Mengintip Dua Universitas Bersejarah di St. Petersburg: Kampus Putin dan Para Tokoh Ternama

Bisnis2 Dilihat

DermayuMagz.com – St. Petersburg, kota yang pernah menjadi ibu kota Kekaisaran Rusia selama dua abad, kini menjelma menjadi pusat kebudayaan, seni, dan destinasi wisata yang memesona. Keindahan arsitektur Eropa berpadu dengan kekayaan sejarah Kekaisaran Tsar menciptakan suasana kota yang seolah menjadi museum terbuka.

Didirikan oleh Tsar Peter Agung pada tahun 1703, kota pelabuhan yang terletak di tepi Sungai Neva ini dijuluki sebagai “Venesia dari Utara.” Aliran sungainya yang jernih menjadi jalur bagi kapal-kapal wisata yang membawa pengunjung menikmati pesona kota.

St. Petersburg bukan hanya memukau dengan keindahannya, tetapi juga menjadi rumah bagi institusi pendidikan kelas dunia. Di antara universitas-universitas terkemuka tersebut adalah Universitas Pertambangan St. Petersburg Empress Catherine II, Universitas Negeri St. Petersburg, dan St. Petersburg State Marine Technical University.

Dalam sebuah kunjungan, Liputan6.com berkesempatan untuk menilik langsung sistem pendidikan dan kehidupan mahasiswa di kampus-kampus bergengsi ini.

Universitas Pertambangan Catherine II Saint Petersburg

Suasana yang berbeda terasa saat memasuki kampus universitas pertambangan ini. Para mahasiswa tampak mengenakan seragam jas berwarna hitam atau biru tua yang terbuat dari wol berkualitas tinggi. Desain kerah tegak bergaya militer kekaisaran kuno, lengkap dengan tanda pangkat di bahu dan simbol palu bersilang di kerah, semakin mempertegas keunikan seragam ini.

Kewajiban mengenakan seragam jas khusus ini tidak hanya berlaku bagi mahasiswa, tetapi juga seluruh dosen dan profesor. Universitas yang didirikan oleh Ratu Catherine II pada tahun 1773 ini merupakan institusi pendidikan teknik tinggi pertama di Rusia dan salah satu universitas teknik tertua di dunia.

Evgeniy A. Lyubin, Wakil Rektor Hubungan Internasional, menjelaskan bahwa universitas ini sangat terbuka bagi mahasiswa dari dalam maupun luar negeri. “Kami sangat terbuka, lihat saja keberadaan mahasiswa asing kami yang berasal lebih dari 70 negara,” ujarnya. Universitas ini berupaya mendidik mereka menjadi ahli di Rusia.

Lyubin menambahkan bahwa universitas ini memiliki banyak mitra dari seluruh dunia. Meskipun kerja sama dengan kampus-kampus Eropa saat ini tidak terlalu aktif, kerja sama dengan negara-negara lain seperti India, Tiongkok, Asia Tenggara, Amerika Latin, dan Afrika tetap berjalan sangat aktif. Kerja sama ini tidak hanya terjalin dengan universitas, tetapi juga dengan perusahaan.

Saat ini, Universitas Pertambangan Catherine II Saint Petersburg menjadi pusat ilmiah dan pendidikan tingkat lanjut yang menawarkan pelatihan teknik di berbagai bidang. Bidang-bidang tersebut meliputi pertambangan, minyak dan gas, konstruksi dan arsitektur, elektronika, mekanika, energi, ilmu material, metalurgi dan teknologi kimia, geologi dan geoekologi, teknologi informasi, ekonomi, serta manajemen. Semua fokus pada sektor sumber daya mineral.

Lyubin memaparkan kualifikasi yang dibutuhkan bagi calon mahasiswa. Pertama, tergantung pada jurusan yang dituju. Untuk masuk ke Universitas Pertambangan St. Petersburg, calon mahasiswa harus menguasai mata pelajaran matematika dan fisika.

Selanjutnya, calon mahasiswa perlu mempersiapkan diri sejak lulus sekolah menengah atas. Proses pendaftaran dilakukan dengan mengajukan aplikasi dan melengkapi dokumen melalui website Study in Russia. Setelah aplikasi disetujui, mahasiswa akan langsung diterima di kampus untuk menempuh pendidikan selama enam tahun.

Fasilitas Lengkap

Kompleks properti Universitas Pertambangan Catherine II Saint Petersburg mencakup lebih dari 400.000 meter persegi. Area ini terdiri dari tiga pusat akademik di pusat bersejarah St. Petersburg di Pulau Vasilyevsky, serta tujuh lokasi penelitian dan lapangan di Wilayah Leningrad dan Republik Krimea.

Laboratorium dan basis instrumentasi di kampus ini diklaim sebagai salah satu yang terbaik di Rusia, dan tersedia untuk peneliti serta mahasiswa internasional. Liputan6.com berkesempatan untuk melihat langsung fasilitas yang ada di kampus ini.

Universitas ini memiliki delapan asrama mahasiswa yang dilengkapi dengan fasilitas lengkap, seperti kantin, pusat kebugaran, fasilitas laundry, dan akses Wi-Fi. Kamar-kamar asrama dirancang agar nyaman, dapat dihuni oleh tiga hingga empat mahasiswa. Beberapa kamar bahkan dilengkapi dengan fasilitas dapur.

Ada pula kamar yang memang disiapkan khusus untuk mahasiswa berkeluarga. Biaya sewa kamar asrama bervariasi antara 2.000 hingga 10.000 Rubel per bulan. Lyubin menegaskan bahwa biaya bulanan untuk tinggal di asrama di Rusia masih sangat terjangkau. Hal ini merupakan bagian dari upaya pemerintah untuk menyediakan biaya pendidikan yang sangat terjangkau.

Keterjangkauan ini dapat dicapai berkat kerja sama antara pemerintah Rusia dan pihak kampus. “Pemerintah memberikan anggaran, tetapi kami (kampus) juga berusaha mencari pendanaan dan terkadang bekerja sama dengan pihak swasta,” tutur Lyubin.

Universitas Negeri St. Petersburg

Gedung universitas yang bercat merah putih dengan deretan jendela besar bergaya abad pertengahan menjadi ciri khas kampus ini. Pintu kayu besar yang kontras dengan warna bangunan menjadi pintu masuk utama.

Di depan gedung, berdiri patung Count Sergey Uvarov, mantan Menteri Pendidikan Kekaisaran Rusia, di kompleks utama Saint Petersburg State University. Ini adalah Universitas Negeri St. Petersburg, yang didirikan atas dekrit Kaisar Peter Agung.

Hingga saat ini, universitas ini merupakan satu-satunya di Rusia yang telah merayakan ulang tahunnya yang ke-300, tepatnya sejak didirikan pada tahun 1724. Awalnya, kampus ini tidak dimaksudkan sebagai lembaga pendidikan, melainkan sebagai lokasi pemerintahan.

“Saat ini, St. Petersburg State University merupakan pusat pendidikan dan penelitian yang diakui secara internasional, serta secara konsisten menempati posisi di antara universitas-universitas terbaik dunia dalam berbagai pemeringkatan internasional paling bergengsi,” ujar Marina Lavrikova, Wakil Rektor Bidang Akademik Universitas Negeri St. Petersburg.

Selama tiga abad sejarahnya, universitas ini telah menjadi tempat berkarya dan belajar bagi ribuan cendekiawan terkemuka, tokoh masyarakat, negarawan, politikus, penulis, seniman, dan musisi. “Lulusan kami ada 9 penerima Nobel, 6 Perdana Menteri Rusia, dan 2 Presiden,” tambah Marina.

Di antara lulusan terkenal tersebut adalah Dmitri Mendeleev, Alexander Popov, Ivan Turgenev, Pyotr Stolypin, Ivan Pavlov, Dmitri Mamin-Sibiryak, Vasily Dokuchaev, Alexander Blok, Mikhail Vrubel, Mikhail Glinka, Nicholas Roerich, Lev Landau, Leonid Kantorovich, Vladimir Putin, dan Dmitri Medvedev, serta banyak tokoh lainnya.

Setidaknya 25.000 mahasiswa, termasuk lebih dari 4.500 mahasiswa internasional, menempuh pendidikan di sini. Universitas ini memang membuka banyak kesempatan belajar bagi mahasiswa asing.

Tersedia program SPbU Olympiads yang terbuka untuk Warga Negara Asing (WNA) di bawah Kuota Pemerintah Federal Rusia. Program yang ditawarkan meliputi jenjang sarjana (undergraduate), spesialis, magister (graduate), hingga pascasarjana (postgraduate).

Di Rusia, program pendidikan disesuaikan dengan kebutuhan individu. Selain belajar, mahasiswa juga mendapatkan pelatihan di tempat kerja (on-the-job training) dengan struktur kursus modular, serta pembelajaran berbasis kampus atau di lokasi yang ditentukan.

Universitas Negeri St. Petersburg dikenal memiliki dana abadi yang sangat besar, tercatat mencapai 1.917 juta rubel per 1 Januari 2026. Dana ini berasal dari lebih dari 1.000 donatur.

Dana abadi ini didirikan oleh staf St. Petersburg State University pada Juni 2008. Dana tersebut dibentuk melalui donasi untuk mendukung berbagai proyek yang penting bagi pengembangan jangka panjang universitas, serta bagi perekonomian dan masyarakat Rusia. Dana Abadi SPbU merupakan salah satu dana abadi universitas terbesar di Rusia.

Biaya Terjangkau

Belasan mahasiswa Indonesia tercatat menimba ilmu di Universitas Negeri St. Petersburg (SPbU) dengan berbagai jurusan. I Komang Arya Siwanata, seorang mahasiswa Hubungan Internasional, mengaku tidak mengalami masalah belajar di Rusia, baik dari sisi keamanan maupun lainnya.

“Saya bangga bisa kuliah di tempat bergengsi seperti ini. Dan di sini aman, tidak ada masalah,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa biaya pendidikan dan biaya hidup di sini cukup murah.

Biaya asrama hanya sekitar 2.600 rubel (sekitar Rp 600 ribuan) per bulan, sementara biaya hidup diperkirakan sekitar Rp 2-3 juta per bulan. I Komang menjelaskan bahwa ia kuliah di St. Petersburg berkat beasiswa dari pemerintah.

“Awalnya saya rajin mencari informasi beasiswa di internet. Kemudian mendapat info dari grup Telegram, bertanya-tanya, dan akhirnya saya diterima kuliah di sini,” jelas lulusan SMA dari Jakarta ini.