Mengenal Tanjung Verde: Lawan yang Menyulitkan Messi dan Timnas Argentina

Bisnis1 Dilihat

DermayuMagz.com – Pertandingan Piala Dunia 2026 antara Argentina melawan Cabo Verde di Grup H memunculkan kejutan. Timnas Argentina yang diperkuat bintang sekaliber Lionel Messi, harus berjuang keras untuk meraih kemenangan tipis 3-2. Ketangguhan Cabo Verde dalam menahan gempuran tim Tango membuat banyak pihak penasaran dengan negara kepulauan yang terletak di lepas pantai barat Afrika ini.

Cabo Verde, atau yang juga dikenal sebagai Tanjung Verde, adalah sebuah negara kepulauan yang menarik perhatian tidak hanya di kancah sepak bola, tetapi juga dalam perkembangannya di berbagai sektor.

Meskipun tergolong negara kecil dengan populasi sekitar 527 ribu jiwa, Cabo Verde menunjukkan performa ekonomi yang patut diperhitungkan. Data dari World Bank Data360 mencatat pertumbuhan ekonomi yang impresif sebesar 6,3% pada tahun 2025. Angka ini berkontribusi pada peningkatan pendapatan per kapita masyarakatnya yang mencapai US$ 5.796,47.

Peningkatan ini menempatkan Cabo Verde dalam kategori negara berpendapatan menengah ke atas (upper middle income) di kawasan Afrika Barat dan Tengah. Namun, di balik angka pertumbuhan yang positif, masih terdapat pekerjaan rumah besar dalam hal pemerataan kesejahteraan.

Indeks Gini Cabo Verde pada tahun 2025 berada di angka 42,5. Meskipun mengalami penurunan dari periode sebelumnya yang sempat menyentuh 52,5, angka ini masih menunjukkan adanya ketimpangan distribusi pendapatan yang cukup signifikan di tengah masyarakatnya.

Berdasarkan catatan World Bank pada tahun 2021, sekitar 37,1% penduduk masih hidup dengan pengeluaran di bawah US$ 3 per hari menggunakan metode Purchasing Power Parity (PPP). Kondisi ini mengindikasikan bahwa manfaat dari pertumbuhan ekonomi belum sepenuhnya dirasakan secara merata oleh seluruh lapisan masyarakat.

Tantangan lain yang dihadapi Cabo Verde adalah ketahanan pangan. Pada tahun 2023, tercatat sekitar 46.100 orang mengalami kerawanan pangan akut pada tingkat yang tinggi. Angka ini mengalami peningkatan dibandingkan beberapa tahun sebelumnya, yang menunjukkan perlunya penguatan sistem pangan nasional yang lebih kokoh.

Sebagai negara kepulauan, ketersediaan air bersih juga menjadi isu krusial. Pada tahun 2022, tingkat pemanfaatan air tawar mencapai 59,68% dari total sumber daya yang tersedia. Tingginya angka pemanfaatan ini mencerminkan adanya tekanan yang semakin besar terhadap cadangan air yang memang terbatas.

Pembangunan Infrastruktur yang Berkelanjutan

Di tengah berbagai tantangan tersebut, pembangunan infrastruktur di Cabo Verde terus berjalan seiring dengan meningkatnya urbanisasi. Pada tahun 2025, tercatat sebanyak 77,63% penduduknya telah bermukim di wilayah perkotaan.

Investasi swasta di sektor infrastruktur menunjukkan geliat positif. Pada tahun 2023, investasi di sektor ini mencapai US$ 64 juta, meskipun nilainya masih menunjukkan fluktuasi.

Komitmen terhadap kelestarian lingkungan juga mulai terlihat. Emisi gas rumah kaca dari sektor transportasi pada tahun 2021 tercatat sebesar 0,23 ton CO₂ ekuivalen. Angka ini tergolong rendah jika dibandingkan dengan banyak negara berkembang lainnya. Namun demikian, upaya pengembangan transportasi yang lebih ramah lingkungan masih perlu terus digalakkan.

Kualitas hidup masyarakat Cabo Verde juga menunjukkan tren perbaikan. Harapan hidup penduduknya mencapai 76,22 tahun pada tahun 2024. Di sektor ketenagakerjaan, partisipasi angkatan kerja perempuan mencapai 50,47%, menandakan bahwa sekitar separuh dari perempuan usia produktif telah terlibat aktif dalam kegiatan ekonomi.

Transformasi Digital yang Pesat

Cabo Verde juga tengah mengalami transformasi digital yang cukup pesat. Hingga tahun 2025, pengguna internet telah mencapai 74,74% dari total populasi.

Selain itu, akses terhadap jaringan seluler minimal 3G telah menjangkau 95,26% penduduk pada tahun 2024. Hal ini menunjukkan semakin meratanya akses telekomunikasi di seluruh wilayah negara kepulauan ini.

Meskipun demikian, aspek keamanan digital masih memerlukan perhatian lebih. Indeks Keamanan Siber Global (GCI) pada tahun 2024 menempatkan Cabo Verde dengan skor 51,5 dari 100, yang mengindikasikan adanya ruang untuk peningkatan.

Indikator Makroekonomi yang Menguat

Dilansir dari African Development Bank (AFDB), Cabo Verde menunjukkan perbaikan yang signifikan pada sejumlah indikator makroekonomi. Pemerintah berhasil membalikkan posisi fiskal dari defisit 1,1% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) pada tahun 2024 menjadi surplus 1,1% pada tahun 2025.

Dalam periode yang sama, rasio utang publik berhasil ditekan dari 109,2% menjadi 103,7% terhadap PDB. Keberhasilan ini dicapai melalui pengendalian belanja yang ketat dan dukungan pembiayaan lunak.

Stabilitas sektor keuangan juga turut menguat. Cadangan devisa meningkat menjadi 978 juta euro pada November 2025, naik dari 729 juta euro pada tahun sebelumnya. Peningkatan ini didorong oleh masuknya investasi asing langsung dan remitansi.

Rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) terus menunjukkan tren penurunan, yang secara positif menopang ketahanan sistem perbankan di Cabo Verde.

Meskipun telah naik status menjadi negara berpendapatan menengah atas pada tahun 2025, Cabo Verde masih dihadapkan pada tantangan struktural. Sekitar 60% pelaku usaha masih beroperasi di sektor informal, yang berarti belum berkontribusi secara optimal terhadap penerimaan pajak negara.

Di sisi lain, pasar modal domestik masih belum berkembang dan belum terintegrasi dengan baik ke dalam pasar keuangan regional maupun global. Hal ini menjadi salah satu area yang perlu mendapat perhatian lebih lanjut untuk pengembangan ekonomi.

Lembaga keuangan internasional memproyeksikan ekonomi Cabo Verde akan terus tumbuh sekitar 4,7% pada tahun 2026 dan diprediksi mencapai 5% pada tahun 2027. Pertumbuhan ini diharapkan akan ditopang oleh sektor pariwisata yang terus berkembang serta pembangunan infrastruktur yang berkelanjutan.

Namun, prospek pertumbuhan tersebut tetap dibayangi oleh ketidakpastian perdagangan global dan meningkatnya kebutuhan pembiayaan investasi. Diperkirakan, kebutuhan pembiayaan investasi tahunan dapat mencapai sekitar US$ 235 juta, yang perlu diantisipasi dengan strategi pendanaan yang matang.