR Farm. Bisnis mereka dimulai dari mencoba menanam kemangi di satu bedeng kecil. Siapa sangka, bisnis ini berkembang pesat hingga kewalahan memenuhi pesanan pasar. Dengan memanfaatkan digital marketing, kemangi ASR Farm dikenal karena kualitasnya yang terjamin.
“Selama manusia masih butuh makan, pertanian dan peternakan itu aman. Cobalah bertani. Kalau belum mencoba, enggak akan tahu enaknya,” ungkap Noni dengan optimis.
Ternak Ayam dengan Memanfaatkan Limbah
Muji Purwanto, seorang lulusan arsitektur dan aktivis lingkungan, memiliki kisah unik lainnya. Ia sempat mengalami depresi berat pada tahun 2023 akibat kegelisahannya melihat masalah sampah di Yogyakarta.
Muji kemudian menjadikan aktivitas beternak ayam sebagai media pemulihan mentalnya. Ia berhasil memproduksi telur ayam kampung organik tanpa menggunakan pakan pabrikan. Pakan ternaknya berasal dari limbah roti Indomaret, sisa bubur ayam, dan jeroan lele rebus.
Inovasi viralnya adalah kemasan telur dari pelepah pisang kering. Tujuannya sederhana, yaitu melindungi telur agar tidak pecah di jalanan yang rusak. “Intinya saya bukan mau branding. Saya cuma ingin telurnya tidak pecah,” ujar Muji.
Melon Premium yang Belum Ada
Dimas Christy Kusumaputra dari Rejo Farm memiliki visi yang lebih luas. Sebagai seorang insinyur, ia melihat peluang besar dalam bisnis pertanian yang berkelanjutan.
Rejo Farm kini mengelola sistem integrated farming zero waste yang telah menyerap sekitar 300 tenaga kerja, mayoritas Gen Z. Dimas mengkritik cara berpikir yang masih sempit tentang pertanian.
Menurutnya, pertanian modern harus mengadopsi teknologi dan kolaborasi lintas disiplin ilmu. Salah satu fokus utamanya adalah memenuhi pasar melon premium kualitas ekspor, yang pasokannya masih belum terpenuhi oleh produsen lokal.
“Kita ini kaya sejak dalam kandungan. Tapi kita tidak tahu cara mengelola kekayaan itu. Jangan sampai kita hanya jadi penonton di negeri sendiri, padahal kita punya tanah, manusia, dan pasar yang besar,” tegas Dimas.
Pertanian modern kini bukan lagi sekadar aktivitas fisik di bawah terik matahari. Di tangan generasi muda, pertanian telah bertransformasi menjadi industri masa depan yang penuh inovasi, teknologi, dan potensi ekonomi yang luar biasa. Pertanyaannya kini bukan lagi tentang kelayakan bisnis pertanian, melainkan keberanian untuk memulai dan tidak hanya menjadi penonton.
Pertanyaan Seputar Peluang Usaha Pertanian
Q: Mengapa bertani bisa menjadi peluang bisnis yang menjanjikan bagi anak muda?
A: Kebutuhan pangan adalah kebutuhan dasar manusia yang tidak akan pernah hilang. Dengan pemanfaatan teknologi, inovasi produk, dan strategi digital marketing, anak muda dapat meningkatkan margin keuntungan dengan memotong rantai pasok tengkulak dan menentukan harga pasar sendiri.
Q: Bagaimana cara memulai bisnis pertanian dari nol tanpa modal besar?
A: Anda dapat memulai dari skala rumahan dengan konsep urban farming atau memanfaatkan lahan pekarangan. Contohnya ASR Farm yang sukses berawal dari satu bedeng kemangi, atau Kandang Gadri yang menekan biaya pakan ternak dengan memanfaatkan limbah.
Q: Apa keuntungan menerapkan sistem kombinasi kebun dan ternak ramah lingkungan?
Baca juga : 6 Cara Mudah Berkebun Pakcoy Gantung Bebas Ulat di Lahan Sempit
A: Sistem integrated farming zero waste menciptakan sirkulasi yang efisien. Limbah peternakan menjadi pupuk untuk kebun, dan limbah pertanian atau organik dapat diolah menjadi pakan ternak berkualitas. Hal ini secara signifikan menekan biaya produksi.






