DermayuMagz.com – Pasokan batu bara untuk pembangkit listrik PT PLN (Persero) sempat menjadi perhatian publik, terutama setelah terjadinya pemadaman listrik di beberapa wilayah. Gangguan pada pasokan batu bara ini diduga dipengaruhi oleh sejumlah faktor.
Pengamat menilai bahwa cuaca buruk, kendala logistik dalam pengangkutan, kualitas batu bara yang tidak sesuai standar, hingga tingginya harga batu bara di pasar internasional dapat memengaruhi ketersediaan pasokan untuk kebutuhan domestik, khususnya bagi PLN.
Direktur Eksekutif Pusat Studi Hukum Energi dan Pertambangan (Pushep), Bisman Bakhtiar, menjelaskan bahwa meskipun gangguan pasokan batu bara ke PLN tidak sering terjadi, namun beberapa kali sempat berdampak pada operasional pembangkit listrik.
“Sebenarnya tidak sering terjadi, tetapi memang beberapa kali terjadi ketika permintaan listrik meningkat atau terjadi gangguan pasokan dari pemasok (batu bara),” ujar Bisman.
Menurut Bisman, ada beberapa faktor yang secara umum menghambat distribusi batu bara ke pembangkit listrik. Faktor-faktor tersebut meliputi kondisi cuaca yang dapat mengganggu transportasi, masalah logistik yang berkaitan dengan pengangkutan batu bara, dan kualitas batu bara yang mungkin tidak memenuhi spesifikasi yang dibutuhkan oleh pembangkit listrik.
“Biasanya karena cuaca, kendala logistik pengangkutan, atau kualitas batu bara yang enggak sesuai dengan spesifikasi pembangkit,” tuturnya.
Selain kendala teknis dan operasional, pertimbangan harga juga menjadi faktor penting bagi para produsen batu bara. Saat ini, harga batu bara untuk kebutuhan dalam negeri atau yang dikenal dengan Domestic Market Obligation (DMO) ditetapkan sebesar US$ 70 per ton. Sementara itu, Harga Acuan Batu Bara (HAB) untuk kualitas tertentu bisa mencapai sekitar US$ 128 per ton.
Kondisi ini mendorong produsen untuk lebih memprioritaskan penjualan ke pasar ekspor yang menawarkan harga lebih tinggi. “Selain itu, kalau pas harga ekspor tinggi, banyak yang utamakan ekspor,” tegas Bisman.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, sebelumnya telah memberikan pernyataan yang menenangkan. Ia memastikan bahwa tidak akan ada lagi pemadaman listrik di masa mendatang. Pernyataan ini disampaikan setelah adanya jaminan bahwa pasokan batu bara untuk pembangkit PLN tetap terjaga.
Bahlil menyampaikan hal ini setelah menghadiri rapat dengan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, di Jakarta. “InsyaaAllah enggak,” jawab Bahlil ketika ditanya mengenai kemungkinan terjadinya pemadaman listrik lagi.
Lebih lanjut, Bahlil menegaskan bahwa kondisi pasokan batu bara untuk pembangkit listrik PLN saat ini dianggap aman. Meskipun masih terdapat kekurangan dalam kontrak pasokan, jumlah tersebut dinilai tidak signifikan dan tidak akan sampai mengganggu operasional pembangkit listrik.
“Batu baranya pun dari total kebutuhan 154 juta ton PLN pada tahun 2026, kita sudah, PLN sudah melakukan kontrak 134 juta ton. Jadi tinggal kurang lebih sekitar 18 sampai 20 juta ton yang belum. Jadi overall enggak ada masalah,” terangnya.
Menurut Bahlil, kekurangan sekitar 18 juta hingga 20 juta ton batu bara tersebut ditargetkan segera terpenuhi dalam waktu dekat. Dengan demikian, kebutuhan batu bara untuk pembangkit listrik PLN pada bulan Juni 2026 dipastikan tetap aman dan tercukupi.






