Tujuh BUMN Logistik Bersatu, Ini Daftar Perusahaannya

Bisnis5 Dilihat

DermayuMagz.com – Langkah strategis pemerintah untuk membenahi sektor logistik nasional mulai menunjukkan hasil nyata. Sebanyak tujuh Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang bergerak di bidang logistik secara resmi telah bergabung, menandai dimulainya era baru efisiensi dan daya saing di industri ini.

Penandatanganan perjanjian pemegang saham atau Shareholders Agreement (SHA) serta akta penggabungan dilaksanakan pada Selasa, 30 Juni 2026. Momen bersejarah ini tidak hanya menyatukan aset dan sumber daya, tetapi juga membuka jalan bagi pembentukan ekosistem logistik nasional yang terintegrasi penuh.

Tujuan utama dari konsolidasi ini adalah untuk memangkas biaya logistik nasional agar lebih kompetitif di kancah internasional, khususnya di kawasan ASEAN. Selain itu, penggabungan ini diharapkan dapat menghilangkan potensi tumpang tindih layanan antar BUMN logistik yang selama ini menjadi salah satu kendala efisiensi.

Perusahaan-perusahaan yang terlibat dalam penggabungan ini adalah entitas-entitas kuat yang sebelumnya beroperasi secara terpisah. Mereka adalah Pelindo Solusi Logistik yang diwakili oleh Multi Terminal Indonesia dan Prima Indonesia Logistik, Pos Logistics, Pelni Logistics, PT Kawasan Berikat Nusantara (KBN), PT Varia Usaha Dharma Segara (VUDS), serta Krakatau Integrated Logistics.

Aurelius Altius Rosimin, Senior Director Corporate Strategy PT Danantara Asset Management (DAM), yang menjadi inisiator program Konsolidasi BUMN Logistik Nasional, menyatakan optimisme terhadap langkah ini. “Penggabungan ini adalah tonggak penting dalam transformasi portofolio perusahaan kami untuk mendukung target pembangunan jangka panjang nasional,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa konsolidasi ini akan mengeliminasi fragmentasi entitas, mengoptimalkan skala usaha, dan mengatasi duplikasi layanan yang selama ini membebani efisiensi logistik BUMN. Dengan demikian, diharapkan lahir efisiensi operasional yang signifikan.

Membangun Ekosistem Logistik Terpadu

Pembentukan ekosistem logistik yang terintegrasi dari hulu hingga hilir menjadi salah satu prioritas utama dari penggabungan ini. Melalui penyatuan berbagai entitas, pemerintah berupaya menciptakan sinergi yang kuat antar lini bisnis logistik, mulai dari penyimpanan, transportasi, hingga distribusi.

Diharapkan, langkah ini akan meningkatkan daya saing industri logistik nasional secara keseluruhan. Biaya logistik di Indonesia yang masih dianggap relatif tinggi dibandingkan negara-negara tetangga di ASEAN menjadi salah satu tantangan yang ingin diatasi melalui strategi ini.

Dalam struktur baru ini, PT Pos Indonesia (Persero) memegang peranan penting sebagai salah satu pilar utama. Jaringan operasional Pos Indonesia yang luas dan telah teruji di seluruh penjuru negeri akan menjadi aset berharga dalam mendukung integrasi layanan logistik nasional.

Direktur Utama Pos Indonesia, Daud Joseph, menegaskan kesiapan perusahaannya untuk berkontribusi. “Pos Indonesia didukung oleh jaringan 5.597 titik layanan, armada sebanyak 8.032 unit, serta kemampuan melayani lebih dari 2,2 juta pelanggan dan memproses lebih dari 300 ribu paket per hari. Kami siap mengintegrasikan layanan ini dalam ekosistem logistik baru,” papar Jos.

Proses Bertahap dan Komitmen Layanan

Proses penggabungan ini akan dilaksanakan secara bertahap untuk memastikan kelancaran transisi dan meminimalkan dampak terhadap operasional harian serta layanan kepada pelanggan. Penerapan Good Corporate Governance (GCG) dan manajemen risiko menjadi prioritas utama selama masa transformasi.

“Kami berkomitmen penuh untuk menjaga kontinuitas layanan bagi seluruh pelanggan. Mereka tidak perlu khawatir akan terganggu oleh proses penggabungan ini,” ujar Jos, menekankan pentingnya kepuasan pelanggan.

Secara jangka panjang, konsolidasi tujuh BUMN logistik ini diharapkan tidak hanya menciptakan layanan logistik end-to-end yang lebih kompetitif, tetapi juga memberikan dampak positif berganda bagi perekonomian nasional. Indonesia berambisi melahirkan National Logistics Champion yang mampu memperkuat rantai pasok domestik dan meningkatkan daya saing logistik di kancah global.

Langkah ini merupakan bagian dari upaya berkelanjutan pemerintah dalam memperkuat infrastruktur logistik nasional, sebuah elemen krusial untuk mendukung pertumbuhan ekonomi dan daya saing industri di era globalisasi.