DermayuMagz.com – Nilai tukar Rupiah kembali mengalami pelemahan signifikan, menembus level psikologis 18.000 per Dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Rabu, 8 Juli 2026. Mata uang Garuda tercatat melemah 34 poin atau 0,19% dari posisi sebelumnya yang berada di 17.980 menjadi 18.014 per Dolar AS.
Pergerakan ini juga tercermin dalam data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia. JISDOR pada hari yang sama berada di level 18.005 per Dolar AS, menunjukkan tren pelemahan dibandingkan posisi 17.988 per Dolar AS pada hari sebelumnya.
Pelemahan Rupiah ini dipicu oleh serangkaian sentimen negatif yang berasal dari pasar global, terutama ketegangan geopolitik yang meningkat antara Amerika Serikat dan Iran. Serangan militer yang dilancarkan oleh Komando Pusat AS (Centcom) terhadap Iran menjadi katalis utama kekhawatiran pasar.
Menurut analisis pasar uang Ibrahim Assuaibi, serangan tersebut bertujuan untuk memberikan “biaya berat” sebagai respons atas tindakan Iran yang menyerang pelayaran komersial. Eskalasi konflik ini menimbulkan kekhawatiran serius terhadap kelancaran pelayaran di Selat Hormuz, jalur strategis yang krusial bagi pasokan energi global.
Gangguan pada pasokan energi global berpotensi memicu volatilitas yang lebih tinggi di pasar keuangan internasional. Ditambah lagi, Amerika Serikat juga mengambil langkah tegas dengan mencabut konsesi yang sebelumnya memungkinkan Iran untuk menjual minyaknya di pasar internasional. Keputusan ini diperkirakan akan semakin memperketat pasokan minyak dunia dalam beberapa pekan mendatang.
Selain faktor geopolitik, tren kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat turut memberikan tekanan tambahan terhadap Rupiah. Imbal hasil obligasi AS tenor 10 tahun dilaporkan mengalami kenaikan sebesar 5,5 basis poin, mencapai level 4,525%. Kenaikan imbal hasil ini biasanya menarik investor untuk memindahkan dananya ke aset yang dianggap lebih aman di Amerika Serikat.
Meskipun demikian, pasar keuangan masih mencermati perkembangan terkait kebijakan suku bunga acuan Amerika Serikat. Peluang kenaikan suku bunga oleh Federal Reserve (The Fed) pada bulan Juli dinilai relatif kecil. Namun, pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga pada bulan September mendekati 60%, berdasarkan data dari CME FedWatch Tool.
Para pelaku pasar kini menantikan rilis notulen rapat Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) pada bulan Juni, yang dijadwalkan keluar pada Kamis dini hari pukul 01.00 WIB. Dokumen ini diharapkan dapat memberikan wawasan lebih lanjut mengenai arah kebijakan The Fed ke depan, yang tentu akan berdampak pada pergerakan mata uang global, termasuk Rupiah.






