Indonesia Bidik Pasar Belarus untuk Kakao dan Sawit

Bisnis3 Dilihat

DermayuMagz.com – PT Indonesia Belarus Jaya, sebuah entitas di bawah naungan Jaya Group, menargetkan penguatan perdagangan komoditas antara Indonesia dan Belarus melalui kolaborasi bisnis dengan beberapa perusahaan dari negara tersebut.

Tomy Suhartanto, CEO Jaya Group, menyatakan bahwa pembentukan PT Indonesia Belarus Jaya bertujuan untuk memberikan dukungan nyata terhadap kerja sama bilateral kedua negara, khususnya dalam sektor perdagangan dan industri.

“PT Indonesia Belarus Jaya adalah perusahaan yang dibentuk di bawah naungan Holding Jaya Group. Fokus dan concern-nya adalah untuk langsung mendukung dan melakukan aksi nyata mendukung kerja sama bilateral dua negara Indonesia dan Belarus,” kata Tomy seperti dikutip dari Antara pada Minggu, 17 Mei 2026.

Ia menambahkan bahwa kerja sama ini berfokus pada optimalisasi potensi komoditas dari kedua negara agar dapat diserap dan dimanfaatkan oleh pasar masing-masing.

Tomy menyebutkan bahwa komoditas Indonesia yang berpotensi diterima oleh pasar Belarus antara lain adalah kakao dan minyak kelapa sawit.

Di sisi lain, produk-produk dari Belarus yang dinilai memiliki potensi untuk dimanfaatkan di Indonesia mencakup susu, kabel dan kawat, serta pupuk.

Concern kami dalam proses kerja sama ini intinya adalah mengoptimalkan segala potensi yang ada di antara kedua negara,” jelas Tomy.

Sebagai langkah konkret, PT Indonesia Belarus Jaya telah menandatangani nota kesepahaman bisnis dengan beberapa perusahaan Belarus. Perusahaan-perusahaan tersebut adalah OJSC Minsk Dairy Plant No. 1, Energi Complekt, OJSC Dolomite, dan Belindo Trade.

Penandatanganan kerja sama ini dilaksanakan bersamaan dengan penyelenggaraan Sidang Komisi Bersama (SKB) ke-8 Indonesia-Belarus yang berfokus pada Kerja Sama Ekonomi di Minsk, Belarus.

Sidang komisi bersama ini secara resmi dibuka dengan penandatanganan Agreed Minutes oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia, Airlangga Hartarto, dan Deputi Perdana Menteri Belarus, Viktor Karankevich.

Dalam forum tersebut, delegasi dari Indonesia dan Belarus mendiskusikan berbagai area kerja sama yang potensial. Bidang-bidang tersebut meliputi perdagangan, investasi, industri, pertanian dan ketahanan pangan, kehutanan, perbankan, kesehatan, pendidikan, ilmu pengetahuan dan teknologi, kebudayaan, olahraga, serta pariwisata.

Selanjutnya, selain kerja sama yang melibatkan PT Indonesia Belarus Jaya, tercatat pula penandatanganan nota kesepahaman antara PT Pupuk Indonesia (Persero) dengan Nedra Nezhin.

Total nilai dari kelima komitmen bisnis yang tertuang dalam nota kesepahaman tersebut diperkirakan mencapai Rp7 triliun.

Tomy Suhartanto menekankan bahwa penandatanganan kerja sama bisnis internasional ini tidak hanya bertujuan untuk kepentingan bisnis semata, tetapi juga untuk mendukung agenda strategis pemerintah dalam memperkuat hubungan ekonomi antara Indonesia dan Belarus.

Lebih lanjut, kerja sama ini diharapkan dapat meningkatkan daya saing pasar domestik Indonesia melalui masuknya produk-produk yang memiliki nilai kompetitif.

“Tujuan dari kami melakukan perjanjian bisnis internasional ini selain untuk mendukung program pemerintah juga untuk memberikan daya saing yang kompetitif di pasar Indonesia,” ungkap Tomy.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, turut menyampaikan harapannya agar kesepahaman yang telah dicapai dalam sidang komisi bersama tersebut dapat segera diterjemahkan menjadi langkah-langkah konkret. Langkah-langkah ini diharapkan memberikan dampak positif langsung terhadap peningkatan hubungan ekonomi antara kedua negara.

Tomy Suhartanto menunjukkan optimisme terhadap perkembangan hubungan ekonomi antara Indonesia dan Belarus di masa mendatang. Hal ini seiring dengan terbukanya berbagai peluang kerja sama di sektor perdagangan dan industri pada berbagai lini strategis.

Baca juga : Dua Penipu ATM di Tangerang Tertangkap Setelah Beraksi 15 Kali

Ia menambahkan bahwa fondasi hubungan antara Indonesia dan Belarus telah terbentuk sejak masa pemerintahan mantan Presiden Abdurrahman Wahid. Peluang untuk mengembangkan hubungan ini secara optimal dinilai sangat besar pada masa pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.