Purbaya Pinjam Dana Baru Rp 386 Triliun Sampai Mei 2026

Bisnis3 Dilihat

DermayuMagz.com – Pemerintah Indonesia terus berupaya menjaga stabilitas fiskal melalui berbagai instrumen pembiayaan. Hingga Mei 2026, pemerintah telah menarik pembiayaan utang melalui penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) neto sebesar Rp 386 triliun.

Jumlah ini merupakan bagian dari upaya menutup defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang tercatat sebesar Rp 180,4 triliun, atau setara 0,7% dari Produk Domestik Bruto (PDB).

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan bahwa realisasi pembiayaan ini masih berada dalam batas aman. Hal ini didukung oleh stabilitas pasar obligasi domestik serta minat investor yang tetap tinggi terhadap instrumen utang negara.

Purbaya menjelaskan bahwa total realisasi pembiayaan anggaran hingga akhir Mei telah mencapai Rp 379,4 triliun. Angka ini setara dengan 55,1% dari target APBN 2026 yang ditetapkan sebesar Rp 689,1 triliun.

Mayoritas dari pembiayaan tersebut berasal dari penerbitan surat utang negara. Lebih spesifik, Purbaya mengonfirmasi bahwa realisasi penerbitan SBN neto telah mencapai sekitar Rp 386 triliun.

“Netonya Rp 386 triliun,” ujar Purbaya dalam Konferensi Pers APBN Kita pada Jumat, 5 Juni 2026.

Meskipun pemerintah terus melakukan penerbitan utang baru, Purbaya menegaskan bahwa kondisi pasar surat utang di dalam negeri tetap relatif stabil. Stabilitas ini terjaga meskipun pasar keuangan global sedang mengalami tekanan dan nilai tukar rupiah sempat melemah.

Sebelumnya, pemerintah telah berupaya meyakinkan investor mengenai fundamental ekonomi Indonesia. Keyakinan ini tercermin dari arus modal asing yang terus mengalir masuk (net inflow) ke dalam negeri, bahkan di tengah tekanan yang masih membayangi pasar saham.

Purbaya secara konsisten menyatakan bahwa pemerintah berupaya menjaga stabilitas sektor keuangan. Upaya ini juga bertujuan untuk memperkuat kepercayaan pelaku pasar terhadap prospek ekonomi Indonesia di masa depan.

Namun, perlu dicatat bahwa pada kuartal I 2026, instrumen Surat Berharga Negara (SBN) dan pasar saham sempat mengalami net outflow atau aliran dana keluar.

Pada periode tersebut, hanya instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) yang mencatatkan peningkatan arus dana masuk.

Memasuki kuartal II 2026, tren mulai menunjukkan perbaikan yang signifikan. Purbaya melaporkan bahwa dana asing kembali mengalir deras ke pasar obligasi pemerintah maupun instrumen SRBI.

“Pada kuartal pertama kita lihat SBN dan saham turun terus, yang naik hanya SRBI, tetapi pada kuartal kedua kita lihat SBN mulai naik, saham masih turun, dan SRBI naik lebih besar,” jelas Purbaya dalam konferensi pers APBN Kita pada Jumat, 5 Juni 2026.

Data per 3 Juni 2026 menunjukkan total net inflow modal asing pada kuartal II mencapai Rp 60,9 triliun. Dari jumlah tersebut, pasar SBN berhasil mencatatkan arus dana masuk sebesar Rp 14,4 triliun.

Instrumen SRBI menjadi primadona dengan aliran modal masuk terbesar, mencapai Rp 70,1 triliun. Hal ini menunjukkan kepercayaan investor yang kuat terhadap instrumen yang diterbitkan oleh Bank Indonesia.

Di sisi lain, pasar saham masih membukukan arus dana keluar (outflow) sebesar Rp 23,5 triliun. Meskipun demikian, Purbaya menekankan pentingnya melihat angka netral.

“Yang penting kita lihat net-nya. Kuartal kedua masih positif. Ini menjawab keraguan banyak orang,” tegasnya.

Menurut Purbaya, perkembangan positif pada kuartal II ini menjadi indikasi kuat bahwa kepercayaan investor terhadap fundamental ekonomi Indonesia tetap kokoh.

“Kalau kita lihat datanya, optimismenya masih ada ke ekonomi Indonesia. Jadi jangan termakan satu pemberitaan saja. Kelihatan sekali bahwa di SRBI maupun bond masih signifikan inflow-nya,” pungkas Purbaya.