DermayuMagz.com – Kementerian Pekerjaan Umum (PU) telah menyelesaikan pembangunan 222 unit dapur satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG). Seluruh bangunan ini siap untuk diserahkan kepada Badan Gizi Nasional (BGN).
Menteri Pekerjaan Umum, Dody Hanggodo, menyatakan bahwa Kementerian PU ditugaskan untuk membangun 222 dapur Makan Bergizi Gratis (MBG). Pembangunan ini mencakup wilayah 3T (terluar, terpencil, tertinggal) serta daerah perbatasan.
Seluruh fasilitas tersebut kini telah rampung dan akan segera diserahkan kepada BGN dalam waktu dekat. Proses serah terima sedang berjalan, dan Kepala BGN dijadwalkan untuk melakukan pengecekan sebelum penerimaan resmi.
Terdapat sekitar 20 titik SPPG yang berlokasi di wilayah 3T dan perbatasan. Penentuan lokasi-lokasi ini merupakan hasil musyawarah bersama antara Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) dan BGN.
Dody Hanggodo memastikan bahwa semua SPPG telah selesai dibangun dengan dua jenis ukuran bangunan. Ukuran ini disesuaikan dengan jumlah penerima manfaat yang akan dilayani.
Bangunan inti pertama memiliki luas 10×15 meter persegi. Fasilitas ini diperuntukkan bagi SPPG yang melayani kurang dari 1.000 penerima manfaat.
Sementara itu, bangunan inti kedua memiliki luas 20×20 meter persegi. Ukuran ini ditujukan untuk SPPG yang menyediakan Makan Bergizi Gratis (MBG) bagi 1.000 hingga 3.000 penerima manfaat.
Selain bangunan inti, setiap SPPG juga dilengkapi dengan fasilitas penunjang operasional. Fasilitas ini dirancang untuk memastikan kelancaran kegiatan pelayanan.
Setiap SPPG dilengkapi dengan genset dan sistem pengolahan air limbah. Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi jika terjadi pemadaman listrik, sehingga bahan mentah yang disimpan dalam lemari pendingin tidak rusak.
Ukuran genset yang disediakan bervariasi antara 25 hingga 40 KVA, tergantung pada skala bangunan SPPG tersebut. Ketersediaan genset ini menjadi jaminan operasional yang berkelanjutan.
Efisiensi Anggaran MBG
Sebelumnya, Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Nanik S Deyang, menekankan pentingnya perbaikan tata kelola program MBG untuk tahun 2026. Salah satu fokus utamanya adalah mengoptimalkan efisiensi anggaran.
Nanik menyatakan bahwa BGN sangat memperhatikan efisiensi. Meskipun anggaran saat ini berjumlah Rp 268 triliun, BGN berharap dapat menurunkannya lebih lanjut tanpa mengorbankan kualitas program.
Langkah efisiensi anggaran ini akan diterapkan di berbagai aspek program. BGN akan memfokuskan perhatian pada tiga area utama.
Pertama adalah penataan ulang penerima manfaat (refocusing). Hal ini bertujuan agar bantuan gizi lebih tepat sasaran dan efektif.
Kedua, BGN akan memberlakukan moratorium untuk pembangunan titik-titik dapur MBG yang baru. Kebijakan ini untuk sementara menghentikan ekspansi pembangunan.
Ketiga, akan dilakukan pembenahan terhadap dapur-dapur MBG yang sudah berdiri dan beroperasi. Tujuannya adalah memastikan semua dapur memenuhi standar kualitas yang ditetapkan.
Selain itu, akan ada perbaikan dan pelatihan bagi sumber daya manusia di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Peningkatan kapasitas SDM dianggap krusial untuk menghasilkan makanan berkualitas.
Nanik menegaskan bahwa dapur MBG yang tidak memenuhi standar operasional prosedur (SOP) akan dikenakan sanksi. BGN akan menangguhkan sementara atau men-suspend dapur tersebut jika tidak sesuai.
Presiden Prabowo Subianto sebelumnya telah menekankan bahwa program MBG merupakan amanah besar. Beliau menegaskan program ini harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab oleh semua pihak.
Peran Penting MBG
Presiden Prabowo menyampaikan hal tersebut saat menghadiri Konsolidasi Nasional Program MBG. Acara ini diinisiasi oleh BGN di SICC, Bogor, Jawa Barat, pada Rabu (3/6).
Kegiatan ini mengusung tema “500 Billion Meals Challenge: Building Indonesia’s Future Generations Through Nutrition – An Inspiring Session.” Tema ini menyoroti pentingnya nutrisi untuk generasi masa depan.
Presiden Prabowo menekankan bahwa seluruh pelaksana program MBG memegang peran krusial. Mereka bertanggung jawab memastikan manfaat program ini dirasakan secara optimal oleh masyarakat.
Beliau menyatakan bahwa memberikan makan adalah pekerjaan mulia. Oleh karena itu, program ini harus berhasil dan akan berhasil berkat kontribusi para pelaksana.
Presiden Prabowo juga memberikan peringatan tegas. Beliau menyatakan bahwa jika ada yang tidak mau bekerja dengan baik, sebaiknya menyingkir. Kepentingan rakyat harus didahulukan di atas segala kepentingan pribadi.






