Bengkel Muda Surabaya Rayakan 53 Tahun Berkarya

Gaya Hidup6 Dilihat

DermayuMagz.com – Bengkel Muda Surabaya (BMS) kembali menggebrak panggung seni teater kota Pahlawan dengan produksi terbarunya yang bertajuk “Skolah Skandal”. Pertunjukan ini menjadi penanda kebangkitan BMS setelah masa vakum yang cukup panjang, sekaligus merayakan ulang tahunnya yang ke-53 dengan tema “Surabaya Ayo Bicara”.

Produksi teater dari BMS memang selalu memiliki tempat tersendiri di hati para penikmat seni di Surabaya. Antusiasme publik terhadap karya-karya mereka tak pernah surut, bahkan di tengah guyuran hujan deras yang mengguyur kota pada malam pertunjukan.

Acara yang diselenggarakan selama dua hari, yakni 10 hingga 11 Desember 2025, ini berhasil menarik perhatian sekitar 250 penonton setia. Mereka rela berbasah-basahan demi menyaksikan penampilan BMS yang dimulai tepat pukul 21.00 WIB.

Suasana khidmat terasa begitu kental di dalam gedung pertunjukan. Tawa sesekali terdengar saat adegan-adegan jenaka ditampilkan, namun sebagian besar waktu, penonton larut dalam alur cerita hingga tirai ditutup pada pukul 22.00 WIB.

Kehadiran penonton yang tidak beranjak dari tempat duduknya hingga akhir pertunjukan menjadi bukti nyata bahwa seni teater masih memiliki denyut nadi yang kuat dalam denyut kebudayaan kota Surabaya.

Kembalinya Naskah yang Lama Dinanti

Naskah “Skolah Skandal” sendiri bukanlah karya baru. Lakon ini pertama kali dipentaskan pada Festival Seni Surabaya tahun 2011, di bawah arahan langsung penulisnya, Akhudiat.

Setelah pementasan perdananya, naskah ini jarang sekali diangkat kembali. Dalam catatan perjalanan BMS, produksi teater terakhir mereka sebelum jeda adalah “Perempuan Perkasa dan Skak Mat” yang digelar pada Desember 2017 di Gedung Barat Balai Pemuda.

Masa vakum yang dialami BMS setelah itu diakui oleh Ndindy Indiyati, Ketua Program BMS. Ia mengungkapkan kesulitan dalam mencari regenerasi pemain muda yang bersedia melalui proses panjang dalam berteater.

“BMS sudah lama dinanti. Tapi mencari generasi penerus itu sangat sulit. Anak-anak muda sekarang banyak yang tidak mau berproses. Maunya instan,” ujar Ndindy dengan nada prihatin, namun juga menyiratkan kelelahan dalam mengawal sanggar teater tertua di Surabaya itu.

Relevansi Naskah yang Menusuk Zaman

Sutradara “Skolah Skandal”, Heroe Budiarto, memiliki alasan kuat mengapa memilih naskah ini untuk menandai kembalinya BMS ke panggung seni. Menurutnya, naskah ini memiliki makna berlapis dan sangat relevan dengan kondisi sosial masyarakat saat ini.

Dalam cerita “Skolah Skandal”, penjara digambarkan bukan sekadar tempat menjalani hukuman, melainkan sebuah ruang transaksi kehidupan. Perubahan kekuasaan, harapan yang bisa diperjualbelikan, dan keadilan yang dilelang, semuanya digerakkan oleh kekuatan uang.

Pertunjukan ini dikemas dengan gaya yang ringan dan cair. Penggunaan kostum modern dengan warna-warna cerah menambah dinamika visual. Sentuhan tari dan lagu-lagu satire membuat pesan kritis yang disampaikan tidak terasa menggurui.

Sebaliknya, penonton diajak untuk merenungkan kenyataan yang familier, kenyataan yang mungkin terlalu dekat namun seringkali terabaikan. Lakon ini tidak hanya mengkritik institusi hukum, tetapi juga menyodorkan cermin bagi masyarakat luas.

Masyarakat seringkali berharap, seringkali kecewa, dan seringkali memilih diam. Hal ini bukan karena ketidaktahuan, melainkan karena sudah terbiasa dengan kondisi yang ada.

Kolaborasi Generasi: Senior Membimbing yang Baru

Kecermatan sutradara terlihat jelas dalam keberaniannya memadukan pemain senior dan pendatang baru dalam satu panggung. Hal ini menjadi strategi artistik sekaligus bentuk pendidikan teater yang merupakan tradisi BMS.

Pemain senior seperti Ndindy Indiyati (Wak Girah), Saiful Hadjar (Wakde Balong), dan Ipong (Kepala Polisi) menjadi pilar kekuatan dramaturga dalam pertunjukan ini.

Sementara itu, para pemain baru yang meliputi Dela (Wak Yam Cawik), Renita (Mimin), Asti (Yu Kasihani), Mauren (Ibu 1), Bilqis (Ibu 2), Rinov (Dalang & Mr Mamok Petak), dan Zain (Kepala Penjara) tampil sebagai darah segar yang mampu menyerap energi panggung dengan cepat.

Kolaborasi ini mencerminkan semangat belajar bersama, tumbuh bersama, dan menjaga api estetik agar tetap menyala lintas generasi. Heroe Budiarto mengakui masih ada kekurangan dalam produksi kali ini, namun ia merasa lega melihat konsistensi dan disiplin yang ditunjukkan oleh para pemain muda BMS.

“Setelah pertunjukan ini kita akan evaluasi. Belajar terus, belajar,” tuturnya penuh harap, menandakan komitmen untuk terus berkembang.

Menatap Tahun-Tahun Mendatang

Optimisme juga terpancar dari Jill Kalaran, anggota senior BMS sekaligus penata artistik. Ia menegaskan bahwa BMS berkomitmen untuk kembali memproduksi teater minimal satu kali setiap tahun.

Komitmen ini menjadi penanda tekad BMS untuk terus menjadi rumah, laboratorium, sekaligus mercusuar bagi para pekerja seni di Surabaya.

Sebagai salah satu sanggar teater tertua dengan akar yang kuat dalam perjalanan kebudayaan Surabaya, setiap kemunculan BMS selalu membawa gebrakan pemikiran dan perenungan.

Pertanyaan yang tersisa kini adalah apa yang akan mereka garap di tahun mendatang. Apapun itu, masyarakat seni Surabaya tampaknya siap untuk menunggu.

Baca juga di sini: Penghentian Sementara Operasional Dapur MBG Cilaku Cianjur Akibat Pelanggaran

Kehadiran BMS bukan sekadar sebuah pertunjukan, melainkan sebuah gerakan yang terus membuat kota ini berbicara. (*)