DermayuMagz.com – Pulau Jawa mengalami pemadaman listrik bergilir yang cukup luas sejak 8 Juni 2026. Gangguan ini berdampak di berbagai wilayah seperti Bogor, Tangerang Raya, Semarang, Jawa Timur, Cirebon, Bantul, Yogyakarta, Bekasi, Tangerang Selatan, hingga Banten.
PT PLN (Persero) menjelaskan bahwa pemadaman ini disebabkan oleh gangguan pada dua pembangkit listrik besar yang menjadi penyuplai utama sistem kelistrikan Jawa. Kondisi ini mengakibatkan penurunan kapasitas pasokan listrik, sehingga PLN terpaksa melakukan pengaturan beban demi menjaga keseimbangan sistem.
Executive Vice President Komunikasi Korporat dan TJSL PLN, Gregorius Adi Trianto, menyatakan bahwa langkah ini bersifat sementara hingga kondisi pembangkit listrik kembali normal. Ia menambahkan bahwa kendala teknis operasional pada pembangkit menjadi penyebab utama.
“Langkah tersebut dilakukan karena terdapat kendala teknis operasional pembangkit, serta ada dua unit pembangkit besar yang mengalami gangguan sehingga tidak beroperasi sementara dan menurunkan kemampuan sistem pasokan listrik,” ujar Gregorius pada 19 Juni 2026.
PLN terus berupaya mempercepat pemulihan dengan mengoptimalkan pasokan dari pembangkit lain dan melakukan pengaturan operasi sistem. Tujuannya adalah untuk menjaga keseimbangan antara pasokan dan kebutuhan listrik, serta meminimalkan dampak bagi pelanggan.
Gregorius memastikan bahwa manajemen beban yang dilakukan hanya bersifat sementara dan akan dihentikan secara bertahap seiring dengan membaiknya kondisi pasokan listrik.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menegaskan bahwa pemadaman listrik yang terjadi bukan disebabkan oleh kekurangan pasokan batu bara. Menurutnya, pemerintah telah mengantisipasi kebutuhan batu bara untuk pembangkit melalui penugasan kepada perusahaan tambang nasional, bahkan melebihi kebutuhan PLN secara nasional.
“Teknisnya, untuk sampai di power plant-nya itu bukan tugas Dirjen Minerba. Itu sudah merupakan teknis daripada manajemen logistik PLN,” jelas Bahlil.
Ia menambahkan bahwa persoalan yang terjadi lebih terkait dengan aspek teknis operasional dan distribusi yang menjadi tanggung jawab PLN. Bahlil mengaku telah berkomunikasi dengan Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo, untuk segera melakukan mitigasi dan evaluasi sistem operasional guna mencegah kejadian serupa.
“Tadi saya juga sudah berbicara sama Pak Dirut. Saya katakan bahwa segera melakukan langkah-langkah yang terukur agar hal-hal yang tidak diinginkan tidak terjadi, termasuk di dalamnya adalah pemadaman yang dikeluhkan oleh rakyat. Yang mengoperasikan listrik itu bukan Dirjen Listrik, bukan ya. Bukan kita. Kita regulasinya sementara yang melaksanakan kegiatan adalah PLN,” tuturnya pada 21 Juni 2026.
Di tengah upaya pemulihan, PLN mengumumkan bahwa salah satu pembangkit listrik swasta (IPP) yang sebelumnya mengalami gangguan telah kembali beroperasi dan tersinkronisasi dengan sistem kelistrikan Jawa sejak 21 Juni 2026. Hal ini membantu mengurangi pemadaman bergilir.
“Salah satu pembangkit besar yang sempat gangguan telah berhasil dipulihkan dan telah sinkron dengan sistem kelistrikan Pulau Jawa serta mulai memasok listrik untuk menambah keandalan sistem kelistrikan di Pulau Jawa,” kata Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo.
Darmawan menjelaskan bahwa pulihnya pembangkit tersebut, ditambah dengan normalnya distribusi batu bara yang sesuai spesifikasi, telah membantu memperbaiki kondisi pasokan listrik. Ia juga memastikan bahwa PLN terus melakukan pemantauan dan penguatan sistem secara menyeluruh untuk menjaga keandalan pasokan.
“Kami melakukan upaya all out 24 jam, 7 hari seminggu, baik dalam melakukan monitoring maupun memetakan seluruh langkah yang diperlukan agar keandalan sistem listrik di Jawa ini dapat terus terjaga dan bahkan ditingkatkan,” ujarnya.
PLN juga telah melakukan perbaikan tata kelola rantai pasok energi primer serta penguatan pada pembangkit milik PLN maupun mitra. Pihaknya memohon maaf kepada masyarakat atas ketidaknyamanan yang timbul akibat pemadaman bergilir.
Menyikapi kejadian ini, sejumlah pihak mengusulkan langkah jangka panjang untuk memperkuat ketahanan pasokan batu bara. Anggota Dewan Energi Nasional (DEN), M. Kholid Syeirazi, menyarankan PLN berinvestasi dalam pembangunan fasilitas pencampuran batu bara (blending facility).
“Menurut saya, PLN harus berinvestasi dalam pembangunan blending facility. Karena produksi batu bara kita lebih banyak yang berkalori rendah. Sementara desain boiler pembangkit membutuhkan batu bara kualitas medium agar penurunan kapasitas terpasangnya tidak terlalu drastis,” kata Kholid kepada Liputan6.com, Senin (22/6/2026).
Fasilitas ini diharapkan dapat mencampur batu bara berkalori tinggi dan rendah untuk menghasilkan kualitas yang sesuai kebutuhan pembangkit. Selain itu, pemerintah berencana membentuk tim khusus untuk mengawal pengadaan batu bara PLN, yang didukung oleh Direktur Eksekutif Pusat Studi Hukum Energi dan Pertambangan (Pushep), Bisman Bakhtiar.
Bisman menilai pembentukan tim tersebut dapat memperkuat transparansi dan akuntabilitas dalam penentuan pemasok dan harga batu bara. Ia juga mendorong PLN untuk menjaga cadangan operasional yang memadai dan melakukan diversifikasi sumber pasokan.






