Jurus Mendag Jaga Harga Telur

Bisnis3 Dilihat

DermayuMagz.com – Pemerintah bergerak cepat untuk menstabilkan harga telur ayam yang mengalami penurunan drastis. Kementerian Perdagangan (Kemendag) menggandeng Badan Gizi Nasional (BGN) untuk menyerap hasil produksi peternak lokal.

Langkah ini diambil sebagai respons terhadap kondisi pasar yang menunjukkan surplus produksi telur hingga 12 persen. Surplus ini menyebabkan harga jual telur di tingkat peternak anjlok, mengancam kesejahteraan para peternak.

Menteri Perdagangan, Budi Santoso, menyatakan bahwa pihaknya telah berkoordinasi intensif dengan BGN, termasuk dengan pimpinan yang baru. Tujuannya adalah agar Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di daerah-daerah yang mengalami kelebihan pasokan diwajibkan menyerap telur.

Dengan demikian, harga telur diharapkan dapat mendekati atau sesuai dengan Harga Eceran Tertinggi (HET). Hal ini penting agar para peternak dapat merasakan harga jual yang menguntungkan.

Intervensi ini merupakan bagian dari upaya pemerintah untuk menjaga keseimbangan antara pasokan dan permintaan di pasar domestik. Penyerapan telur dalam jumlah besar oleh SPPG diharapkan dapat menstabilkan harga di tingkat produsen.

Selain program Makan Bergizi Gratis (MBG), Kemendag juga berencana memanfaatkan program Bantuan Pangan nasional. Program ini dapat menjadi wadah alternatif untuk menyerap komoditas yang mengalami surplus, termasuk telur ayam.

Fleksibilitas dalam penyaluran bantuan pangan menjadi kunci. Jika harga telur sedang turun, bantuan pangan tidak harus melulu berupa Minyakita atau beras, melainkan bisa dialihkan ke telur.

Hal ini bertujuan untuk memastikan bahwa hasil produksi peternak memiliki pangsa pasar yang jelas, terutama saat terjadi lonjakan produksi yang berpotensi merusak harga.

Pemerintah menekankan bahwa masalah utama saat ini bukanlah kurangnya minat konsumsi masyarakat. Justru, persoalan mendasar terletak pada tata kelola distribusi dan manajemen penyerapan yang perlu segera diperbaiki.

Manajemen yang baik akan mencegah hasil panen yang melimpah menjadi terbuang sia-sia. Surplus produksi telur sebesar 12 persen ini menjadi perhatian serius pemerintah untuk segera diatasi.

Skema penyelamatan harga ini tidak hanya akan diterapkan pada komoditas telur. Kemendag berkomitmen untuk memberlakukan langkah serupa pada sektor peternakan lain yang rentan mengalami kemerosotan harga, seperti daging ayam.

Langkah preventif ini diharapkan dapat menjaga stabilitas harga pangan secara keseluruhan. Selain itu, ini juga memberikan jaminan kepastian pasar bagi para peternak dan pelaku usaha di sektor agraria.

Mendag Budi Santoso menegaskan bahwa jika harga komoditas seperti daging ayam juga turun di bawah standar, BGN akan diminta untuk menyerapnya melalui SPPG.

Kondisi di lapangan sebelum intervensi ini memang cukup memprihatinkan. Di Kabupaten Blitar, ratusan peternak ayam petelur sempat menggelar aksi solidaritas dengan membagikan 1 juta butir telur secara gratis kepada warga.

Aksi tersebut dilakukan sebagai bentuk protes atas anjloknya harga jual telur di tingkat peternak. Harga jual saat itu hanya berkisar Rp 20 ribu hingga Rp 21 ribu per kilogram (kg).

Angka tersebut jauh di bawah modal produksi rata-rata peternak, yang diperkirakan mencapai Rp 24 ribu per kg. Situasi ini jelas merugikan para peternak yang telah berinvestasi dalam operasional mereka.

Oleh karena itu, intervensi pemerintah melalui Kemendag dan BGN ini diharapkan dapat memberikan solusi konkret. Stabilisasi harga telur tidak hanya menguntungkan peternak, tetapi juga menjaga ketersediaan pangan pokok yang terjangkau bagi masyarakat.