Dampak Melemahnya Rupiah pada Bisnis

Bisnis4 Dilihat

DermayuMagz.com – Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) saat ini menjadi perhatian serius bagi dunia usaha di Indonesia. Kondisi ini tidak hanya mengganggu rencana investasi, tetapi juga berpotensi mengancam kelangsungan usaha itu sendiri.

Menurut ekonom Universitas Andalas, Syafruddin Karimi, pelemahan rupiah memberikan tekanan yang signifikan, terutama bagi sektor manufaktur. Kenaikan biaya impor bahan baku menjadi tantangan utama, sementara kemampuan untuk menyesuaikan harga jual produk seringkali terbatas oleh daya beli masyarakat.

“Pelemahan rupiah saat ini bukan sekadar masalah operasional harian. Ini adalah tekanan serius yang memengaruhi rencana produksi, investasi, arus kas, dan kepercayaan para pelaku usaha,” ujar Syafruddin saat dihubungi Liputan6.com, pada Selasa (19/5/2026).

Ketika nilai tukar rupiah menembus angka Rp 17.600 per dolar AS, perusahaan harus mengeluarkan biaya lebih besar untuk berbagai kebutuhan impor. Ini mencakup bahan baku, mesin, suku cadang, energi, obat-obatan, bahan kimia, teknologi, hingga pemenuhan kewajiban dalam mata uang asing.

Kenaikan biaya operasional ini secara langsung menggerus margin keuntungan perusahaan. Di sisi lain, daya beli masyarakat yang belum pulih sepenuhnya membuat perusahaan kesulitan untuk menaikkan harga produk.

“Dunia usaha kini dihadapkan pada pilihan yang sangat sulit. Mereka harus memutuskan apakah akan menaikkan harga, yang berisiko kehilangan konsumen, atau menahan harga jual dan menanggung penurunan margin. Pilihan lainnya adalah menunda rencana ekspansi bisnis,” jelas Syafruddin.

Syafruddin menambahkan bahwa keyakinan investor juga sangat dipengaruhi oleh dinamika pasar saham. Kondisi penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dalam beberapa waktu terakhir semakin menambah kekhawatiran.

Baca juga : Mengenal Jet Tempur Rafale untuk TNI AU

Industri Paling Terdampak

Syafruddin telah mengidentifikasi beberapa sektor industri yang paling rentan terhadap dampak pelemahan rupiah. Sektor manufaktur secara umum menjadi yang paling terpukul.

Secara spesifik, industri makanan dan minuman yang sangat bergantung pada bahan baku impor seperti gandum, gula, susu, kedelai, serta bahan tambahan pangan dan kemasan, merasakan dampak paling besar.

Industri farmasi juga menghadapi tantangan serupa karena ketergantungannya pada bahan baku obat, reagen, alat kesehatan, dan teknologi medis yang sebagian besar diimpor.

Selain itu, industri otomotif dan elektronik juga terdampak signifikan. Kedua sektor ini membutuhkan komponen, chip, mesin, dan suku cadang yang berasal dari luar negeri.

Industri kimia, plastik, tekstil, dan petrokimia yang menggunakan bahan antara berbasis impor juga merasakan tekanan. Sektor transportasi dan logistik tidak luput dari dampak negatif akibat kenaikan harga energi dan suku cadang yang terkait dengan nilai dolar.

“Pelemahan rupiah dapat memperlambat proses produksi, menunda realisasi investasi, dan melemahkan daya saing usaha. Ini terutama terjadi pada perusahaan yang belum mampu mengganti pasokan impor mereka dengan produk domestik,” tegas Syafruddin.

Respons Pengusaha Rupiah Melemah

Sebelumnya, Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia juga telah menyuarakan kewaspadaannya terhadap dampak pelemahan rupiah. Kadin menekankan bahwa daya tahan para pengusaha semakin tergerus oleh kondisi ini.

Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Otonomi Daerah, Sarman Simanjorang, mengakui adanya tekanan tinggi akibat pelemahan rupiah yang sempat mencapai Rp 17.614 per dolar AS.

“Saat ini rupiah kembali menyentuh level pelemahan terdalam dalam sejarah, yaitu Rp 17.614 per dolar AS, melemah 0,48% atau setara 84% dari posisi sebelumnya. Kondisi ini dipengaruhi oleh berbagai faktor eksternal dan domestik. Pelemahan ini sangat menekan psikologi pelaku usaha dan menjadi alarm yang perlu kita waspadai,” ungkap Sarman.

Sarman menjelaskan bahwa pelemahan rupiah berdampak pada arus kas perusahaan dan meningkatkan biaya operasional, khususnya beban yang timbul dari kenaikan biaya impor bahan baku.

Potensi Kenaikan Harga Produk

“Jika pelemahan ini terus berlanjut, daya tahan pelaku usaha akan semakin terbatas. Ada kekhawatiran penyesuaian harga akan terjadi di tingkat konsumen,” ujar Sarman.

Namun, jika pengusaha memutuskan untuk menaikkan harga produk guna menutupi peningkatan biaya produksi, akan muncul konsekuensi lain yang perlu dihadapi, termasuk dampaknya terhadap daya beli masyarakat.

“Jika harga produk mengalami penyesuaian, tentu ini akan memengaruhi daya beli masyarakat dan inflasi. Pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) juga akan semakin tertekan karena kenaikan harga bahan baku, logistik, dan distribusi. Namun, menaikkan harga penuh risiko karena takut produk tidak laku,” jelas Sarman.