Rehabilitasi Mangrove Berbasis Ekologi Indonesia Diperkuat

News3 Dilihat

DermayuMagz.com – Indonesia, sebagai negara dengan garis pantai terpanjang di dunia, menyadari betul peran krusial ekosistem mangrove. Dengan luas mangrove yang mencapai hampir 20 persen dari total global, Indonesia mengambil langkah signifikan untuk memperkuat upaya rehabilitasi. Pendekatan baru yang diusung kini berfokus pada aspek ekologi untuk memulihkan kawasan pesisir, menjaga kelestarian lingkungan, sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal.

Data dari Global Mangrove Alliance tahun 2021 menunjukkan bahwa secara global, ekosistem mangrove telah mengalami penurunan luas sekitar 4,3 persen. Indonesia pun tak luput dari tren ini, dengan catatan kehilangan mangrove seluas 1,3 juta hektare, atau setara dengan 31 persen dari total luas mangrove nasional, dalam kurun waktu 1980 hingga 2025. Namun, berdasarkan Peta Mangrove Nasional (PMN) Tahun 2025, luas mangrove di Indonesia saat ini tercatat sebesar 3,45 juta hektare.

Menyadari urgensi pelestarian ini, Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Kehutanan terus berupaya memulihkan hutan mangrove yang terkonversi maupun terdegradasi. Nikolas Nugroho Surjobasuindro, Direktur Rehabilitasi Mangrove, menyatakan komitmen pemerintah dalam berbagai langkah strategis. Ia menekankan bahwa rehabilitasi mangrove bukan hanya soal mengembalikan fungsi ekologis, tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi masyarakat pesisir.

“Upaya rehabilitasi mangrove dalam rangka perlindungan dan pengelolaan ekosistem mangrove menjadi salah satu bagian dari upaya memulihkan, meningkatkan dan mempertahankan mangrove dengan berbagai pola, skema dan sumber pendanaan guna mengembalikan fungsi ekosistem serta yang tak kalah pentingnya adalah peluang bisnis guna menjamin kesejahteraan masyarakat pesisir,” ujar Nikolas.

Peningkatan kualitas ekosistem mangrove secara langsung dirasakan oleh masyarakat pesisir. Nikolas menjelaskan bahwa hal ini akan berdampak pada peningkatan produktivitas perikanan tangkap, yang pada gilirannya meningkatkan pendapatan nelayan. Selain itu, ketahanan pangan masyarakat juga akan semakin kuat, serta pemenuhan kebutuhan protein hewani akan terpenuhi.

Penanaman Konvensional dan Tantangannya

Meskipun upaya rehabilitasi terus digalakkan, metode penanaman mangrove secara konvensional masih menjadi pendekatan yang paling umum diterapkan di Indonesia. Namun, Aji Nuralam Dwisutono, Koordinator Program Pesisir dan Delta Wetlands International Indonesia, mengungkapkan bahwa metode ini memiliki tingkat keberhasilan yang relatif rendah, berkisar antara 10-20 persen.

Tantangan ini mendorong para pegiat lingkungan untuk mencari metode yang lebih efektif dan berkelanjutan. Aji memperkenalkan pendekatan Rehabilitasi Mangrove Berbasis Ekologis atau Ecological Mangrove Rehabilitation (EMR) sebagai solusi.

“Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa tingkat keberhasilan penanaman mangrove hanya berkisar 10–20 persen. Oleh karena itu, kami memperkenalkan metode Rehabilitasi Mangrove Berbasis Ekologis atau Ecological Mangrove Rehabilitation (EMR),” kata Aji.

EMR: Solusi Berbasis Alam untuk Pemulihan Mangrove

Pendekatan Ecological Mangrove Rehabilitation (EMR) mengutamakan proses regenerasi alami. Berbeda dengan metode konvensional yang fokus pada penanaman bibit, EMR menitikberatkan pada perbaikan kondisi habitat, terutama hidrologi. Dengan menciptakan lingkungan yang sesuai, propagul atau buah mangrove dapat tumbuh dan berkembang secara alami tanpa intervensi penanaman langsung.

“Intervensi utama dalam pendekatan ini adalah memulihkan kondisi habitat seperti topografi dan hidrologi agar sesuai dengan kebutuhan alami mangrove untuk tumbuh dan berkembang,” terang Aji.

Metode EMR ini telah diadopsi oleh berbagai kelompok masyarakat yang bekerja sama dengan organisasi masyarakat sipil. Beberapa organisasi yang terlibat dalam penerapan EMR antara lain Yayasan Lahan Basah (YLBA), Yayasan Hutan Biru (Blue Forests), dan Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN). Penerapan EMR telah dilakukan di berbagai wilayah di Indonesia, termasuk Jawa, Kalimantan, Sumatera, Sulawesi, dan Nusa Tenggara Barat.

Pembelajaran dan pengalaman dari penerapan EMR, termasuk berbagai manfaat yang telah dirasakan oleh masyarakat, menjadi topik utama dalam Workshop “Pemulihan dan Perlindungan Ekosistem Pesisir melalui Pendekatan Ecological Mangrove Rehabilitation (EMR)”. Acara ini diselenggarakan di Kota Bogor pada Selasa, 30 Juni 2026.

Lebih lanjut, Wetlands International Indonesia, bersama dengan Global Green Growth Institute (GGGI), memperkuat sinergi melalui program NASCLIM (Nature-based Solutions for Climate-smart Livelihoods in Mangrove Landscapes) dan inisiatif Return of the Mangroves (RTM). Program ini memiliki fokus ganda: melindungi hutan mangrove yang masih sehat dan memulihkan ekosistem mangrove yang terdegradasi.

Area prioritas program ini mencakup Delta Kayan–Sembakung di Kalimantan Utara dan Delta Mahakam di Kalimantan Timur. Dengan mengintegrasikan solusi berbasis alam dan pendekatan ekosistem, kolaborasi ini bertujuan untuk menciptakan rehabilitasi mangrove yang lebih efektif, ramah lingkungan, dan dapat direplikasi di berbagai wilayah Indonesia.