Harga Perak Antam Hari Ini Naik Rp 100

Bisnis6 Dilihat

DermayuMagz.com – Harga perak PT Aneka Tambang Tbk (Antam) mengalami kenaikan pada perdagangan Rabu, 3 Juni 2026. Kenaikan ini terjadi meskipun harga perak dunia dilaporkan mengalami pelemahan.

Perdagangan hari itu mencatat harga perak Antam naik Rp 100, mencapai Rp 49.750. Angka ini sedikit lebih tinggi dibandingkan harga pada hari sebelumnya yang berada di Rp 49.650.

Meskipun terjadi kenaikan, harga perak Antam masih bertahan di bawah angka Rp 50.000 per gram. Antam sendiri menawarkan produk perak dalam berbagai ukuran, termasuk batangan 250 gram dan 500 gram, serta perak butiran dengan kemurnian 99,95%.

Harga perak batangan 250 gram ditetapkan senilai Rp 12.962.500. Sementara itu, untuk perak batangan ukuran 500 gram, harganya dipatok pada Rp 25.000.000.

Di sisi lain pasar, harga perak dunia justru menunjukkan tren pelemahan. Pada perdagangan Rabu, harga perak dunia tercatat turun sebesar 0,09% menjadi US$ 75,06 per ounce.

Pergerakan harga perak dunia yang tertahan di kisaran US$ 75 per ounce ini diduga dipengaruhi oleh data pasar tenaga kerja Amerika Serikat yang lebih kuat dari perkiraan. Hal ini dapat memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve (The Fed) akan mempertahankan suku bunga tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama.

Data yang dirilis pada Selasa menunjukkan lonjakan lowongan pekerjaan di AS pada bulan April, mencapai level tertinggi dalam hampir dua tahun. Selain itu, angka pemutusan hubungan kerja (PHK) juga dilaporkan menurun, menandakan ketahanan yang berkelanjutan di pasar tenaga kerja AS.

Saat ini, para pelaku pasar tengah menantikan laporan penggajian non-pertanian yang sangat dinantikan pada hari Jumat. Data ini akan memberikan petunjuk lebih lanjut mengenai arah kebijakan moneter The Fed.

Ketidakpastian yang terus berlanjut terkait negosiasi perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran turut berkontribusi pada kenaikan harga minyak. Hal ini memicu kekhawatiran akan inflasi yang lebih tinggi, sekaligus memperkuat argumen bagi The Fed untuk menerapkan kebijakan yang lebih ketat.

Presiden AS Donald Trump sendiri menyatakan bahwa pembicaraan dengan Iran masih terus berlangsung. Laporan juga menyebutkan bahwa pejabat Iran tengah meninjau “teks akhir” yang berpotensi diajukan kepada Amerika Serikat seiring berlanjutnya negosiasi.

Harga Emas Dunia

Sementara itu, pergerakan harga emas pada perdagangan Selasa (Rabu waktu Indonesia) menunjukkan tren penguatan. Para pelaku pasar terus memantau perkembangan situasi di Timur Tengah, terutama setelah pernyataan Presiden AS Donald Trump mengenai kelanjutan pembicaraan dengan Iran.

Menurut laporan CNBC, harga emas AS ditutup naik 0,3% menjadi US$ 4.519,90 per ounce pada hari Selasa.

Menanti Arah Pasar dan Sentimen Geopolitik

Analis pasar dari Forex.com, Fawad Razaqzada, berpendapat bahwa arah pergerakan pasar emas saat ini sangat bergantung pada beberapa faktor makroekonomi utama.

Ia menjelaskan bahwa tren pasar emas sangat dipengaruhi oleh arah harga minyak, imbal hasil obligasi, dan pergerakan dolar AS. Semua faktor ini, pada gilirannya, memiliki keterkaitan erat dengan situasi yang berkembang di Timur Tengah.

Saat ini, pasar cenderung dalam fase menunggu atau ‘wait and see’ karena para pelaku pasar memilih untuk berhati-hati. Razaqzada menambahkan bahwa agar pasar emas kembali menunjukkan momentum kenaikan yang kuat, perlu ada sinyal kembalinya minat dari para pembeli.

“Pasar tampak kurang bergairah karena partisipan sebagian besar sedang menunggu kepastian sinyal, terutama dari perkembangan di Timur Tengah,” jelasnya.

Sisi Geopolitik

Dari aspek geopolitik, kantor berita Mehr melaporkan bahwa Iran sedang meninjau proposal kesepakatan dengan Amerika Serikat untuk mengakhiri konflik di antara kedua negara. Laporan ini muncul setelah Trump mengonfirmasi bahwa negosiasi untuk mencapai kesepakatan tersebut masih berjalan.

Sejak konflik tersebut memanas, harga emas terus berada di bawah tekanan. Kenaikan harga energi memicu kekhawatiran akan inflasi yang lebih tinggi, yang pada gilirannya dapat mendorong suku bunga untuk tetap berada pada level yang tinggi.

Meskipun emas secara historis dianggap sebagai lindung nilai terhadap inflasi, daya tariknya sebagai aset tanpa imbal hasil dapat berkurang ketika suku bunga berada pada level yang tinggi.

Fokus Data Tenaga Kerja AS dan Proyeksi Harga

Selain isu geopolitik, para investor minggu ini juga menyoroti rilis data ekonomi penting dari Amerika Serikat. Data tersebut mencakup laporan ketenagakerjaan versi ADP yang dirilis pada hari Rabu, serta data resmi ketenagakerjaan (Non-Farm Payroll) yang dijadwalkan pada hari Jumat.

Pasar akan menganalisis data ini secara mendalam untuk mencari petunjuk mengenai arah kebijakan moneter bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed).

Di sisi lain, Commerzbank telah merevisi turun proyeksi harga emas mereka untuk akhir tahun ini menjadi US$ 4.800 per troy ounce, dari perkiraan sebelumnya yang mencapai US$ 5.000.

Meskipun demikian, bank asal Jerman tersebut tetap mempertahankan target harga emas di level US$ 5.200 untuk akhir tahun 2027. Mereka mencatat bahwa faktor-faktor struktural yang mendukung penguatan emas dalam jangka panjang masih tetap kuat.

Baca juga : Ledakan Otomotif China Usai, Persaingan Memasuki Babak Baru

“Selain memangkas proyeksi harga emas, melemahnya permintaan industri terhadap perak juga mengindikasikan bahwa harga perak kemungkinan akan sedikit lebih rendah,” demikian kesimpulan dari analisis Commerzbank.