DermayuMagz.com – AC Milan tengah berupaya keras mencari sosok pelatih baru untuk menggantikan Massimiliano Allegri yang telah dipecat. Keputusan drastis ini diambil menyusul kegagalan Rossoneri menembus zona Liga Champions dan hanya mampu finis di posisi Liga Europa.
Situasi ini mendorong manajemen AC Milan untuk segera menjajaki berbagai kandidat potensial untuk mengisi kursi pelatih musim depan. Sejumlah nama besar mulai dikaitkan, termasuk Ralf Rangnick dan Arne Slot.
Di antara para kandidat tersebut, nama Mauricio Pochettino, yang saat ini menjabat sebagai pelatih Tim Nasional Amerika Serikat, mencuri perhatian. Munculnya kabar mengenai pertemuan antara perwakilannya dan pihak Milan semakin memanaskan spekulasi.
Isu ini mencuat di tengah laporan yang menyebutkan bahwa AC Milan ingin segera menyelesaikan urusan pelatih sebelum dimulainya persiapan pramusim. Namun, hingga kini, belum ada pernyataan resmi yang dikeluarkan oleh pihak klub mengenai hal ini.
Pochettino Buka Suara, Isyaratkan Peran Perwakilan dalam Kontak dengan Milan
Mauricio Pochettino sendiri tidak menampik kemungkinan adanya komunikasi antara timnya dan AC Milan. Ia menekankan bahwa peran perwakilan dalam dunia sepak bola adalah hal yang lumrah dan sering terjadi.
Pochettino menjelaskan bahwa banyak pihak yang bekerja di balik layar untuk mencari peluang terbaik di masa depan. Menurutnya, hal ini merupakan bagian yang normal dari dinamika sepak bola modern.
“Kami memiliki teman di dunia sepak bola, kami memiliki teman di mana-mana, dan perwakilan saya bekerja untuk saya untuk mencoba menemukan masa depan terbaik. Itu normal,” ujar Pochettino, seperti dikutip dari laporan Football Italia.
Ketika ditanya secara langsung mengenai apakah ia telah bertemu dengan perwakilan AC Milan, Pochettino memberikan jawaban yang tidak langsung. Namun, ia memberikan peringatan bahwa hal itu tidak berarti rombongannya tidak terlibat dalam negosiasi atas namanya.
“Perwakilan saya mungkin saja, karena mereka perlu melakukan pekerjaan mereka,” tambahnya, menyiratkan adanya kemungkinan komunikasi melalui perantaranya.
Baca juga : Kepemimpinan BGN Berganti
Pochettino Tegaskan Komitmen Jelang Piala Dunia
Di tengah derasnya rumor yang mengaitkannya dengan kepindahan ke Italia, Pochettino menegaskan bahwa fokus utamanya saat ini adalah bersama Tim Nasional Amerika Serikat. Ia tengah giat mempersiapkan timnya untuk menghadapi Piala Dunia 2026 yang akan diselenggarakan di kandang sendiri.
Ia berpendapat bahwa spekulasi mengenai masa depannya tidak akan mengganggu konsentrasinya dalam menjalankan tugasnya sebagai pelatih timnas. Menurutnya, semua pihak di sekitarnya tetap menjalankan tugas masing-masing sesuai dengan tanggung jawabnya.
“Orang-orang yang mempertanyakan komitmen saya hanya ingin menciptakan masalah. Kami fokus pada Piala Dunia,” tegas Pochettino, menunjukkan dedikasinya pada timnas AS.
Tim Nasional Amerika Serikat akan tergabung dalam Grup D pada ajang Piala Dunia 2026. Mereka dijadwalkan akan bersaing melawan tim-tim kuat seperti Turki, Australia, dan Paraguay.
(Sumber: Football Italia)
Liputan6.com – Kekalahan Arsenal di final Liga Champions 2025/2026 melawan Paris Saint-Germain (PSG) telah memicu gelombang kritik tajam, terutama dari mantan pemain Prancis, Christophe Dugarry. Pertandingan yang digelar di Puskas Arena pada Sabtu (30/05/2026) tersebut berakhir dengan skor 1-1 hingga perpanjangan waktu, sebelum akhirnya PSG memenangkan adu penalti.
Arsenal sempat unggul lebih dulu berkat gol cepat Kai Havertz di menit keenam. Namun, alih-alih melanjutkan momentum, The Gunners justru memilih untuk bermain lebih defensif dan memberikan penguasaan bola kepada PSG.
Pendekatan taktis ini berlanjut hingga akhir pertandingan, yang membuat PSG berhasil menyamakan kedudukan melalui tendangan penalti Ousmane Dembele. Hasil imbang tersebut memaksa pertandingan dilanjutkan ke babak adu penalti, di mana Arsenal akhirnya harus mengakui keunggulan PSG.
Kekalahan ini tentu menjadi pukulan telak bagi Arsenal, yang datang ke final dengan harapan besar untuk meraih trofi Eropa. Namun, cara bermain mereka di partai puncak justru menuai kecaman pedas dari berbagai kalangan, termasuk Dugarry.
Dugarry Emosi, Kecam Taktik Defensif Arsenal
Christophe Dugarry menjadi salah satu suara paling keras yang mengkritik pendekatan Arsenal dalam pertandingan final tersebut. Ia menilai bahwa tim asuhan Mikel Arteta terlalu fokus pada pertahanan setelah berhasil unggul di awal laga.
Menurut Dugarry, Arsenal kehilangan identitas permainan mereka yang khas di panggung terbesar sepak bola Eropa. Ia juga menyoroti banyaknya momen di mana tim tersebut terlihat sengaja mengulur-ulur waktu permainan.
Dugarry berpendapat bahwa cara bermain seperti itu tidak pantas ditampilkan di level final Liga Champions. Ia merasa bahwa gaya permainan tersebut justru merusak esensi dan daya tarik kompetisi tertinggi di Eropa.
“Kita melihat sapuan bola yang buruk, tim Arsenal yang secara sistematis mencoba mengulur waktu. Itu benar-benar tak tertahankan, tak dapat ditoleransi. Dan yang hampir terbukti mengerikan bagi sepak bola dan orang-orang yang mencintainya adalah mereka hampir memberikan ilusi bahwa dengan menciptakan dan melakukan begitu sedikit, Anda dapat memenangkan Liga Champions,” ungkap Dugarry dengan nada kesal dalam program Rothen S’enflamme di RMC Sport, seperti dilansir oleh Goal.
Dugarry Sebut Arsenal ‘Sekumpulan Badut’ di Panggung Eropa
Kritik Dugarry tidak hanya berhenti pada taktik permainan, tetapi juga menyasar mentalitas Arsenal secara keseluruhan. Ia menilai bahwa The Gunners datang ke pertandingan final dengan rasa percaya diri yang berlebihan, namun gagal membuktikannya di lapangan.
Ia juga menyinggung bahwa pendekatan permainan seperti itu tidak mencerminkan sejarah panjang dan gemilang yang dimiliki oleh Arsenal. Menurutnya, The Gunners telah mengabaikan identitas sepak bola mereka sendiri.
“Mereka sekumpulan badut. Mereka datang dengan ego yang berlebihan, dengan Arteta mengatakan, ‘Kita akan mengalahkan mereka’… Saya sangat senang Arsenal mendapat bagian yang tidak menguntungkan, dan saya berharap jika mereka ingin memenangkannya, mereka akan mulai bermain sepak bola,” ketusnya dengan tegas.
“Ini bukan Arsenal! Klub ini memiliki sejarah, mereka adalah The Gunners, ada warisan, gaya sepak bola. Mereka tidak bisa bermain seperti itu, itu tidak mungkin,” pungkasnya, menekankan betapa jauhnya permainan Arsenal dari nilai-nilai klub tersebut.






