Pinjaman Gratis Tabung CNG 3 Kg

Bisnis3 Dilihat

DermayuMagz.com – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (Kementerian ESDM) tengah mempersiapkan skema distribusi tabung Compressed Natural Gas (CNG) berukuran 3 kilogram. Skema ini sedikit berbeda dari penyaluran gas LPG 3 kg yang sudah ada.

Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Dirjen Migas) Kementerian ESDM, Laode Sulaeman, menjelaskan bahwa alokasi CNG 3 kg nantinya akan mengikuti pola LPG 3 kg. Namun, terdapat perbedaan penting, yaitu masyarakat tidak perlu membeli tabungnya.

Tabung CNG akan dipinjamkan langsung oleh distributor kepada konsumen. “Skema yang sedang dibuat sekarang, masyarakat tidak diharuskan beli tabung. Jadi begini ya skemanya nanti, itu masyarakat tidak beli tabung. Tabung milik supplier gasnya,” ujar Laode.

Saat ini, Kementerian ESDM sedang fokus pada tahap uji coba penerapan CNG 3 kg. Rencananya, uji coba ini akan dilaksanakan di sejumlah kota besar di Pulau Jawa, termasuk Bandung, Jakarta, Semarang, dan Surabaya.

Untuk mendukung pelaksanaan uji coba ini, dibutuhkan impor sekitar 100 ribu tabung CNG yang akan didatangkan dari China. Proses impor ini akan dilakukan oleh badan usaha yang bergerak di sektor energi, bukan oleh Kementerian ESDM secara langsung.

Baca juga : Prabowo Bungkuk Hormat Sebelum Pidato di DPR

“Untuk bisa kita dapatkan tabung yang riil, minimum kita harus pesan 100 ribu. Tapi ini yang lakukan calon badan usahanya ya, bukan kita. Mereka yang sedang berproses sekarang,” ungkap Laode.

Lebih Hemat 40% dari LPG

Kementerian ESDM memproyeksikan bahwa penggunaan CNG 3 kg berpotensi menghemat anggaran subsidi LPG 3 kg hingga sekitar 40 persen. Perkiraan ini didasarkan pada pemanfaatan sumber daya gas alam dalam negeri yang lebih optimal.

Dengan menggunakan CNG, ketergantungan pada impor LPG dapat dikurangi secara signifikan. Hal ini akan berdampak pada efisiensi anggaran subsidi energi nasional.

“Setelah dihitung-hitung, pak Menteri menyampaikan, sebenarnya masih tetap diperlukan adanya subsidi. Tapi subsidi itu berkurang, bisa 30-40 persen. Karena proses efisiensinya CNG ini punya kita sendiri dibanding kita harus impor,” jelas Laode.

Terkait sisa anggaran subsidi yang berhasil dihemat, Kementerian ESDM masih mengkaji alokasi penggunaannya. Ada beberapa opsi yang sedang dipertimbangkan, seperti pemotongan besaran subsidi atau penurunan harga jual kepada konsumen.

“Tinggal 30-40 persen tadi mau dibagi ke mana aja. Mau dipotong subsidinya, dikurangi harganya, itu nanti teknis pelaksanaannya,” imbuh Laode.

Gunakan Infrastruktur yang Sama

Dalam upaya transisi menuju penggunaan CNG, Kementerian ESDM berkomitmen untuk tetap memanfaatkan infrastruktur energi yang sudah ada, yang sebelumnya digunakan untuk penyaluran LPG. Langkah ini diambil agar tidak terjadi pemborosan sumber daya.

“Kita tetap berkomunikasi dengan semua stakeholders. Pak Menteri juga sudah mengamanatkan kepada kami untuk mengkaji skema bisnisnya. Misalnya juga sudah ada di LPG saat ini, bisa jadi pola-polanya mirip. Cuman difungsikannya, tadinya LPG jadi CNG. Infrastruktur yang ada tidak akan terbuang sia-sia,” tutur Laode.

Dengan demikian, masyarakat diharapkan tidak akan merasakan perbedaan signifikan dalam hal harga dan kemudahan akses saat beralih dari LPG 3 kg ke CNG 3 kg. Hal ini penting agar peralihan dapat berjalan lancar dan diterima oleh masyarakat luas.

“Jadi memang ide awalnya itu harus sama kayak LPG 3 kg, enggak boleh berbeda. Nanti kalau berbeda ibu-ibunya keberatan,” pungkas Laode.