Antrean Kapal di Selat Hormuz, Dibuka Kembali, Tetap Berbulan-bulan

Bisnis1 Dilihat

DermayuMagz.com – Kesepakatan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran telah membuka kembali Selat Hormuz yang sebelumnya terblokade selama berbulan-bulan. Namun, harapan pelaku pasar akan pasokan minyak, LNG, dan komoditas lainnya yang segera terkirim tampaknya belum sepenuhnya terwujud.

Para ahli dan eksekutif industri pelayaran memperkirakan bahwa antrean kapal yang menumpuk di jalur pelayaran strategis ini memerlukan waktu berminggu-minggu, bahkan bisa berbulan-bulan, untuk terurai sepenuhnya.

Melansir CNBC, Jumat (19/6/2026), harga minyak sempat mengalami penurunan di bawah US$ 80 per barel menyusul kabar kesepakatan damai antara AS dan Iran. Para pelaku pasar pun berekspektasi pasokan berbagai komoditas vital dapat kembali mengalir lancar.

Sebelumnya, hampir empat bulan konflik menyebabkan kemacetan lalu lintas laut yang signifikan. Banyak kapal terpaksa tidak dapat atau enggan melintasi Selat Hormuz, mengganggu rantai pasok global.

Namun, kembalinya pasokan yang stabil dan memadai untuk menjaga harga minyak di bawah US$ 80 per barel diperkirakan tidak akan terjadi dalam semalam. Proses normalisasi ini diprediksi akan memakan waktu yang cukup lama.

Operator kapal, otoritas pelabuhan, dan perusahaan energi di wilayah Teluk masih menunjukkan sikap kehati-hatian. Hal ini disebabkan oleh sejumlah persoalan logistik dan keamanan utama yang belum sepenuhnya terselesaikan.

“Skenario yang paling mungkin adalah pembukaan kembali secara bertahap, dengan mekanisme pengaturan lalu lintas kapal yang melibatkan Iran dan Oman,” ujar Adam Sharpe, Wakil Presiden Editorial Lloyd’s List Intelligence.

Sharpe menambahkan, masih ada banyak pertanyaan krusial yang belum terjawab. Ini termasuk apakah kapal akan memerlukan izin terlebih dahulu sebelum melintas, apakah Iran akan memberlakukan biaya layanan, serta apakah pengawalan angkatan laut asing masih diperbolehkan.

Selain itu, potensi risiko keamanan seperti ranjau laut juga menjadi pertimbangan penting yang memerlukan proses pembersihan sebelum lalu lintas dapat sepenuhnya normal kembali.

Mengapa Pembukaan Kembali Selat Hormuz Tidak Mudah?

Meskipun kesepakatan politik untuk membuka kembali Selat Hormuz telah tercapai, para pelaku industri sepakat bahwa normalisasi lalu lintas pelayaran akan berjalan secara bertahap. Proses ini tidak bisa dilakukan secara instan.

Adam Sharpe menjelaskan, skenario yang paling realistis adalah peningkatan lalu lintas secara bertahap, bukan langsung kembali ke volume normal yang mencapai lebih dari 100 pelayaran per hari.

Sebelum konflik terjadi, data dari Lloyd’s List Intelligence mencatat bahwa jumlah kapal kargo yang melintasi Selat Hormuz mencapai sekitar 650 hingga 770 kapal setiap pekannya. Angka ini setara dengan 90 hingga 110 pelayaran harian untuk kedua arah.

Penyedia intelijen ekonomi, QuantCube Technology, juga melaporkan bahwa data pelayaran mereka belum menunjukkan peningkatan signifikan dalam keberangkatan ekspor minyak dari negara-negara seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Irak.

Di wilayah Dammam, Arab Saudi, khususnya di kompleks ekspor minyak Ras Tanura, sejumlah kapal dilaporkan telah dimuat dan kini menunggu di lepas pantai. Mereka menunggu situasi menjadi lebih jelas sebelum melanjutkan perjalanan, menurut Ekonom Senior QuantCube, Alan Lemangnen.

Situasi ini menunjukkan bahwa meskipun hambatan politik telah teratasi, tantangan operasional dan logistik masih menjadi faktor penentu dalam pemulihan penuh aktivitas pelayaran di Selat Hormuz.