Mengapa Ikan Sapu-sapu Sulit Diberantas di Jakarta dan Lembah Klang?

Berita4 Dilihat

DermayuMagz.com – Ikan sapu-sapu, yang berasal dari Amerika Selatan, telah menjadi spesies invasif yang menguasai sungai-sungai di berbagai negara Asia Tenggara, menimbulkan tantangan besar dalam upaya pemberantasannya.

Di Jakarta, keberadaan ikan ini telah mendominasi hampir seluruh badan air, mulai dari sungai, danau, hingga kanal. Dampaknya terasa signifikan pada populasi ikan lokal yang kian terdesak.

Baharuddin, seorang warga Jakarta berusia 69 tahun, menceritakan bagaimana ikan sapu-sapu mulai terlihat pada era 1980-an. Kini, sungai di lingkungannya 100 persen dihuni oleh spesies tersebut, menggantikan ikan-ikan asli seperti baung merah, wader, dan gabus.

Fenomena serupa tidak hanya terjadi di Indonesia. Di Filipina, ikan sapu-sapu telah menyebar luas di perairan sekitar Manila, seperti Sungai Pasig dan Danau Laguna, mengancam keberadaan spesies lokal dan mengubah keseimbangan ekosistem.

Malaysia juga menghadapi masalah serupa. Sungai Klang dan perairan lain di Kuala Lumpur dan Selangor didominasi oleh ikan sapu-sapu. Pada tahun 2024, Departemen Perikanan Malaysia memperkirakan bahwa 80 hingga 90 persen populasi ikan di Lembah Klang didominasi oleh tiga jenis ikan sapu-sapu.

Pemerintah Malaysia telah menyatakan keprihatinan serius, memperingatkan bahwa kehidupan akuatik lokal bisa segera menghilang jika masalah ini tidak segera diatasi. Adnan Hussain, Direktur Jenderal Departemen Perikanan, menyebutkan bahwa upaya pengendalian sudah dilakukan, namun kondisinya sudah mencapai tingkat kritis.

Sebuah makalah dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) tahun 2025 mengkonfirmasi tingginya tingkat invasi ikan sapu-sapu di Indonesia. Di beberapa wilayah sungai Jakarta yang tercemar, prevalensi ikan ini mencapai 100 persen.

Bahkan di jalur air yang lebih bersih di Jawa Barat, tempat bermulanya banyak sungai di Jakarta, prevalensi ikan sapu-sapu berkisar antara 20 hingga 30 persen. Situasi ini mendorong Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk meluncurkan operasi penertiban berskala besar.

Sejak 17 April, petugas gabungan telah menyisir berbagai badan air, berhasil menangkap lebih dari 10 ton ikan sapu-sapu dalam sepekan. Ikan-ikan tersebut kemudian dimusnahkan.

Upaya serupa juga gencar dilakukan di Malaysia. Sejak tahun 2021, pemerintah dan organisasi non-pemerintah telah berhasil menangkap lebih dari 100 ton ikan sapu-sapu.

Perjuangan melawan ikan sapu-sapu ini menjadi cerminan dari masalah global yang ditimbulkan oleh spesies invasif. Perkiraan tahun 2023 menyebutkan bahwa kerugian ekonomi global akibat spesies invasif mencapai lebih dari US$423 miliar per tahun.

Baca juga: Serabi Kapringan Laris Manis Diburu Warga Tiap Sore

Laporan dari Intergovernmental Platform on Biodiversity and Ecosystem Services (IPBES) mencatat bahwa aktivitas manusia telah menyebabkan penyebaran lebih dari 37.000 spesies asing ke berbagai penjuru dunia. Selain merusak ekosistem lokal, spesies invasif juga dapat menjadi vektor penyakit mematikan.

Para ahli mempertanyakan efektivitas penangkapan massal sebagai solusi jangka panjang. Ikan sapu-sapu memiliki kemampuan berkembang biak yang sangat cepat dan tidak memiliki predator alami di perairan Asia Tenggara, sehingga populasinya cenderung cepat pulih.

Mahawan Karuniasa, seorang dosen di Universitas Indonesia, berpendapat bahwa fokus seharusnya dialihkan pada penanganan pencemaran sungai dan pencegahan masuknya spesies asing. Penangkapan massal dinilainya hanya solusi sementara.

Ikan sapu-sapu, yang populer di kalangan penghobi akuarium karena kemampuannya membersihkan alga, diperkirakan masuk ke perairan liar melalui berbagai cara. Pelepasan oleh pemilik yang tidak lagi menginginkannya, kebocoran saat banjir, atau praktik biosekuriti yang buruk menjadi beberapa kemungkinan.

Adaptasi cepat ikan sapu-sapu di lingkungan baru didukung oleh beberapa faktor unik. Mereka mampu menyerap oksigen langsung dari udara, memungkinkan mereka bertahan di perairan keruh dengan kadar oksigen rendah.

Selain itu, tubuh mereka yang keras seperti tameng membuat mereka sulit dimangsa oleh predator lokal. Sifat agresif terhadap spesies lain juga mempercepat dominasi mereka di ekosistem.

Nur Azalina Suzianti Feisal dari Management and Science University di Selangor menjelaskan bahwa kemampuan adaptasi evolusioner dan toleransi terhadap kondisi ekstrem menjadikan ikan sapu-sapu mampu berkembang di perairan sungai perkotaan yang berkualitas buruk, di mana ikan lokal kesulitan bertahan.

Ancaman terhadap lingkungan juga datang dari kebiasaan ikan sapu-sapu menggali tepi dan dasar sungai, yang dapat mempercepat erosi dan merusak habitat spesies lain. Sebagai pemakan dasar, mereka juga berpotensi menelan logam berat dari endapan tercemar.

Penelitian menunjukkan bahwa saluran pencernaan ikan sapu-sapu dapat mengandung konsentrasi logam beracun seperti timbal dan arsenik yang tinggi. Hal ini menimbulkan kekhawatiran akan kontaminasi jika ikan ini dikonsumsi oleh manusia atau hewan lain.

Kekhawatiran akan risiko kesehatan ini menghambat upaya pemanfaatan ikan sapu-sapu secara komersial, berbeda dengan spesies invasif lain seperti nila atau ikan red devil cichlid. Warga pun enggan mengonsumsi ikan sapu-sapu karena dianggap beracun dan sulit diolah.

Meskipun demikian, semangat perlawanan terhadap ikan sapu-sapu tetap ada. Di Malaysia, sekelompok warga membentuk Skuad Pemburu Ikan Asing (SPIA) pada tahun 2022 untuk membersihkan perairan Lembah Klang. Puluhan relawan secara rutin melakukan penangkapan.

Mohamad Haziq A Rahman, pendiri SPIA, menekankan pentingnya partisipasi masyarakat dalam menjaga ekosistem dan tidak melepaskan ikan hias invasif ke perairan tawar. SPIA sering bekerja sama dengan pemerintah daerah dan organisasi lain, bahkan memberikan insentif bagi penangkap ikan sapu-sapu.

Di Jakarta, Arief Kamarudin menggunakan media sosial, khususnya TikTok, untuk mengedukasi publik tentang bahaya ikan sapu-sapu. Dengan jutaan pengikut, ia membagikan video tentang cara menangkap dan membuang ikan invasif tersebut.

Arief juga menyoroti pentingnya menjaga spesies lokal. Sejumlah universitas dan komunitas berupaya menyelamatkan dan mengembangbiakkan ikan lokal dari Sungai Ciliwung dengan harapan dapat dilepasliarkan kembali ke alam.

Upaya-upaya ini mendorong pemerintah Jakarta untuk mengambil tindakan lebih serius. Gubernur Jakarta Pramono Anung telah memerintahkan perburuan besar-besaran ikan sapu-sapu di seluruh kota, tanpa batas waktu yang jelas.

Para ahli mengingatkan bahwa meskipun penangkapan massal berhasil mengurangi populasi secara lokal, pemulihan populasi ikan sapu-sapu cenderung cepat. Oleh karena itu, diperlukan strategi yang lebih terarah dan berkelanjutan.

Nur Azalina menyarankan agar lembaga pengelola lingkungan memprioritaskan program pemusnahan terarah, kampanye kesehatan publik untuk mencegah konsumsi ikan ini, serta pengawasan regulasi yang lebih ketat untuk menghentikan pelepasan spesies asing.

Di Indonesia, Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyoroti praktik penguburan ikan sapu-sapu hidup-hidup oleh Pemerintah DKI Jakarta. Pejabat kota pun berjanji akan memastikan ikan tersebut mati sebelum dikuburkan.

Beberapa pihak mengusulkan pemanfaatan ikan sapu-sapu menjadi kompos, pakan ternak, atau arang. Namun, profesor kelautan dan perikanan IPB, Yusli Wardiatno, menolak usulan tersebut karena risiko kontaminasi logam berat tetap ada.

Para ahli menekankan bahwa pengendalian pencemaran sungai harus menjadi prioritas utama sebelum mengolah bangkai ikan sapu-sapu menjadi produk bernilai komersial. Hal ini penting untuk menjaga kesehatan manusia dan lingkungan.

Indonesia juga perlu memperketat langkah biosekuriti, seperti yang dilakukan Australia dalam menangani katak tebu. Pengendalian impor dan penjualan spesies asing yang berpotensi membahayakan spesies endemik sangat krusial.

Deteksi dini dan respons cepat terhadap spesies asing yang dilepas ke alam liar, baik sengaja maupun tidak, menjadi kunci. Langkah cepat diperlukan untuk mencegah perkembangbiakan, penyebaran, dan dominasi spesies asing, yang jika dibiarkan akan membutuhkan waktu, biaya, dan upaya ekstra besar untuk memulihkan kerusakan ekosistem.