Kurangi Sampah Organik, Menko Pangan Perkenalkan Teknologi Lahsamor Buatan BRIN

News4 Dilihat

DermayuMagz.com – Tumpukan sampah organik yang terus meningkat menjadi perhatian serius pemerintah. Untuk mengatasinya, Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, memperkenalkan sebuah solusi inovatif: teknologi Lahsamor, sebuah ciptaan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

Teknologi ini diharapkan dapat menjadi alternatif efektif dalam mengelola sampah organik, khususnya di daerah pariwisata seperti Bali yang memiliki volume sampah cukup tinggi.

Pengenalan teknologi ini dilakukan Zulkifli Hasan di sela-sela kegiatan Apel Siaga Pilah Sampah di Lapangan Renon, Bali. Ia secara langsung meninjau cara kerja Lahsamor yang dirancang khusus untuk mengolah sampah organik rumah tangga secara harian.

Dalam paparannya, Zulkifli Hasan menjelaskan bahwa Lahsamor memiliki potensi besar untuk mengurangi jumlah sampah yang berakhir di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA). Diperkirakan, teknologi ini mampu menekan hingga 40 persen sampah rumah tangga.

Meskipun saat ini fokus penggunaannya masih pada skala rumah tangga, Zulkifli Hasan melihat potensi untuk pengembangan lebih lanjut. Ia bahkan secara spesifik meminta agar teknologi ini dapat dibuat dalam skala yang lebih besar, misalnya untuk kebutuhan sekolah atau institusi lain yang mampu menampung hingga 50 kilogram sampah.

Latar Belakang Inovasi Lahsamor

Lahsamor sendiri merupakan hasil riset dan pengembangan dari BRIN. Keberadaannya bukan untuk menggantikan teknologi pengolahan sampah lain yang sudah ada di Bali, seperti teba modern. Sebaliknya, Lahsamor hadir sebagai pelengkap dan solusi bagi masyarakat yang mungkin kesulitan menerapkan metode lain di lahan terbatas.

Cara kerja Lahsamor terbilang praktis. Pengguna hanya perlu memasukkan sampah organik busuk dengan jumlah sekitar 0,5 hingga 1 kilogram per hari, lalu memutar tuas sebanyak lima kali. Proses ini jauh lebih sederhana dibandingkan dengan metode pengomposan konvensional.

Perbedaan utama Lahsamor dengan kantong kompos yang umum digunakan terletak pada kemudahan pengambilannya. Jika kompos dari kantong kompos perlu diambil secara manual dan seringkali memerlukan kombinasi berbagai bahan, Lahsamor hanya memerlukan putaran tuas, dan kompos akan terurai serta jatuh dengan sendirinya.

Pemilahan Sampah Tetap Menjadi Kunci

Meskipun inovasi seperti Lahsamor sangat membantu, Zulkifli Hasan menegaskan bahwa kunci utama dalam menyelesaikan permasalahan sampah adalah pemilahan. Upaya memilah sampah dari sumbernya, baik sampah organik maupun anorganik, harus menjadi prioritas.

Ia mengakui bahwa mengubah kebiasaan memilah sampah di tingkat rumah tangga mungkin terasa sulit bagi sebagian orang. Namun, Zulkifli berpendapat bahwa penerapan ini seharusnya lebih mudah dilakukan di lingkungan yang lebih terorganisir seperti sekolah, kantor, atau pusat perbelanjaan.

Lebih lanjut, Zulkifli menjelaskan bahwa setelah sampah terpilah dan sampah organik tertangani, langkah selanjutnya adalah mengolah sampah anorganik. Untuk itu, pemerintah akan menghadirkan teknologi yang lebih besar, seperti Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) atau Pembangkit Listrik Sampah (PLTS) yang akan segera dibangun di Bali.

Pembangunan PLTSa di Bali dijadwalkan akan dimulai pada 8 Juli 2026. Pembangkit ini diharapkan dapat menjadi solusi untuk mengatasi masalah open dumping atau penumpukan sampah terbuka yang saat ini masih menjadi masalah utama di berbagai daerah.

Zulkifli Hasan menyoroti bahaya dari open dumping, termasuk insiden kebakaran yang terjadi di Jatiwaringin dan kasus meninggalnya tujuh orang di Bantar Gebang. Hal ini menekankan urgensi penanganan sampah yang lebih terintegrasi dan modern.

Dengan pengenalan teknologi Lahsamor dan rencana pembangunan PLTSa, pemerintah menunjukkan komitmennya untuk menciptakan solusi pengelolaan sampah yang komprehensif, mulai dari tingkat rumah tangga hingga skala industri, demi lingkungan yang lebih bersih dan berkelanjutan.