Nestapa Jemaah Hanania di Balik Bayang-Bayang First Travel

News5 Dilihat

DermayuMagz.com – Nestapa calon jemaah umrah Hanania Travel kembali mencuat, menyisakan kerugian finansial yang tak sedikit. Kasus ini mengingatkan kembali pada insiden serupa yang pernah terjadi pada travel umrah First Travel, di mana ribuan jemaah menjadi korban penipuan.

Banyak calon jemaah yang merasa tertipu karena impian mereka untuk beribadah ke Tanah Suci harus pupus. Berbagai upaya mediasi telah dilakukan, namun belum membuahkan hasil yang memuaskan.

Salah satu calon jemaah, Monica, menceritakan kisahnya yang penuh kekecewaan. Ia tergiur dengan penawaran paket umrah premium yang dipromosikan Hanania Travel melalui media sosial.

Pelayanan yang ditampilkan terlihat profesional, dengan pilihan paket yang beragam dan menarik. Mulai dari paket umrah reguler hingga paket yang menyertakan perjalanan ke destinasi lain seperti Dubai dan Turki.

Monica memutuskan untuk mendaftar paket “Premium Pelataran”. Biaya awal untuk satu paket adalah Rp38,9 juta. Namun, demi kenyamanan, ia melakukan upgrade kamar dengan tambahan Rp14 juta untuk dua orang.

Tak hanya itu, Monica juga menambah layanan dokumentasi fotografer pribadi dengan biaya hampir Rp5 juta. Total, ia telah menyetorkan uang sebesar Rp95,5 juta.

Pendaftaran dilakukan pada Desember 2025, dan seluruh pembayaran dilunasi pada Januari 2026. Pada awalnya, semua proses berjalan lancar. Dokumen seperti visa pun sudah rampung mendekati jadwal keberangkatan yang dijadwalkan pada 29 Maret 2026.

Namun, tiga hari sebelum keberangkatan, Monica justru mendapatkan kabar buruk. Anehnya, informasi tersebut tidak datang dari pihak Hanania Travel, melainkan dari penelusuran pribadinya di media sosial.

Ia mengetahui bahwa sebagian jemaah yang dijadwalkan berangkat pada 25 dan 26 Maret 2026 gagal terbang. Kekacauan sempat terjadi di bandara karena ada jemaah yang sudah tiba di sana.

Kenyataan bahwa impiannya batal seketika membuat Monica syok. Ia merasa beruntung belum berangkat ke bandara pada saat itu.

“Kalau enggak cari tahu sendiri, aku enggak akan tahu kalau umrah aku gagal,” ungkapnya dengan nada getir.

Bayang-Bayang Kasus First Travel

Meskipun merasa dibohongi, Monica dan jemaah lainnya tidak terburu-buru melaporkan kasus ini ke pihak kepolisian. Mereka memiliki kekhawatiran besar terkait nasib uang yang sudah disetorkan, yaitu kemungkinan refund.

Tragedi yang menimpa jemaah First Travel beberapa tahun lalu masih membekas di ingatan mereka. Para jemaah khawatir jika langsung menempuh jalur pidana dan memenjarakan pemilik travel, peluang untuk mendapatkan kembali uang mereka akan semakin kecil.

Baca juga : TK Aisyiyah Haurgeulis: Ajarkan Kurban Idul Adha Sejak Dini

Oleh karena itu, jalur damai melalui mediasi menjadi pilihan awal. Sebuah pertemuan besar sempat diadakan di Ballroom Ciputra pada April lalu, yang dihadiri oleh pihak travel, perwakilan jemaah, dan Kementerian Agama.

Dalam mediasi tersebut, pihak Hanania Travel berjanji untuk mengembalikan dana jemaah secara bertahap. Pilihan yang ditawarkan beragam, mulai dari pengembalian uang total (refund), penjadwalan ulang keberangkatan (re-schedule), hingga permintaan untuk tetap diberangkatkan.

Sebuah skema pembayaran pun disusun. Jemaah Syawal, yang mencakup jemaah yang gagal berangkat pada bulan Maret, dijanjikan akan menerima pengembalian dana sebesar 30 persen paling lambat tanggal 29 Mei.

Nilai dana yang harus dikembalikan sangatlah fantastis. Menurut Monica, untuk kelompok terbang bulan Maret saja, jumlahnya mencapai sekitar 1.500 orang. Angka ini belum termasuk jemaah yang dijadwalkan berangkat pada bulan Juni, Juli, dan Agustus.

Sayangnya, mendekati tenggat waktu yang dijanjikan, komitmen pihak travel kembali goyah. Janji manis tersebut perlahan menguap.

“Belum, belum semua,” kata Monica dengan nada kecewa saat ditanya mengenai realisasi pengembalian uang.

Ia mengakui ada beberapa jemaah yang sudah menerima transferan dana, bahkan ada yang langsung lunas sejak awal dinyatakan gagal berangkat. Namun, jumlahnya sangat sedikit dan pembayarannya dilakukan secara acak, tidak merata.

Melihat proses mediasi yang terus berjalan di tempat dan janji yang seringkali meleset, Monica mulai menyadari ada yang tidak beres dengan manajemen keuangan Hanania Travel. Ia menduga uang jemaah telah disalahgunakan.

“Dia itu ternyata gali lubang tutup lubang,” cetus Monica.

Dugaan kuat Monica mengarah pada skema di mana biaya keberangkatan satu kelompok jemaah sebenarnya ditopang oleh uang pendaftaran dari kelompok jemaah berikutnya. Ketika perputaran uang tersebut macet, maka runtuhlah seluruh sistem keberangkatan.

Kini, setelah mediasi tidak lagi menemui titik temu, Monica dan ratusan jemaah lainnya hanya bisa bersandar pada proses hukum di Polda Metro Jaya. Ia berharap keadilan dapat ditegakkan dan hak-hak mereka dikembalikan.

“Berharap pelakunya diproses hukum, dan uang kita bisa balik,” pungkasnya.