Indonesia Perlu Ribuan Sapi Perah untuk Capai Swasembada Susu

Bisnis6 Dilihat

DermayuMagz.com – Indonesia masih menghadapi tantangan besar dalam upaya mencapai swasembada susu. Kebutuhan yang tinggi untuk memenuhi konsumsi domestik menuntut peningkatan signifikan dalam populasi sapi perah.

Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Kementerian Pertanian (Kementan) memperkirakan, Indonesia memerlukan sekitar 2 juta ekor sapi perah untuk mewujudkan swasembada susu. Angka ini jauh melampaui populasi sapi perah yang saat ini ada, yaitu sekitar 540 ribu ekor yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia.

Direktur Hilirisasi Hasil Peternakan Ditjen PKH, Makmun, menyatakan bahwa kekurangan ini mencapai sekitar 1,4 juta ekor sapi perah. Penambahan jumlah ini sangat krusial untuk menunjang pemenuhan kebutuhan susu masyarakat Indonesia.

Selain peningkatan jumlah populasi, Makmun juga menyoroti pentingnya peningkatan produktivitas susu dari setiap sapi perah. Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa rata-rata produktivitas sapi perah saat ini masih berkisar 12,5 liter per ekor per hari.

Jika produktivitas ini dapat ditingkatkan menjadi 15 hingga 20 liter per ekor per hari, maka jumlah sapi perah yang dibutuhkan untuk swasembada akan berkurang. Konsepnya adalah kombinasi antara penambahan populasi dan peningkatan efisiensi produksi.

Untuk mengatasi kekurangan populasi sapi perah, pemerintah telah mengambil langkah dengan melakukan impor sapi perah. Pada tahun 2025, Indonesia telah mendatangkan 15 ribu ekor sapi perah yang sedang dalam kondisi bunting.

Sapi-sapi impor ini diharapkan dapat segera berkembang biak. Dengan asumsi 50% betina dan 50% jantan dari anak sapi yang lahir, diharapkan akan ada tambahan sekitar 7.000 ekor sapi betina yang siap bergenerasi. Angka ini akan terus bertambah seiring dengan siklus reproduksi sapi yang ada.

Ditambah dengan populasi sapi perah yang sudah ada di dalam negeri, yang sebagian besar merupakan betina, diharapkan dapat menghasilkan tambahan populasi sekitar 100.000 ekor setiap tahunnya. Namun, angka ini masih perlu ditingkatkan secara signifikan.

Susu MBG Dipasok Koperasi

Dalam rangka mendukung program Makan Bergizi Gratis (MBG), Kementan mengusulkan konsep ‘Dapur Susu’ yang dikelola oleh koperasi. Konsep ini bertujuan untuk memastikan pasokan susu yang stabil dan merata ke seluruh penerima program.

Direktur Hilirisasi Hasil Peternakan, Makmun, menjelaskan bahwa Dapur Susu Indonesia (DaSI) ini akan fokus pada produksi susu pasteurisasi dan sterilisasi yang dapat dikelola dengan modal koperasi yang relatif minim.

Dengan adanya Dapur Susu, para pemilik usaha skala kecil dan koperasi akan mendapatkan kepastian penyerapan hasil produksi susu mereka. Hal ini penting mengingat regulasi program MBG mewajibkan penyediaan susu minimal dua kali dalam seminggu bagi para penerimanya.

Makmun menyebutkan bahwa Kementan telah memulai integrasi peternakan sapi dengan produsen susu di Sulawesi Selatan sebagai pilot project. Dengan modal sekitar Rp 5 miliar, sebuah unit dapur susu dapat dikelola untuk mengurus 100-200 ekor sapi sebagai pemasok kebutuhan susu program MBG.

Baca juga : Frenkie de Jong Pulih dari Cedera Menjelang Piala Dunia 2026

Unit dapur susu ini diharapkan dapat menyuplai kebutuhan susu untuk sekitar 5 hingga 10 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau Dapur MBG di wilayah sekitarnya. Konsep ini menawarkan solusi yang efisien dan terjangkau.

Cukup Modal Rp 5 Miliar

Konsep Dapur Susu ini dinilai sebagai peluang emas bagi peternak skala kecil dan koperasi. Selama ini, industri susu cenderung terkonsentrasi di Pulau Jawa, meninggalkan potensi besar di luar Jawa yang belum tergarap optimal.

Makmun menambahkan, peternak skala kecil seringkali kalah dalam hal promosi dan penjualan dibandingkan dengan industri besar. Dengan adanya Dapur Susu yang terintegrasi dengan program pemerintah, masalah penyerapan hasil produksi dapat teratasi.

Pemerintah berencana untuk memberikan bantuan dalam pengembangan Dapur Susu ke depannya. Hal ini untuk memastikan keberlanjutan program dan memberikan jaminan bagi para peternak.

Dengan adanya dukungan pemerintah, mulai dari pengembangan, produksi, hingga penyerapan hasil, para peternak akan lebih termotivasi untuk meningkatkan usaha mereka. Ketersediaan sapi perah yang cukup akan menjadi kunci keberhasilan program ini.

Sebaran Sapi Perah

Saat ini, sebaran sapi perah di Indonesia masih belum merata. Mayoritas populasi sapi perah masih terkonsentrasi di Pulau Jawa, terutama di Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.

Namun, terdapat potensi besar di luar Jawa, seperti di Sumatera, Sulawesi, dan Nusa Tenggara. Pengembangan peternakan sapi perah di daerah-daerah ini dapat membantu pemerataan ekonomi dan mengurangi ketergantungan pada satu wilayah.

Kendala utama dalam pengembangan di luar Jawa adalah ketersediaan bibit sapi perah unggul dan infrastruktur pendukung. Oleh karena itu, diperlukan program intensif dari pemerintah untuk mengatasi kendala tersebut.

Makmun menekankan bahwa dengan adanya program Dapur Susu yang terhubung langsung dengan kebutuhan program MBG, para peternak akan memiliki kepastian pasar. Hal ini akan mendorong peningkatan populasi dan produktivitas sapi perah secara keseluruhan.

Upaya swasembada susu ini merupakan langkah strategis untuk mewujudkan ketahanan pangan nasional di sektor susu. Dengan kolaborasi antara pemerintah, peternak, koperasi, dan industri, Indonesia optimis dapat mencapai tujuannya.