DermayuMagz.com – Tradisi Fang Sheng, sebuah praktik spiritual mendalam dalam ajaran Buddha, mengajarkan makna penting tentang pelepasan makhluk hidup sebagai wujud cinta kasih dan pembebasan batin.
Baru-baru ini, ritual Fang Sheng dilaksanakan di Vihara Nagarjuna, Palangka Raya, pada Jumat, 1 Mei 2026. Kegiatan ini bukan sekadar seremoni keagamaan, melainkan sebuah manifestasi nyata dari filosofi Buddha mengenai pentingnya mengikis ego dan menumbuhkan welas asih.
Dalam ritual tersebut, berbagai jenis hewan yang sebelumnya berada dalam kurungan, baik itu di dalam kerangkeng besi maupun jaring, dilepaskan kembali ke alam bebas. Tindakan ini merupakan simbol dari pembebasan, baik bagi hewan yang dilepaskan maupun bagi batin para pelakunya.
Menurut Bhiksu Duta Guna, yang juga dikenal sebagai Suhu Chuan De, Fang Sheng merupakan salah satu latihan spiritual tertua yang bertujuan untuk mengurangi dan mengikis sifat egois pada diri manusia. Dengan membeli dan melepaskan hewan-hewan tersebut, umat Buddha secara aktif melatih diri untuk mengembangkan cinta kasih.
“Kita membebaskan makhluk yang tadinya terkurung. Yang hendak disembelih, kita beli dan kita lepaskan. Di situlah kita sedang mengembangkan cinta kasih dalam diri sendiri,” ujar Suhu Chuan De, menjelaskan esensi dari praktik ini.
Lebih lanjut, Suhu Chuan De menerangkan bahwa terdapat aspek pengorbanan materi dalam ritual Fang Sheng. Umat mengeluarkan sejumlah harta benda untuk membeli kehidupan hewan-hewan tersebut. Namun, pengeluaran ini tidak dipandang sebagai sebuah kerugian, melainkan sebagai sarana untuk melepaskan keterikatan terhadap hal-hal duniawi.
Dengan merelakan harta demi menyelamatkan nyawa makhluk lain, seseorang secara tidak langsung sedang membebaskan dirinya sendiri dari belenggu keserakahan. Ini adalah sebuah latihan untuk mengendalikan keinginan material dan mengutamakan nilai-nilai spiritual.
Baca juga di sini: LEGO Harry Potter Edisi Perayaan 25 Tahun Rilis
Suhu Chuan De menekankan bahwa dampak terbesar dari Fang Sheng sebenarnya terjadi di dalam diri manusia, bukan semata-mata pada tindakan fisik melepaskan hewan. Ia menggarisbawahi bahwa makna pelepasan ini memiliki dimensi sosial yang sangat luas dan dapat diaplikasikan dalam berbagai aspek kehidupan.
“Sebenarnya Fang Sheng itu bukan hanya dalam lingkup hewan. Dalam kehidupan kita, memaafkan orang yang bersalah kepada kita, melepaskan kebencian yang membelenggu batin, itu juga Fang Sheng,” jelas Suhu Chuan De dengan penuh kebijaksanaan.
Pesan ini menjadi sangat relevan di era modern yang serba cepat dan penuh tantangan. Tindakan menyelamatkan hewan kecil dari bahaya, seperti semut yang hampir tenggelam, memang merupakan perbuatan mulia. Namun, menyelamatkan jiwa sendiri dari racun kebencian dan dendam dianggap sebagai pencapaian spiritual yang jauh lebih tinggi dan berarti.
Di bawah langit Kota Palangka Raya, ritual Fang Sheng menjadi pengingat akan pentingnya menjaga harmoni antara manusia dan alam. Setiap hewan yang dilepaskan membawa serta doa dan harapan agar keseimbangan ekosistem senantiasa terjaga.
Bagi umat Buddha, setiap tindakan kebaikan dan penyelamatan akan menanam benih karma baik. Benih ini diharapkan akan berbuah kebahagiaan dan keberkahan di masa depan, baik di kehidupan ini maupun di kehidupan selanjutnya.
Ketika burung-burung yang dilepaskan terbang tinggi di angkasa, mereka tidak hanya meninggalkan kandang fisik mereka. Mereka juga membawa pesan universal tentang kebahagiaan sejati. Kebahagiaan tersebut tidak ditemukan dalam kepemilikan atau kekangan, melainkan dalam kemurahan hati, memberi, dan melepaskan.
Melalui tradisi Fang Sheng, Vihara Nagarjuna mengajak seluruh umat manusia untuk melakukan introspeksi diri. Pertanyaan mendasar yang diajukan adalah, sudahkah kita hari ini mengamalkan cinta kasih dengan melepaskan sesuatu yang membelenggu? Atau, masihkah kita membiarkan kebencian menguasai dan mengunci batin kita sendiri?






