DermayuMagz.com – Aktris Hana Saraswati akan kembali menyapa penikmat film layar lebar melalui proyek terbarunya, Lastri Arwah Kembang Desa. Film yang mengangkat cerita urban legend dari Pati ini diarahkan oleh sutradara Hendry Tivo.
Dalam film ini, Hana Saraswati memerankan karakter Lastri, seorang istri yang digambarkan sangat setia dan mencintai suaminya. Namun, kehidupan rumah tangga Lastri berakhir tragis, menjadikannya sebuah legenda urban yang masih dikenang.
Hana Saraswati mengungkapkan bahwa film ini memiliki tiga daya tarik utama yang membuatnya antusias. Pertama, status urban legend dari Lastri sendiri yang sudah dikenal luas di masyarakat, meskipun proses syutingnya dilakukan di Lumajang, Jawa Timur.
“Urband legend dari Pati tapi memang kita produksinya di Lumajang,” ujar Hana Saraswati saat ditemui di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, pada Selasa (23/6/2026).
Daya tarik kedua yang disorot Hana adalah kualitas naskahnya. Ia menilai penulisan skenario film Lastri Arwah Kembang Desa sangat apik dan memiliki drama yang kental. Hana menambahkan, banyak yang mengira film ini murni horor karena tampilan poster dan judulnya, namun sebenarnya film ini bergenre drama.
“Menurut saya, film Lastri Arwah Kembang Desa bagus banget naskahnya. Penulisannya apik, dramanya kental. Jadi mungkin banyak dari teman media mengira Lastri ini film horor karena dari font tulisan, tampilan posternya pun horor. Tapi perlu diyakini sebenarnya Lastri ini film drama. Kami menceritakan bukan soal Lastri menakut-nakuti orang,” jelas Hana Saraswati.
Film yang dijadwalkan tayang di bioskop mulai 16 Juli 2026 ini akan mengajak penonton menelusuri perjalanan hidup Lastri hingga akhirnya menjadi sebuah urban legend.
Hana Saraswati mengaku merasa penasaran saat pertama kali membaca skenario film ini beberapa bulan lalu. Ia terkesan dengan cerita yang luar biasa dan struktur penulisan yang unik.
“Saya baca pertama kali itu penasaran karena selain ceritanya luar biasa menurut saya, secara penulisan terbagi dua fase. Jadi dalam dua jam tayang ini kita dibawa ke tahun 1980-an sama tahun 2020-an. Ada banyak hal yang diolah,” ungkap Hana Saraswati.
Meskipun terbagi dalam dua lini masa, alur cerita film ini dijamin tidak akan membingungkan penonton dan tetap mudah diikuti. Penokohan karakter dalam naskah juga dinilai solid.
Daya tarik ketiga yang diungkapkan Hana Saraswati adalah pemilihan lokasi syuting yang sangat mendukung atmosfer film.
“Ketiga, pemilihan set. Entah kenapa yang dipilih set-nya horor semua. Jadi yang dipakai untuk rumah Lastri itu rumah kosong yang memang bekas peninggalan Belanda pula. Itu di tengah-tengah pabrik gula,” terangnya.
Lokasi syuting yang dipilih memang identik dengan suasana yang menyeramkan. Rumah kosong peninggalan Belanda yang berada di tengah pabrik gula memberikan nuansa horor yang kental.
“Jadi mengerti, kan pabrik gula tuh identik dengan ya, we know, kita semua tahu. Jadi suasananya horor, terasa. Yang enggak percaya (soal hantu dan klenik) pun setelah syuting Lastri jadi percaya,” ujar Hana Saraswati.
Selain Hana Saraswati, film Lastri Arwah Kembang Desa juga didukung oleh deretan aktor dan aktris lintas generasi. Di antaranya adalah Yama Carlos, Audy Bella, Joe Richard, Ratu Meta, Debby Sahertian, dan Gary Iskak.
Menariknya, poster film Lastri Arwah Kembang Desa dibuat setelah Gary Iskak meninggal dunia pada November 2025. Hal ini diungkapkan oleh Audy Bella, yang juga berperan sebagai produser film tersebut.
Untuk poster yang menampilkan Gary Iskak, tim produksi menggunakan metode body double atau pemeran pengganti. Wajah almarhum kemudian ditempelkan pada tubuh pemeran pengganti.
“Jadi bukan tubuh dia. Kami mencari yang mirip bodi dia terus dipasang (foto) mukanya almarhum,” jelas Audy Bella.
Audy Bella mengenang Gary Iskak sebagai sosok seniman yang positif, bertanggung jawab, dan memiliki dedikasi tinggi dalam dunia seni peran.
DermayuMagz.com – Putra mendiang musisi Liam Payne, Bear Grey Payne, kini secara resmi menjadi ahli waris tunggal atas kekayaan ayahnya. Dokumen pengadilan yang diperoleh media mengungkapkan bahwa Bear, yang baru berusia sembilan tahun, akan menerima warisan sebesar US$ 29.007.998, atau setara dengan sekitar Rp 517 miliar.
Sebagian dari aset warisan ini dapat diakses oleh Bear segera, namun sebagian besar akan disimpan dalam dana perwalian hingga ia mencapai usia dewasa, yaitu 18 tahun.
Di Inggris, sistem pewarisan harta warisan umumnya memprioritaskan pasangan sah almarhum. Namun, jika almarhum tidak memiliki pasangan sah, harta warisan akan diwariskan kepada kerabat sedarah terdekat, termasuk anak-anak.
Penting untuk dicatat bahwa Liam Payne meninggal dunia tanpa meninggalkan surat wasiat. Hal ini membuat proses pembagian warisan mengikuti aturan hukum yang berlaku di Inggris.
Pada Mei 2025, atau tujuh bulan setelah kepergian Liam Payne, ibunda Bear, Cheryl Cole, ditunjuk sebagai administrator harta warisan mendiang melalui keputusan pengadilan. Bersama dengan pengacara Richard Mark Bray, Cheryl bertugas mengelola aset tersebut.
Saat itu, nilai bruto harta warisan Liam Payne di Inggris diperkirakan mencapai US$ 38 juta, dengan nilai bersih sekitar US$ 32,2 juta. Meskipun ditunjuk sebagai administrator, Cheryl dan Bray memiliki wewenang terbatas dalam mendistribusikan aset tersebut.
Liam Payne dan Cheryl Cole pertama kali bertemu saat Liam masih remaja dan mengikuti audisi X Factor pada tahun 2008. Hubungan mereka semakin dekat beberapa tahun kemudian, dan mereka dikaruniai putra mereka, Bear, pada 22 Maret 2017.
Liam Payne mengumumkan kelahiran putranya dengan penuh kebahagiaan. “Saya sangat bahagia menyambut kelahiran bayi laki-laki kami ke dunia ini, ini adalah momen yang tidak akan pernah saya lupakan seumur hidup dan menjadi kenangan favorit saya hingga saat ini,” ujarnya.
Meskipun hubungan Liam dan Cheryl berakhir pada Juli 2018, keduanya berkomitmen untuk tetap membesarkan Bear bersama dengan baik.
Liam Payne meninggal dunia pada 16 Oktober 2024, setelah mengalami insiden tragis jatuh dari balkon hotel di Buenos Aires, Argentina.






