DermayuMagz.com – Sepinya aktivitas di dalam bangunan Pasar Kebalen, Kota Malang, menjadi salah satu penyebab menjamurnya pedagang kaki lima (PKL) hingga memenuhi badan jalan. Kondisi ini membuat banyak pedagang memilih bertahan berjualan di luar, bahkan hingga ke tengah jalan.
Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat, melakukan inspeksi mendadak (sidak) pascapenertiban total PKL di kawasan tersebut. Saat sidak, ia mendapati kondisi pasar yang sangat lengang.
Bangunan Pasar Kebalen yang terdiri dari dua lantai dengan area yang cukup luas terlihat sepi. Aktivitas jual beli sangat minim, banyak kios atau bedak yang tidak terisi. Bahkan, lantai dua pasar tampak kosong tanpa ada aktivitas perdagangan.
Kondisi pasar yang sepi ini dinilai menjadi salah satu pemicu utama para pedagang beralih berjualan di luar bangunan. Akibatnya, para PKL memenuhi badan jalan, yang tentunya mengganggu arus lalu lintas.
Wahyu Hidayat menjelaskan bahwa fenomena ini merupakan efek domino yang telah berlangsung dalam jangka waktu yang lama. Awalnya, keberadaan PKL yang berjualan di area depan pasar membuat para pedagang yang memiliki los resmi di dalam pasar menjadi enggan untuk menempatinya.
“Karena di depannya banyak PKL, akhirnya pedagang di dalam ikut keluar. Lama-lama terjadi penumpukan PKL sampai ke tengah jalan,” ujar Wahyu pada Rabu (6/5/2026).
Dampak dari menjamurnya PKL hingga ke badan jalan ini adalah terganggunya arus lalu lintas di Jalan Zaenal Zakse. Kondisi ini juga memicu keluhan dari warga serta pengguna jalan lainnya.
Menyikapi situasi tersebut, Pemerintah Kota Malang bersama aparat kepolisian telah menerapkan kebijakan penataan. Kebijakan ini mencakup pembatasan jam operasional bagi para PKL.
Saat ini, PKL hanya diperbolehkan berjualan mulai pukul 00.00 hingga 06.00 WIB. Di luar jam tersebut, kawasan Pasar Kebalen harus steril dari segala aktivitas jual beli.
“Kami ingin mengembalikan fungsi jalan dan pasar. Setelah jam 06.00 tidak boleh ada yang berjualan,” tegasnya.
Baca juga: Kades Ngreco Berperan sebagai Tutor ATS di Pacitan
Di sisi lain, para pedagang juga memiliki alasan tersendiri mengapa mereka enggan menempati kios yang tersedia di dalam Pasar Kebalen.
Koordinator Pedagang Pasar Kebalen, Abah Salam, mengungkapkan bahwa jumlah PKL yang ada saat ini mencapai sekitar 640 orang. Ia menilai jumlah tersebut tidak sebanding dengan kapasitas pasar yang tersedia.
“PKL di sini sekitar 640-an. Kalau dimasukkan ke dalam, tidak muat,” ujarnya.
Selain masalah kapasitas, Abah Salam juga menyoroti minimnya jumlah pengunjung yang masuk ke dalam pasar. Menurutnya, kondisi ini sudah terjadi sejak lama, bahkan sebelum PKL mulai memadati area luar pasar.
“Dari dulu memang sepi. Pengunjung tidak mau masuk ke dalam, tidak tahu kenapa,” katanya.
Ia memberikan contoh bahwa hanya sebagian kecil kios di dalam pasar yang masih bertahan buka. Beberapa kios yang masih beroperasi berada di sisi barat pasar, yang ditempati oleh pedagang konveksi dan onderdil.
Situasi di Pasar Kebalen ini menciptakan sebuah lingkaran persoalan yang kompleks. Sepinya aktivitas di dalam pasar mendorong para pedagang untuk berjualan di luar. Keberadaan PKL di area luar pasar justru menghambat akses bagi pembeli untuk masuk ke dalam.
Akibatnya, aktivitas jual beli justru lebih ramai terjadi di badan jalan dibandingkan di dalam bangunan pasar. Hal ini menjadi alasan utama mengapa kondisi tersebut telah berlangsung lama.
“Ini yang menjadi alasan dan sudah berlangsung lama,” tandasnya.






