DermayuMagz.com – Negara-negara di kawasan Asia Tenggara menunjukkan peningkatan minat terhadap minyak mentah Rusia, didorong oleh kebutuhan mendesak untuk mengatasi kelangkaan energi domestik. Keputusan ini diambil meskipun ada potensi gesekan dengan sekutu Barat dan kekhawatiran akan meningkatnya pengaruh Moskow di kawasan.
Para analis menilai bahwa prioritas utama negara-negara ASEAN adalah mengamankan pasokan bahan bakar untuk kebutuhan internal mereka. Implikasi geopolitik dari pembelian energi Rusia, termasuk potensi ketegangan dengan Amerika Serikat dan negara-negara Eropa yang mendukung Ukraina, cenderung dikesampingkan.
Sebelumnya, Amerika Serikat memperpanjang pengecualian yang memungkinkan Rusia terus menjual minyaknya meskipun ada sanksi Barat. Keputusan ini, yang dilaporkan pada 17 April, dikritik oleh Ukraina yang berpendapat bahwa pendapatan dari penjualan minyak tersebut digunakan untuk membiayai perang.
Pemerintahan AS menyatakan bahwa perpanjangan pengecualian ini bertujuan untuk meredakan krisis pasokan energi yang dipicu oleh konflik. Namun, para pakar meyakini bahwa Washington tetap memiliki pandangan negatif terhadap negara-negara yang tetap membeli energi dari Rusia.
Lebih lanjut, para ahli memperingatkan bahwa ketergantungan jangka panjang pada energi Rusia dapat memperkuat posisi tawar Moskow dalam hubungan bilateral. Selain itu, hal ini juga berpotensi menimbulkan ketegangan dengan negara-negara Timur Tengah yang memiliki kontrak pasokan minyak jangka panjang dengan beberapa negara Asia Tenggara, serta menjadi sasaran serangan Iran yang bersekutu dengan Rusia.
Yohanes Sulaiman, seorang pakar hubungan internasional dari Universitas Jenderal Achmad Yani di Indonesia, menekankan pentingnya negara-negara mempertimbangkan konsekuensi jangka panjang dari keuntungan jangka pendek yang diperoleh dari pembelian energi Rusia.
Negara-negara anggota ASEAN, seperti Filipina, Malaysia, Indonesia, Vietnam, dan Myanmar, telah menunjukkan ketertarikan untuk mengimpor minyak dan gas dari Rusia. Hal ini terjadi di tengah menipisnya cadangan energi domestik di kawasan tersebut.
Situasi ini diperparah oleh potensi penutupan Selat Hormuz yang dapat memicu kelangkaan pasokan di Asia Tenggara, yang lebih dari separuh impor minyak dan gasnya berasal dari negara-negara Teluk. Akibatnya, negara-negara di kawasan ini mencari sumber energi alternatif yang tersedia, relatif dekat, dan masih terjangkau untuk mengamankan pasokan dalam waktu singkat.
Abdelaziz Albogdady, manajer riset pasar dan strategi fintech di perusahaan jasa keuangan FXEM, menjelaskan bahwa Rusia menawarkan volume pasokan yang tersedia, dengan kargo yang sudah berada di laut dan dapat dialihkan ke lokasi yang membutuhkan. Kebijakan pengecualian sementara dari AS juga membuat arus perdagangan ini tetap layak secara komersial, meskipun ada sanksi.
Namun, Albogdady juga memperingatkan bahwa ketergantungan pada pemasok yang sensitif secara geopolitik seperti Rusia dapat menimbulkan kerentanan dan memicu friksi dengan Amerika Serikat serta sekutunya. Selain itu, ketergantungan pada minyak Rusia juga meningkatkan risiko gangguan pasokan karena infrastruktur energi negara tersebut kerap mengalami kerusakan.
Muncul pula pertanyaan mengenai kecukupan cadangan minyak Rusia untuk memenuhi permintaan global. Ukraina telah melancarkan serangan terhadap infrastruktur energi Rusia di kawasan Laut Hitam dan Laut Baltik, yang berpotensi mengganggu kemampuan ekspor negara tersebut.
Muyu Xu, seorang analis senior minyak mentah di perusahaan data perdagangan global Kpler, menyatakan bahwa serangan drone Ukraina terhadap infrastruktur Rusia telah menyebabkan ekspor negara tersebut sedikit menurun. Meskipun pasar saat ini menguntungkan bagi Rusia, kapasitas riil tetap menjadi persoalan.
Washington kembali memperpanjang pengecualian yang memungkinkan negara-negara membeli minyak dan produk turunan Rusia yang telah dimuat di kapal di laut, dengan masa berlaku hingga 16 Mei. Kebijakan ini menggantikan pengecualian sebelumnya yang berakhir pada 11 April.
Langkah ini diambil setelah beberapa negara Asia mendesak Washington untuk membuka jalan bagi pasokan alternatif masuk ke pasar. Utusan khusus Presiden Rusia Vladimir Putin, Kirill Dmitriev, menyebut perpanjangan ini akan mencakup tambahan 100 juta barel minyak Rusia.
Namun, data Kpler menunjukkan bahwa sejak Maret, Filipina menjadi satu-satunya negara Asia Tenggara yang mengimpor kargo minyak dari Rusia. Manila telah meminta izin kepada AS untuk membeli lebih banyak minyak mentah Rusia, guna mengamankan pasokan untuk satu-satunya kilang minyaknya.
Meskipun negara-negara ASEAN lain juga sedang bernegosiasi untuk membeli minyak dari Rusia, Xu meragukan seberapa besar volume yang benar-benar bisa mereka peroleh. Hal ini disebabkan sebagian besar kargo sudah diserap oleh India dan China, sehingga ketersediaan menjadi kendala.
Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim menyatakan bahwa banyak negara Eropa dan Amerika yang sebelumnya menjatuhkan sanksi terhadap Rusia kini justru bersaing membeli minyaknya. Ia menekankan bahwa perusahaan minyak nasional Petronas akan bernegosiasi dengan Moskow untuk memastikan pasokan domestik Malaysia tetap terjaga.
Asrul Sani, associate vice-president di The Asia Group, menilai kunjungan Anwar ke Rusia mencerminkan sikap pragmatis Malaysia yang tidak berpihak. Namun, ia menambahkan bahwa kemampuan memperoleh minyak Rusia pada akhirnya ditentukan oleh harga dan ketentuan sanksi yang berlaku.
Arus ekspor Rusia banyak diserap oleh pembeli utama seperti China dan India, sehingga ruang bagi pasar kecil seperti Malaysia semakin sempit. Koalisi internasional telah memberlakukan batas harga minyak Rusia untuk menekan pendapatan Moskow.
Baca juga di sini: Daker Madinah Siapkan Truk untuk Atasi Bagasi Jemaah
Thailand juga telah berdiskusi dengan Rusia terkait potensi pembelian minyak mentah, dengan negosiasi yang masih berlangsung. Akses Thailand bergantung pada sisa volume setelah pembeli utama mengamankan kargo, serta apakah harganya cukup menarik.
Nithin Prakash dari Rystad Energy menyebutkan bahwa total biaya impor minyak Rusia yang lebih murah belum tentu memberikan keuntungan besar, jika memperhitungkan jarak pengiriman yang lebih jauh, biaya angkut dan asuransi yang meningkat, serta kemungkinan penyesuaian pencampuran atau pengolahan.
Presiden Indonesia Prabowo Subianto bertemu Putin di Moskow untuk membahas perang di Timur Tengah serta menjajaki kerja sama di bidang ekonomi dan energi. Pertemuan ini dilanjutkan dengan diskusi antara Menteri ESDM Indonesia dan Menteri Energi Rusia.
Indonesia telah memperoleh komitmen dari Rusia untuk memasok minyak mentah dengan “harga khusus”. Hashim Djojohadikusumo, utusan khusus Presiden untuk energi dan lingkungan hidup, menyatakan bahwa kesepakatan ini dicapai dalam pertemuan antara Prabowo dan Putin.
Namun, Fabby Tumiwa dari Institute for Essential Services Reform mengingatkan bahwa kerja sama dengan Rusia seharusnya tidak mengalihkan fokus Indonesia dari percepatan transisi menuju energi terbarukan. Ia menekankan kerentanan sistem energi Indonesia terhadap guncangan geopolitik.
Saat ini, negara-negara ASEAN pada dasarnya belum memiliki alternatif yang benar-benar layak selain Rusia untuk impor minyak. Negara-negara produsen minyak di Asia Tenggara lebih memprioritaskan pasokan untuk kilang domestik mereka sendiri.
Pembelian dari Afrika Barat, Amerika Latin, atau Amerika Serikat dinilai tidak realistis karena jarak yang terlalu jauh dan keterbatasan volume. Perang tersebut menyebabkan kehilangan pasokan minyak global yang sangat besar, sulit ditutup oleh sumber lain.
Dalam kondisi seperti ini, para analis menilai negara-negara ASEAN tidak terlalu khawatir akan implikasi dari pembelian minyak Rusia terhadap hubungan dengan Ukraina atau negara lain. Mereka melihat cadangan minyaknya turun ke tingkat kritis, sehingga kekhawatiran diplomatik bukan menjadi prioritas utama.
Tekanan domestik, seperti beban subsidi bahan bakar yang tertekan oleh volatilitas harga global, menjadi faktor yang lebih menentukan bagi negara-negara seperti Malaysia. Stabilitas harga energi menjadi prioritas politik menjelang pemilihan umum.
Beberapa anggota ASEAN yang dinilai lebih dekat dengan Rusia mulai mengambil langkah konkret. Vietnam telah menandatangani kontrak awal dengan Novatek, produsen gas alam cair terbesar Rusia, untuk pasokan dalam waktu dekat.
Myanmar juga telah membahas pengamanan pasokan minyak mentah dan produk petroleum dengan harga khusus dari Rusia, berlandaskan “persahabatan bilateral”. Myanmar dan Rusia memiliki kemitraan strategis yang erat.
Perbedaan pendekatan negara-negara ASEAN mencerminkan variasi dalam orientasi geopolitik, prioritas ekonomi, toleransi risiko, serta kemampuan masing-masing dalam mengamankan sumber pasokan alternatif.
Namun, para analis mengingatkan agar negara-negara ASEAN tetap berhati-hati dalam beralih ke minyak Rusia. Eropa akan menyatakan ketidakpuasan karena hal ini memberi Rusia dana yang dibutuhkan untuk melanjutkan serangannya di Ukraina.
Negara-negara Timur Tengah juga tidak akan menyukainya, karena Rusia merupakan sekutu Iran yang menargetkan kapal dan kilang mereka. Rusia juga dapat memanfaatkan kondisi keterdesakan negara lain untuk mendorong kepentingannya.
Para analis menilai lonjakan minat terhadap minyak Rusia ini hanya bersifat sementara. Minyak mentah Rusia masuk dalam konteks ini sebagai tambahan oportunistik ketika secara ekonomi menguntungkan, bukan sebagai pengganti jangka panjang.
Negara-negara Asia Tenggara memiliki kontrak jangka panjang untuk membeli minyak mentah dari Timur Tengah, yang jaraknya relatif dekat. Pengiriman minyak Rusia masih didominasi oleh pembeli dari China dan India.
Pada dasarnya, minyak Rusia berfungsi sebagai solusi sementara untuk menutup kekurangan pasokan. Para analis tidak melihat ada negara yang siap melakukan perubahan besar pada struktur energinya. Setelah perang berakhir, kemungkinan besar mereka akan kembali ke pola sebelumnya.






