Olivia Rodrigo Kecewa Dikritik Karena Gaun Babydoll, Singgung Isu Pedofilia

showbiz3 Dilihat

DermayuMagz.com – Penyanyi muda berbakat, Olivia Rodrigo, baru-baru ini mengungkapkan rasa kesalnya terhadap kritik yang dilayangkan publik terkait pilihan busana panggungnya. Dalam sebuah penampilan di acara Billions Club Live with Olivia Rodrigo: A Concert Film, Rodrigo mengenakan gaun babydoll motif floral yang pendek, dipadukan dengan sepatu bot tinggi.

Penampilan ini menuai beragam komentar negatif. Sebagian publik menilai kostum tersebut terkesan kekanak-kanakan sekaligus melakukan seksualisasi terhadap dirinya. Rodrigo merasa heran dan tidak terima dengan tudingan tersebut.

Dilansir dari People, Kamis (28/5/2026), Rodrigo secara blak-blakan menanggapi kritik ini dalam sebuah podcast The New York Times yang cuplikannya dirilis Rabu lalu.

“Itu membuatku kesal banget,” ujar pelantun lagu “good 4 u” tersebut. Ia merasa heran mengapa penampilannya mendapatkan sorotan negatif seperti itu.

Rodrigo menambahkan bahwa ia sering tampil di atas panggung dengan pakaian yang lebih terbuka, seperti bra berkilauan dan celana pendek. Menurutnya, ia memiliki hak penuh untuk memilih pakaian yang ingin dikenakannya.

Dalam podcast tersebut, Olivia Rodrigo membahas lebih lanjut mengenai gaun babydoll yang dikenakannya. Ia menegaskan bahwa pakaian tersebut tidaklah pantas atau berlebihan.

“Rasanya menyenangkan, aku merasa keren dan nyaman mengenakannya. Dan itu bukan (pakaian) yang enggak pantas, tapi menurut orang-orang gaun yang menutupku tersebut kekanak-kanakan dan tak pantas,” jelasnya.

Alih-alih merasa dirinya yang bersalah karena dianggap mempromosikan pedofilia, Rodrigo justru melihat kritik tersebut sebagai cerminan dari pandangan masyarakat yang masih mengakar. Ia merasa bahwa masyarakat seringkali menyalahkan korban atas apa yang mereka kenakan.

“Juga, ada retorika yang dicekoki kepada kita sejak masih kecil, yakni jangan mengenakan pakaian seperti itu, karena ada pria yang akan menseksualisasikan dirimu dan itu adalah salahmu. Aneh banget,” ungkapnya dengan nada prihatin.

Olivia Rodrigo juga secara tegas membantah anggapan bahwa pakaian yang ia kenakan tersebut terlihat seksi. Baginya, penampilan itu lebih kepada ekspresi gaya dan kepercayaan diri.

“Aku tak merasa aku kelihatan seksi mengenakannya. Aku merasa, ini keren banget,” tegasnya.

Ia pun mengingatkan bahwa banyak artis perempuan lain yang telah tampil dengan gaya serupa sebelumnya, seperti Kathleen Hanna dari Bikini Kill dan Courtney Love. Bagi Rodrigo, mereka adalah sosok inspiratif.

“Orang-orang ini adalah para pahlawanku,” ujarnya, menunjukkan rasa hormatnya pada para musisi perempuan yang telah mendahuluinya.

Di akhir pernyataannya, Olivia Rodrigo menekankan pentingnya untuk tidak membatasi ekspresi diri perempuan muda melalui pakaian. Ia merasa sangat protektif terhadap perempuan dan tidak ingin mereka dibebani oleh norma-norma yang membatasi.

Baca juga : Rupiah Diprediksi Melemah Setelah Sempat Menguat di Hari Libur

“Kalau kita mulai berpakaian dengan gaya seperti, ‘Aku enggak mau ada orang aneh yang berpikir bahwa aku seksi seperti bayi’, atau hal aneh lainnya, aku merasa intinya sudah mulai hilang,” katanya.

Ia melanjutkan, “Aku begitu protektif terhadap wanita muda, perempuan, dan aku enggak mau mereka disuapi dengan retorika ini.”

Sementara itu, terlepas dari kontroversi tersebut, Yovie & Nuno baru-baru ini mempromosikan konser 25 Tahun Janji Suci yang dijadwalkan berlangsung di Istora Senayan, Jakarta Pusat, pada 13 Juni 2026. Dalam sebuah wawancara eksklusif, para personel Yovie & Nuno, yaitu Ady Julian, Adhyra Yudhi, dan Chico Andreas, sempat disodori album debut mereka, Semua Bintang, yang dirilis pada tahun 2001.

Album tersebut menampilkan kolaborasi dengan banyak musisi ternama seperti Fariz RM, Audy, Herry R4, dan Glenn Fredly. Mereka mengungkapkan rasa syok sekaligus nostalgia saat melihat kembali album yang sangat sukses tersebut.

“Ini album Yovie & Nuno dengan bintang tamu paling banyak. Nah, lagu ‘Indah Kuingat Dirimu’ di album ini direkam ulang sama Chico dan Adhyra,” ujar Ady Julian, menunjuk dua vokalis baru Yovie & Nuno.

Chico Andreas menambahkan, “Ada Fariz RM, Audy, dan Glenn Fredly! Ya, kami manggung juga masih membawakan lagu ini. Lagu-lagu di album ini masih sering diputar di radio, lo.” Mereka kemudian membuka album Semua Bintang dan memegang kasetnya, mengenang masa kejayaan musik Indonesia.

Album Semua Bintang berhasil melahirkan tiga lagu hits, yaitu “Indah Kuingat Dirimu,” “Janji di Atas Ingkar,” dan “Maukah Denganku.” Pada masa itu, Yovie & Nuno diperkuat oleh Dudy Oris sebagai vokalis.

Kini, lagu “Indah Kuingat Dirimu” telah direkam ulang dengan aransemen baru yang dibawakan oleh vokalis saat ini. Ady Julian mengenang, “Dulu lagu ‘Indah Kuingat Dirimu’ dan ‘Janji di Atas Ingkar’ Audy hit banget. Nah, lagu ‘Lebih Baik Aku’ di album Semua Bintang ini direkam ulang di era Dikta dan Windura.”

Perjalanan Yovie & Nuno dalam industri musik Indonesia memang penuh warna. Mereka telah menyaksikan perubahan besar, mulai dari era kaset dan CD hingga era digital. Pergantian vokalis yang terjadi beberapa kali juga menjadi bagian dari dinamika band ini.

Ketika ditanya mengenai resep Yovie & Nuno dapat bertahan lintas zaman dan generasi, Chico Andreas berpendapat, “Lagu-lagu Yovie Widianto untuk Yovie & Nuno punya karakter khas. Enggak hanya cewek yang tersakiti, tapi cowok juga bisa. Lagunya, genderless.”

Konsep genderless ini membuat lagu-lagu Yovie & Nuno mampu menyentuh hati pendengar dari berbagai kalangan usia dan gender. Lagu-lagu hits seperti “Menjaga Hati,” “Tanpa Cinta,” “Manusia Biasa,” hingga era “Misal” berhasil menarik perhatian pendengar baru, mulai dari generasi milenial, Gen Z, hingga Alpha.

Ady Julian menambahkan, “Jadi, laki-laki pun juga dirayakan oleh Yovie & Nuno. Lagu cinta yang dibawakan secara manly. Cowok itu bisa galau juga tapi cara menyampaikannya beda. Bahasanya lebih lugas, dari aspek lirik maksudnya.” Hal ini menunjukkan bahwa lirik lagu mereka mampu merefleksikan berbagai emosi yang universal, tidak terbatas pada satu gender saja.