DermayuMagz.com – Di tengah hiruk pikuk Jakarta yang tak pernah tidur, sebuah kisah perjuangan sunyi terungkap di acara bursa kerja Jakarta Selatan Career Fest and Bazaar 2026. Faisal, seorang pemuda asal Sukabumi, Jawa Barat, hadir bukan hanya untuk mencari pekerjaan, tetapi juga untuk menagih hak atas kesetaraan dan pengakuan dalam dunia karier.
Bagi Faisal, keheningan yang menyelimutinya bukanlah sebuah kekurangan, melainkan sebuah identitas yang ia bawa dengan bangga. Ia adalah penyandang disabilitas tuli, namun semangatnya untuk mandiri dan berkontribusi pada masyarakat tidak pernah padam. Perjalanan ratusan kilometer dari kampung halamannya ke ibu kota adalah bukti nyata tekadnya untuk meraih masa depan yang lebih baik.
Acara bursa kerja yang diselenggarakan di Gedung Nyi Ageng Serang, Setiabudi, Jakarta Selatan, menjadi saksi bisu perjuangan Faisal. Di antara ratusan pencari kerja lainnya, ia dengan tenang namun penuh keyakinan menjalani setiap tahapan. Melalui bahasa isyarat yang fasih, yang dibantu oleh seorang juru bahasa, Faisal menceritakan kisahnya.
“Orang tua sudah mengizinkan saya merantau karena saya ingin bekerja dengan kemampuan saya sendiri,” ungkap Faisal, menyiratkan keinginan kuat untuk tidak bergantung pada orang lain.
Pengalaman Profesional dan Tantangan Diskriminasi
Faisal bukanlah sosok yang baru dalam dunia kerja. Ia telah meniti karier selama lima tahun di sebuah minimarket di Tangerang, Banten, dengan posisi sebagai staf packing. Pengalaman ini memberinya bekal keterampilan dan pemahaman tentang ritme kerja profesional.
Namun, setelah kontrak kerjanya berakhir, Faisal dihadapkan pada kenyataan pahit: pengangguran yang telah berlangsung selama tiga bulan. Masa penantian ini diwarnai oleh berbagai penolakan yang menyakitkan, terutama ketika identitas disabilitasnya terungkap.
Ia mengenang sebuah pengalaman di job fair sebelumnya di Bekasi. Saat memperkenalkan diri dan kondisinya, jawaban yang diterimanya begitu lugas dan menohok: “Oh, kamu tuli ya? Maaf, tidak bisa menerima.” Penolakan semacam ini, meskipun singkat, meninggalkan luka mendalam dan rasa frustrasi.
Tidak berhenti di situ, Faisal juga mencoba peruntungan di sektor perhotelan melalui lamaran daring. Proses administrasi berjalan lancar, namun komunikasi dari pihak HRD sering kali terhenti atau berakhir tanpa kejelasan begitu mengetahui kondisinya sebagai penyandang disabilitas tuli.
“Saya merasa banyak hambatan. Sampai sekarang belum ada panggilan lagi padahal saya sudah apply ke mana-mana,” tuturnya dengan raut wajah yang masih menyimpan harapan, meski diwarnai sedikit kekecewaan.
Stigma dan Potensi Penyandang Disabilitas Tuli
Bagi Faisal, hambatan terbesar yang dihadapi oleh teman-teman tuli bukanlah keterbatasan fisik, melainkan stigma negatif yang melekat pada mereka di masyarakat dan dunia kerja. Ia merasa banyak pemberi kerja yang masih memandang sebelah mata terhadap kapabilitas penyandang disabilitas.
“Banyak orang memandang, ‘Ah dia tuli ya, pasti tidak punya kemampuan, pasti bodoh, tidak bisa apa-apa.’ Padahal itu karena mereka kurang edukasi,” jelas Faisal dengan nada prihatin.
Ia bertekad untuk membuktikan bahwa pandangan tersebut keliru. Faisal menegaskan bahwa teman-teman tuli memiliki potensi yang sama, bahkan terkadang lebih, dibandingkan individu non-disabilitas. Ia mencontohkan, ada di antara mereka yang berhasil menempuh pendidikan tinggi, mahir mengendarai kendaraan, dan memiliki ketangkasan teknis yang luar biasa.
Menurutnya, tuli hanyalah sebuah perbedaan cara berkomunikasi, bukan sebuah penghalang untuk menjadi produktif dan berprestasi. Kemampuan untuk berkomunikasi melalui bahasa isyarat justru membuka jendela baru bagi pemahaman dan interaksi.
Harapan untuk Masa Depan yang Inklusif
Kehadiran Faisal di Jakarta Selatan Career Fest and Bazaar 2026 adalah manifestasi dari perjuangannya untuk mendapatkan pengakuan dan kesempatan yang sama. Ia berharap pemerintah dan sektor swasta dapat membuka pintu lebih lebar dan melihat penyandang disabilitas dari perspektif yang lebih adil dan setara.
“Kami tidak butuh dikasihani, kami butuh kesempatan. Karena teman tuli juga butuh kehidupan yang layak. Mereka juga butuh hidup yang sama,” tegas Faisal.
Ia menambahkan, tanpa adanya kesempatan kerja, teman-teman tuli akan kesulitan untuk meraih kehidupan yang layak. Oleh karena itu, ia sangat menekankan pentingnya penyediaan fasilitas dan kesempatan kerja yang inklusif.
Faisal juga berharap agar pemerintah lebih aktif dalam merangkul komunitas tuli dan mendengarkan aspirasi mereka secara langsung. Ia menginginkan adanya pemahaman yang lebih mendalam mengenai kebutuhan dan potensi yang dimiliki oleh penyandang disabilitas tuli.
“Saya berharap pemerintah bisa lebih banyak membantu mendukung teman tuli. Tapi coba melihat dari perspektif teman tuli secara umum, jangan melihat salah satu saja gitu. Jadi bisa merangkul teman tuli juga untuk bisa melihat masukan-masukan mereka,” ujarnya penuh harap.
Saat melangkah keluar dari Gedung Nyi Ageng Serang sore itu, harapan Faisal tetap membara. Ia mendambakan sebuah dunia kerja yang benar-benar inklusif, di mana suara hati dan kemampuan seseorang dihargai lebih tinggi daripada perbedaan fisik atau cara berkomunikasi. Di tengah gemuruh kota metropolitan, Faisal terus melangkah, menembus keheningan, mencari tempat di mana kontribusinya benar-benar diakui dan dihargai.






