DermayuMagz.com – Film “Saat Aku Bersuara” bukan sekadar tontonan hiburan, melainkan sebuah narasi kuat tentang perjuangan, harapan, dan pencarian keadilan yang dibintangi oleh Marshanda.
Dalam film yang diproduksi oleh Arjuna Mega Films, Lex Pictures, dan Rain Creation ini, Marshanda memerankan Nadia, seorang pengacara yang menjadi korban kekerasan seksual. Kejadian traumatis tersebut dialaminya dari dua pria bertopeng.
Setelah kejadian tersebut, Nadia memilih untuk bersuara melalui blog pribadinya, yang kemudian menjadi viral. Bersama sahabatnya, Andien (diperankan oleh Rini Yulianti), dan jaksa Adrian (diperankan oleh Ibnu Jamil), Nadia berjuang untuk menegakkan keadilan bagi DJ Aura (diperankan oleh Georgina Andrea), yang juga menjadi korban kekerasan seksual.
Bagi Marshanda, peran Nadia terasa sangat personal. Ia tidak hanya memerankan karakter, tetapi juga menyelami emosi yang kompleks, termasuk amarah, trauma, kesedihan, dan harapan yang tersisa. Ia mengungkapkan bahwa Nadia adalah sosok yang terus berjuang untuk berharap, meskipun tidak yakin apakah perjuangannya akan membuahkan hasil yang adil.
Sebelum mendalami karakter Nadia, Marshanda melakukan riset mendalam. Ia mencari berbagai informasi dan belajar dari banyak sumber, termasuk berdiskusi dengan orang-orang yang pernah mengalami hal serupa. Hal ini dilakukannya untuk memahami secara utuh kompleksitas emosi yang harus ia tampilkan.
Proses pendalaman peran ini dilanjutkan dengan sesi reading bersama sutradara Sonu Samtani dan aktor Rifnu Wikana. Marshanda juga memanfaatkan referensi film-film internasional bertema serupa untuk memperkaya karakternya.
Namun, Marshanda sangat berhati-hati agar tidak meniru karakter yang sudah ada. Ia memilih untuk fokus pada esensi Nadia, agar karakternya terasa orisinal dan otentik.
Di balik layar “Saat Aku Bersuara”, terdapat gerakan #NoMoreSilence. Tagar ini menjadi simbol suara ribuan perempuan Indonesia yang selama ini terbungkam, takut bersuara, dan seringkali tidak dipercaya.
Penulis naskah, Tisa TS, menjelaskan bahwa film ini bukan hanya hiburan, tetapi juga sebuah ajakan dan gerakan. Ia berharap penonton tidak hanya menikmati film, tetapi juga merasakan dorongan untuk berhenti membungkam diri sendiri dan orang lain.
“Kami punya satu keyakinan: ketika perempuan berani bersuara dan bangkit, itu akan jadi fenomena yang mengubah segalanya,” tambah sutradara Sonu Samtani, menegaskan pesan kuat film ini.
Proses produksi “Saat Aku Bersuara” sendiri sangatlah panjang dan penuh dedikasi. Naskahnya mengalami 18 kali revisi sebelum akhirnya mencapai bentuk final. Syutingnya memakan waktu empat tahun, bahkan sempat tertunda akibat pandemi COVID-19. Namun, komitmen untuk menjaga keutuhan cerita tetap terjaga tanpa ada adegan yang dikorbankan.
Hasilnya, “Saat Aku Bersuara” berhasil menyajikan sebuah film yang tidak hanya menyentuh secara emosional, tetapi juga kuat secara naratif. Film berdurasi 85 menit ini memadukan drama, ketegangan hukum, dan refleksi sosial yang mendalam dalam satu layar.
Film ini dijadwalkan tayang di bioskop mulai 18 Juni 2026, membawa pesan penting tentang keberanian untuk bersuara dan memperjuangkan keadilan.
DermayuMagz.com – Film Korea Selatan berjudul Colony telah mencetak sejarah baru di industri perfilman Indonesia. Film yang dibintangi oleh aktor ternama seperti Jun Ji Hyun dan Ji Chang Wook ini berhasil menembus angka fantastis, yaitu satu juta penonton.
Pencapaian ini menjadikan Colony sebagai film impor pertama yang mampu meraih lebih dari satu juta penonton di Indonesia. Film yang disutradarai oleh Yeon Sang Ho, sutradara yang dikenal lewat film fenomenal Train to Busan, ini memang telah menarik perhatian sejak awal perilisannya.
Dalam Colony, Jun Ji Hyun memerankan seorang ilmuwan yang harus bertahan hidup di tengah situasi mengerikan di sebuah koloni yang dikuasai oleh wabah zombie. Sementara itu, Ji Chang Wook kembali ke layar lebar setelah sepuluh tahun absen, berperan sebagai mantan tentara yang berjuang melindungi para penyintas dari ancaman zombie.
Menurut data dari akun Twitter @cinepoint_, Colony secara resmi mencapai satu juta penonton pada tanggal 15 Juni 2026. Pada hari tersebut, film ini berhasil menarik sekitar 50 ribu penonton. Namun, belakangan ini, jumlah penonton harian Colony mengalami penurunan.
Penurunan ini diduga karena kehadiran dua film baru yang mulai mendominasi bioskop, yaitu film horor Cerita Lila, yang diadaptasi dari kisah nyata yang dibagikan oleh Sara Wijayanto, dan film animasi populer Toy Story 5.
Di sisi lain, film Indonesia Sekawan Limo 2: Gunung Klawih karya Bayu Skak terus menunjukkan performa yang kuat. Hingga 18 Juni 2026, film ini telah berhasil mengumpulkan total 1,84 juta penonton. Film ini tampaknya akan terus mendekati angka dua juta penonton.
Namun, nasib berbeda dialami oleh film Warkop DKI: Viralin Dong. Film yang dibintangi oleh Desta, Vino G Bastian, dan Tora Sudiro ini tampaknya belum berhasil mencapai target sejuta penonton. Hingga kini, film tersebut baru mengumpulkan sekitar 400 ribuan penonton.
Sementara itu, persaingan di puncak tangga box office pada 18 Juni 2026 didominasi oleh Toy Story 5. Film animasi ini berhasil menarik lebih dari 101 ribu penonton pada hari itu, dengan total penonton mencapai 221.581 orang.
Film horor Cerita Lila yang baru saja tayang perdana juga menunjukkan performa yang menjanjikan, dengan menarik hampir 98 ribu penonton di hari pertamanya. Film ini menjadi salah satu pendatang baru yang patut diperhitungkan.
Colony, meskipun mengalami sedikit penurunan jumlah penonton harian, tetap menjadi film impor dengan pencapaian tertinggi di Indonesia. Film ini berhasil mengumpulkan total 1.170.511 penonton hingga 18 Juni 2026.
Film Sekawan Limo 2: Gunung Klawih menempati posisi keempat dengan lebih dari 21 ribu penonton harian, membawa total penontonnya mencapai 1.846.677 orang.
Film The Furious dan Warkop DKI: Viralin Dong juga masuk dalam daftar film dengan jumlah penonton harian terbanyak, meskipun jumlahnya tidak sebesar film-film di atas.
Performa Cerita Lila yang kuat di hari pertama penayangannya menunjukkan bahwa film horor Indonesia masih memiliki daya tarik yang besar bagi penonton. Film ini berhasil menjaring 92.260 penonton pada hari perdana.
MVP Pictures, selaku rumah produksi Cerita Lila, mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada para penonton yang telah mendukung film tersebut. Mereka berharap masyarakat terus ramai-ramai mendatangi bioskop untuk menyaksikan perjuangan Lila menemukan saudari kembarnya.






