Dolar AS Tembus Rp 18.000, BI Jelaskan Penyebabnya

Bisnis2 Dilihat

DermayuMagz.com – Bank Indonesia (BI) mengamati bahwa pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang kini menembus angka Rp 18.000 masih sejalan dengan tren yang terjadi di negara-negara regional. Secara keseluruhan, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada periode Year-to-Date (YTD) tercatat sebesar -7,44%.

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti, menyampaikan hal tersebut kepada media pada Kamis, 4 Juni 2026. Ia menambahkan bahwa cadangan devisa Indonesia masih terjaga dengan baik, berada di level US$ 146,2 miliar pada akhir April 2026.

Destry menjelaskan bahwa pelemahan nilai tukar rupiah ini dipengaruhi oleh beberapa faktor. Salah satunya adalah meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah yang kembali memanas. Eskalasi ini menghambat prospek perdamaian, mendorong harga minyak tetap tinggi, serta meningkatkan risiko inflasi global.

Selain itu, kondisi tersebut juga memicu arus dana keluar dari negara-negara berkembang (emerging markets). Di sisi lain, kebutuhan domestik Indonesia juga masih cukup besar, sejalan dengan pola repatriasi dividen dan pembayaran Utang Luar Negeri (ULN).

Bank Indonesia menegaskan komitmennya untuk terus hadir di pasar. BI akan meningkatkan intensitas intervensi guna memastikan mekanisme pasar berjalan lancar dan stabilitas nilai tukar rupiah terjaga sesuai dengan fundamentalnya.

Selanjutnya, BI juga akan terus memperkuat struktur suku bunga instrumen moneter yang berorientasi pada pasar. Tujuannya adalah untuk tetap menarik aliran modal masuk ke instrumen aset domestik Indonesia.

Upaya yang Dilakukan Bank Indonesia

Bank Indonesia telah dan akan terus melakukan berbagai upaya untuk menstabilkan nilai tukar rupiah. Intervensi yang berkesinambungan akan terus dilakukan secara konsisten.

Intervensi ini meliputi transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot, dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik. Selain itu, BI juga melakukan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.

Koordinasi dan komunikasi dengan korporasi serta pelaku pasar lainnya juga terus dilakukan secara intensif. Bank Indonesia berupaya menjaga agar ekspektasi pasar tetap sejalan dengan fundamental ekonomi Indonesia.

Lebih lanjut, BI juga aktif mendorong penggunaan mata uang lokal dalam kerja sama bilateral melalui skema Local Currency Transaction (LCT). Langkah ini merupakan upaya untuk mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS dan memitigasi risiko volatilitas nilai tukar.

Kerja sama LCT ini telah terjalin dengan beberapa negara mitra dagang, di antaranya Tiongkok, Jepang, Malaysia, Thailand, Korea Selatan, dan Uni Emirat Arab. Diversifikasi transaksi perdagangan melalui skema LCT ini menunjukkan peningkatan yang signifikan.

Pada bulan April 2026, nilai transaksi LCT mencapai sekitar US$ 22,7 miliar. Angka ini mendekati total nilai transaksi sepanjang tahun 2025 yang mencapai sekitar US$ 25,7 miliar.

Rupiah Tembus Rp 18.019 per Dolar AS, Terlemah Sepanjang Sejarah

Sebelumnya, nilai tukar rupiah kembali mengalami tekanan terhadap dolar AS pada perdagangan Kamis, 4 Juni 2026, pagi. Mata uang Garuda tercatat melemah hingga menyentuh level Rp 18.019 per dolar AS pada pukul 10.12 WIB.

Posisi ini menandai salah satu titik terlemah rupiah dalam beberapa waktu terakhir, bahkan menembus level psikologis yang penting.

Analis mata uang dari Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai bahwa tekanan terhadap rupiah masih sangat dipengaruhi oleh faktor eksternal yang kuat. Menurutnya, meningkatnya ketidakpastian global dan kondisi geopolitik menjadi pendorong utama penguatan dolar AS.

“Rupiah diperkirakan akan melemah terhadap dolar AS yang menguat di tengah tensi geopolitik yang meningkat di Timur Tengah,” kata Lukman, seperti dikutip dari Antara.

Selain faktor geopolitik, sejumlah data ekonomi AS yang dirilis lebih baik dari ekspektasi pasar juga turut menopang penguatan dolar AS. Data ketenagakerjaan AS yang solid serta peningkatan aktivitas sektor jasa berdasarkan survei Institute for Supply Management (ISM) telah memperkuat keyakinan investor terhadap ketahanan ekonomi negara tersebut.

Kondisi ini kemudian mendorong permintaan terhadap dolar AS sebagai aset yang dianggap lebih aman (safe haven). Akibatnya, banyak mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, mengalami tekanan dan bergerak melemah terhadap dolar AS.

BI Diperkirakan Perkuat Intervensi

Dari sisi domestik, sentimen pasar saat ini dinilai belum cukup kuat untuk memberikan dukungan signifikan bagi pergerakan rupiah. Kondisi ini membuat tekanan terhadap mata uang Indonesia masih berpotensi berlanjut dalam jangka pendek.

Meskipun demikian, Lukman memperkirakan bahwa pelemahan rupiah kemungkinan tidak akan berlangsung tanpa batas. Bank Indonesia (BI) diperkirakan akan meningkatkan langkah stabilisasi untuk menjaga nilai tukar agar tidak bergerak terlalu jauh dari level fundamentalnya.

Menurutnya, posisi rupiah yang kembali mendekati level psikologis Rp18.000 per dolar AS berpotensi mendorong bank sentral untuk melakukan intervensi yang lebih agresif di pasar keuangan.

“Sentimen domestik yang masih buruk, namun kembali mendekati level psikologi baru, kemungkinan Bank Indonesia akan mengintervensi secara agresif,” tambah Lukman.

Dengan berbagai faktor yang memengaruhi pasar saat ini, Lukman memperkirakan pergerakan rupiah masih akan berlangsung fluktuatif dalam beberapa waktu ke depan. Ia memprediksi nilai tukar rupiah akan bergerak di kisaran Rp17.900 hingga Rp18.050 per dolar AS.

Pelaku pasar pun diharapkan untuk terus mencermati perkembangan geopolitik global, data ekonomi AS, serta langkah-langkah konkret yang diambil oleh Bank Indonesia untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.