Pawai Budaya Gema Bhineka HUT Ke-90 SMA Dempo Malang di Bhumi Arema

Berita4 Dilihat

DermayuMagz.com – SMA Katolik St. Albertus, yang dikenal sebagai SMA DEMPO Malang, merayakan ulang tahunnya yang ke-90 dengan menggelar sebuah pawai budaya bertajuk “Gema Bhineka di Bhumi Arema”. Acara ini diselenggarakan pada Minggu, 3 Mei 2026, di halaman depan sekolah yang berlokasi di Jalan Talang 3, Malang.

Br. Antonius Sumardi, O.Carm., selaku Kepala Sekolah SMA Katolik St. Albertus, menjelaskan bahwa tujuan utama dari kegiatan “Gema Bhineka di Bhumi Arema” adalah untuk mengajak para siswa SMA DEMPO Malang agar turut serta dalam melestarikan kekayaan budaya bangsa Indonesia. Beliau menekankan pentingnya peran generasi muda sebagai penerus kepemimpinan di masa depan.

“Pawai budaya dengan tema Gema Bhineka di Bhumi Arema ini bisa menjadi tonggak bagi anak-anak DEMPO untuk melestarikan budaya bangsa ini,” ujar Br. Antonius Sumardi.

Lebih lanjut, pawai budaya ini diharapkan dapat menjadi sumber inspirasi yang menunjukkan bahwa semangat kebhinekaan masih hidup dan bersemayam di Bumi Arema. Hal ini tercermin dalam penampilan siswa yang menampilkan berbagai elemen budaya.

“Tempat bumi kita pijak dan langit yang kita junjung, sepenggal gerak tari topeng Babang Malangan akan kita peragakan sebagai bentuk merawat tradisi supaya tidak punah ditelan oleh gempuran perkembangan informasi dan teknologi,” tegasnya.

Menurutnya, kegiatan ini dirancang untuk menginspirasi dan menggerakkan hati generasi muda yang memiliki kepedulian terhadap keberagaman budaya dan adat istiadat Nusantara. Ia menekankan bahwa melestarikan kebhinekaan adalah tanggung jawab moral yang harus diemban bersama.

Pawai budaya ini menampilkan keragaman busana dan pertunjukan yang merepresentasikan semangat persatuan Indonesia. Tampilannya meliputi Punokawan Semar dan Petruk Bagong, karnaval topeng Malangan, bantengan, serta berbagai busana tradisional seperti barongsai. Semua ini ditampilkan dalam bingkai “satu Indonesia”.

“Saya yakin proses yang kita lakukan dengan sepenuh hati tidak akan mengkhianati hasil. Dunia berita baik kita ini akan menjadi aura positif dan inspirasi yang menggerakkan seluruh potensi yang dianugerahkan secara cuma-cuma oleh Sang Allah,” tuturnya.

Pihak sekolah berharap acara Karnaval Budaya SMA DEMPO ini mendapatkan dukungan penuh dari semesta, serta terselenggara dengan tertata dan teratur sehingga layak diapresiasi. Keberhasilan acara ini menjadi bukti kerja sama seluruh pemangku kepentingan di SMA DEMPO Malang.

Dalam karnaval “Gema Bhineka di Bhumi Arema”, ditampilkan pula tari-tarian adat seperti Tari Topeng Babang Malangan. Selain itu, ditampilkan pula busana dari berbagai daerah di Indonesia, mulai dari Papua, Kalimantan, Jawa, hingga Sumatera, sebagai representasi kekayaan budaya bangsa.

Br. Antonius Sumardi menyampaikan harapannya agar kegiatan serupa juga dapat dihelat di daerah lain, seperti festival di Banyuwangi atau festival 1000 Gandrung di Kulon Progo, Yogyakarta. Ia menantikan inspirasi dari para siswa untuk menyelenggarakan festival dengan skala yang lebih besar, misalnya melibatkan 1300 murid dan guru dengan tema yang diusulkan oleh siswa.

Keberhasilan pawai budaya ini merupakan yang kedua kalinya bagi SMA DEMPO Malang, setelah sebelumnya acara serupa diadakan pada November 2023. Diharapkan, agenda ini terus bergulir dan menjadi inspirasi yang menggerakkan di Bumi Arema, sekaligus menjadi penanda perayaan 90 tahun SMA DEMPO yang penuh makna.

Dona Azhari Kristiani, Ketua Pelaksana “Gema Bhineka di Bhumi Arema”, mengungkapkan bahwa persiapan festival ini dimulai pada akhir Februari dan hanya memakan waktu sekitar satu setengah bulan, terpotong oleh masa libur sekolah. Para siswa diberi waktu satu bulan untuk berlatih setelah libur.

“Jadi anak-anak diberi waktu satu bulan, setelah DCC mereka baru benar-benar siap,” ujarnya.

Proses latihan dibagi menjadi dua tahap. Tahap pertama dilakukan di dalam kelas, di mana panitia menyediakan video Bapang sebanyak tiga kali pertemuan. Setelah dirasa cukup, latihan dilanjutkan di lapangan sebanyak dua kali. Tahap akhir latihan dilakukan di Jalan Talang dan Jalan Dempo.

“Puji Tuhan, anak-anak semangat dan antusias. Cepat sekali mereka hapal di tengah padatnya kegiatan di sekolah,” ungkapnya.

Harapannya, melalui kegiatan ini, siswa SMA DEMPO dapat lebih mengenal budaya Malangan dan menyadari betapa beragamnya budaya Indonesia. Hal ini penting mengingat banyak siswa SMA DEMPO berasal dari luar pulau, sehingga kegiatan ini turut mengembangkan semangat DEMPO yang meliputi Doa, Egaliter, Persaudaraan, Optimis, dan Penuh harapan.

dr. Ria Pratiwi, seorang alumni SMA DEMPO Malang, menilai kegiatan ini sangat krusial bagi para siswa. Menurutnya, di tengah berbagai tantangan zaman, acara ini menjadi pengingat akan realitas Indonesia yang sesungguhnya, yang perlu dicintai dan dijaga.

“Inilah miniatur potret Indonesia mini,” ungkapnya.

Beliau menambahkan bahwa dengan adanya kegiatan ini, siswa dapat teralihkan dari kesibukan dunia maya yang didominasi oleh online, media sosial, dan gawai. Melalui *event* ini, mereka dapat berinteraksi secara langsung dalam kebersamaan di dunia nyata.

Baca juga: Izin PT Lasco: Kasatpol PP Indramayu Angkat Bicara Soal Penindakan

“Saya bangga memasukkan anak saya ke SMA DEMPO dan sangat berbeda sekali dengan 30 tahun yang lalu, di mana saat ini lebih maju dan kreatif siswanya,” pungkasnya.