Ekonom: Kebijakan Tak Pasti Turunkan Daya Saing Indonesia

Bisnis5 Dilihat

DermayuMagz.com – Indonesia mengalami penurunan signifikan dalam peringkat daya saing global, anjlok delapan anak tangga ke posisi 48 dari 70 negara. Penurunan ini tercatat dalam laporan terbaru The International Institute for Management Development (IMD) yang dirilis pada Juni 2026, berbanding terbalik dengan posisi ke-40 yang diraih pada tahun sebelumnya.

Yusuf Rendy Manilet, seorang ekonom dari Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, mengemukakan bahwa kemerosotan daya saing ini merupakan cerminan dari berbagai persoalan struktural yang dihadapi Indonesia. Ia menyoroti bahwa tiga dari empat pilar utama yang menjadi dasar penilaian IMD menunjukkan pelemahan yang berakar pada kebijakan pemerintah.

Pilar-pilar tersebut meliputi efisiensi pemerintah, efisiensi bisnis, dan infrastruktur. Yusuf menekankan bahwa efisiensi pemerintah menjadi fondasi krusial yang secara langsung memengaruhi kinerja kedua pilar lainnya. Oleh karena itu, setiap ketidakpastian atau inefisiensi dalam tata kelola pemerintahan berpotensi merambat dan melemahkan sektor bisnis serta infrastruktur.

Menurut Yusuf, akar masalahnya bersifat struktural. Di ranah efisiensi pemerintah, pelaku usaha masih bergulat dengan ketidakpastian regulasi, inkonsistensi kebijakan, serta birokrasi yang belum sepenuhnya efisien. Situasi ini menciptakan lingkungan bisnis yang kurang stabil dan sulit diprediksi.

Lebih lanjut, Yusuf menyoroti adanya penyesuaian prioritas belanja negara dan realokasi anggaran yang cukup besar dalam setahun terakhir. Meskipun niat di balik kebijakan tersebut mungkin baik, tahap transisi sering kali menimbulkan gejolak dan ketidakpastian bagi para pelaku usaha maupun investor. Ketidakpastian inilah yang kemudian berdampak negatif pada persepsi dan peringkat daya saing Indonesia.

Pilar Efisiensi Bisnis yang Mengkhawatirkan

Penurunan paling drastis terjadi pada pilar efisiensi bisnis, yang merosot tajam dari peringkat ke-26 menjadi posisi 50. Yusuf menginterpretasikan penurunan ini sebagai indikasi bahwa dunia usaha memandang lingkungan bisnis di Indonesia saat ini kurang kondusif dibandingkan periode sebelumnya.

Beberapa faktor yang berkontribusi pada pelemahan efisiensi bisnis ini meliputi ketidakpastian kebijakan yang terus berlanjut, akses pembiayaan yang masih terbatas, serta produktivitas yang belum menunjukkan peningkatan signifikan. Selain itu, kualitas tata kelola dan manajemen di berbagai sektor bisnis juga dinilai masih lemah.

Sementara itu, terkait pilar infrastruktur, Yusuf mengklarifikasi bahwa penilaian IMD tidak hanya mencakup infrastruktur fisik seperti jalan dan pelabuhan. Penilaian ini juga merambah ke sektor-sektor krusial lainnya, termasuk pendidikan, kesehatan, riset, teknologi, dan kualitas sumber daya manusia (SDM).

Indonesia dihadapkan pada tantangan besar dalam pengembangan infrastruktur non-fisik ini. Yusuf berpendapat bahwa fokus pembangunan selama ini cenderung lebih berat pada infrastruktur fisik, sementara pengembangan kualitas SDM berjalan lebih lambat. Padahal, dalam jangka panjang, daya saing sebuah negara sangat ditentukan oleh kualitas tenaga kerja dan kapasitas inovasinya.

Faktor Eksternal Turut Berkontribusi

Selain faktor-faktor domestik yang telah disebutkan, Yusuf juga menggarisbawahi peran faktor eksternal dalam merosotnya daya saing Indonesia. Perlambatan ekonomi global dan ketidakpastian perdagangan internasional menjadi salah satu penyebab utamanya.

Periode boom komoditas yang sempat memberikan dorongan signifikan bagi perekonomian Indonesia, kini telah berakhir. Hal ini berbeda dengan beberapa negara tetangga, seperti Malaysia dan Filipina, yang justru menunjukkan percepatan reformasi dan investasi di sektor industri serta ekonomi digital.

“Akibatnya, sebagian penurunan peringkat Indonesia juga terjadi karena negara lain bergerak lebih cepat dalam melakukan perbaikan dan inovasi,” pungkas Yusuf, menjelaskan bahwa dinamika global dan kemajuan negara lain turut memengaruhi posisi relatif Indonesia di kancah internasional.