Harga Telur Turun Drastis, Menteri Perdagangan Usulkan Bantuan Pangan

Bisnis2 Dilihat

DermayuMagz.com – Menteri Perdagangan (Mendag), Budi Santoso, mengutarakan keprihatinannya terhadap harga telur yang anjlok drastis di tingkat peternak.

Menghadapi situasi ini, ia mengusulkan agar program Makan Bergizi Gratis (MBG) serta program bantuan pangan lainnya dapat dialokasikan untuk menyerap surplus pasokan telur tersebut.

Tujuannya adalah untuk menstabilkan harga telur di tingkat produsen dan membantu para peternak yang tengah kesulitan.

Mendag Budi Santoso telah menjalin komunikasi dengan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Naniek S. Deyang. Koordinasi ini diharapkan dapat mendorong program MBG di daerah-daerah yang memiliki surplus telur untuk menyerap komoditas tersebut.

Hal ini penting agar peternak dapat memperoleh harga jual yang lebih baik dan mendekati Harga Acuan Pembelian (HAP).

“Kemarin ada beberapa daerah ya, terutama di Jawa Timur, di Blitar itu harga telur kan turun. Sehingga kita sudah berkoordinasi dengan BGN dan dengan Kepala BGN yang baru, bahwa SPPG di daerah tersebut diwajibkan untuk menyerap telur,” ungkap Budi di Kantor Kemendag, Jakarta, Kamis (4/6/2026).

Strategi ini diharapkan dapat meningkatkan permintaan telur di pasaran, sehingga harganya dapat kembali merangkak naik.

Saat ini, harga telur di tingkat peternak dilaporkan berkisar antara Rp 20.600 hingga Rp 22.000 per kilogram.

Angka ini jauh di bawah HAP yang telah ditetapkan oleh pemerintah, yaitu di kisaran Rp 24.500 hingga Rp 26.500 per kilogram.

“Sehingga harga bisa mendekati atau sesuai HAP, dan para peternak akan mendapatkan harga yang bagus,” jelas Budi.

Lebih lanjut, Mendag juga membuka opsi untuk memasukkan telur sebagai salah satu komoditas yang dapat dibagikan dalam program bantuan pangan pemerintah.

Ini merupakan alternatif agar telur dapat terserap ke pasar ketika harganya sedang anjlok.

“Jadi misalnya ketika harga telur itu sedang turun, maka bantuan pangan tidak mesti Minyakita atau beras, tapi bisa juga telur,” ujarnya.

Stabilisasi Harga

Produksi telur yang mengalami surplus sekitar 12 persen saat ini menjadi salah satu faktor utama yang menekan harga di tingkat peternak.

Kondisi ini terjadi karena kenaikan permintaan belum sebanding dengan peningkatan pasokan yang ada.

Oleh karena itu, program bantuan pangan dan kewajiban penyerapan oleh program MBG akan menjadi instrumen utama pemerintah dalam menstabilkan harga komoditas ini.

“Penyerapannya sebenarnya ada, tinggal kita mengatur manajemennya untuk SPPG dengan baik, sehingga telur bisa terserap,” katanya.

Mendag juga menegaskan bahwa kebijakan ini tidak hanya berlaku untuk telur, tetapi juga untuk komoditas pangan lainnya.

Daging ayam, misalnya, jika harganya jatuh di bawah acuan, maka BGN juga akan diminta untuk menyerapnya melalui program SPPG.

“Tidak hanya telur. Kebutuhan bahan pokok lain seperti daging ayam, apabila harganya turun di bawah acuan, maka BGN juga akan kita minta untuk menyerapnya di SPPG,” imbuh Budi.

Peternak Blitar Protes

Sebelumnya, ratusan peternak yang tergabung dalam Peternak Rakyat Blitar Raya telah menyuarakan aspirasi mereka melalui aksi unjuk rasa di Blitar, Jawa Timur.

Mereka mendesak pemerintah untuk memberikan perlindungan yang lebih baik bagi peternak skala mikro.

Koordinator Peternak Rakyat Blitar Raya, Suyanto, mengungkapkan bahwa anjloknya harga telur ini telah berlangsung selama tiga bulan berturut-turut.

Situasi ini menyebabkan kesulitan finansial yang signifikan bagi para peternak.

“Harga telur anjlok. Hari ini di kandang Rp20.600 per kilogram, sementara HPP (harga pokok produksi) di kami itu Rp23.000 per kilogram. Padahal HAP sebesar Rp24.500 sampai Rp26.500 per kilogram,” katanya saat dikonfirmasi di Blitar, mengutip Antara.

Biaya Pakan Mahal

Kondisi peternak semakin tertekan dengan melonjaknya harga pakan ayam.

Harga pakan ayam dilaporkan mengalami kenaikan yang cukup signifikan, mencapai Rp 30.000 per karung.

“Harga pakan ayam isi 50 kilogram yang dahulu Rp 370.000 kini menjadi Rp 400.000 per karung. Ada juga yang dahulu Rp 400.000 kini menjadi Rp 430.000,” jelasnya.

Selain itu, harga jagung pakan juga terpantau relatif tinggi.

Harga jagung untuk pakan ternak berkisar antara Rp 6.400 hingga Rp 6.500 per kilogram.

Angka ini berada di atas harga pasokan SPHP (Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan) jagung yang ditetapkan sebesar Rp 5.500 per kilogram.

Suyanto menambahkan bahwa para peternak terpaksa menjual aset berharga mereka demi memenuhi kebutuhan pakan ternak.

Mereka menghadapi ketidakpastian kapan situasi pasar akan kembali normal dan menguntungkan bagi usaha mereka.